617
Pernah saya dengar, ketika kita menunjuk ke orang lain. Satu jari, biasanya telunjuk, diarahkan ke orang itu, sementara tiga jari lainnya biasanya terlipat dan menunjuk ke diri kita sendiri. Sebuah ajakan untuk introspeksi sebelum kita menuding pihak lain.

Malam ini saya berbincang lama dengan seorang teman. Obrolan dengannya selalu menyenangkan dan membuka mata hati. Kita berbincang tentang banyak hal. Namun ada satu subjek yang terus terngiang di telinga. Semoga dia berkenan saya berbagi di sini.

Kita semua familiar bagaimana rasanya apabila kita terlalu dekat dengan suatu subjek atau orang tertentu. Pandangan kita kerap tidak objektif lagi. Persepsi menjadi tak sejernih biasa. Tanpa kita sadari, kita mulai menerapkan standar ganda.

Kita terganggu saat mendengar orangtua berteriak ke anaknya atau ketika melihat seseorang berlaku kasar pada orang lain. Tetapi tanpa sadar kita pun kadang meninggikan suara ke anak atau memperlakukan orang lain dengan kurang hormat.

Kita tahu sebagai orangtua kita harus mendorong anak agar mandiri. Tapi terkadang kita tergoda untuk terlalu memanjakan dan melindungi mereka atas nama kasih sayang.

Kita mengatakan kita menghargai perbedaan yang ada di masing-masing individu. Misalnya, dalam hal agama, kecenderungan seksual, atau cara hidup. Namun bagaimana apabila salah seorang keluarga terdekat kita ingin “berbeda”? Apakah kita masih bisa memberikan penghargaan setara?

Kita sering mengatakan ke orang lain: santai saja, coba lebih menikmati hidup; jangan ngoyo gitu; sudahlah, sabar saja. Tapi apakah kita sendiri sudah sesantai itu, sudah cukup menikmati hidup, sudah tidak ngoyo, sudah cukup sabar?

Memang lebih mudah melongok ke orang lain ketimbang diri sendiri. Mungkin karena ada jarak, sehingga kita bisa melihat lebih jelas. Sementara, kita terlalu rekat dengan diri sendiri.

Pernah saya dengar, ketika kita menunjuk ke orang lain. Satu jari, biasanya telunjuk, diarahkan ke orang itu, sementara tiga jari lainnya biasanya terlipat dan menunjuk ke diri kita sendiri. Sebuah ajakan untuk introspeksi sebelum kita menuding pihak lain.

Saat standar yang kita terapkan pada orang lain dan pada diri berbeda, sebenarnya tercipta konflik bathin dalam diri. Nilai-nilai yang kita percayai belum menjadi nilai-nilai yang kita terapkan dalam keseharian.

Pada saat konflik bathin terjadi, maka yang paling merasakan dampaknya tidak lain tidak bukan adalah diri sendiri. Karena itu, ajakan untuk kembali mencermati diri ketika kita mulai menilai orang lain perlu kita dengarkan, demi kebaikan kita. Sehingga yang di luar sana selaras dengan di dalam sini. Yang kita percayai, yang kita ucapkan dan yang kita lakukan pun semua menjadi selaras.

Kalau Michael Jackson (alm) bilang, “If you wanna make the world a better place, take a look at yourself and make the change.” Apabila kita ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, lihat diri kita sendiri dan buatlah perubahan itu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tanpa Sadar, Kita Kerap Menerapkan Standar Ganda Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar