3.3K
Sambil sesenggukan, saya mulai mencoba meredakan tangisan karena takut Kakek semakin marah. Kedua tangan saya terus memeluk erat Nenek, meminta perlindungan dari amarah Kakek.

Saya masih ingat malam itu, tahun 1992. Saya mendengar suara tangisan kencang dari sebuah kamar. Dan tangisan itu ternyata berasal dari saya sendiri. Waktu itu, saya masih berusia 5 tahun. Saya terbangun dan menyadari bahwa saya baru saja tidur sendirian. Papa, yang menemani saya sebelum tidur, sudah tak ada lagi di sisi saya.

Selayaknya anak kecil yang merasa ditinggal sendiri oleh orang tuanya, saya ketakutan dan menangis histeris. Tangisan saya menyebabkan seisi rumah terbangun. Pada saat itu, keluarga kami masih tinggal di rumah kakek dan nenek.

Nenek mendatangi kamar saya dan menenangkan saya dengan suara lembutnya. “Dini, Papa lagi di rumah sakit, ya. Lagi nemenin Mama, yang mau melahirkan adiknya Dini”

Tetapi tetap saja saya nggak bisa berhenti menangis. Saya masih merasa sedih ditinggal begitu saja tanpa diberitahu.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah Kakek yang membuka pintu kamar dengan kencang. Saya nggak akan pernah bisa melupakan ekspresi wajah beliau ketika membuka pintu. Wajah yang murka penuh amarah karena merasa terganggu dengan tangisan saya.

Tanpa bisa menahan emosi lagi, beliau berteriak dengan lantang: “DINI, BERHENTI NANGISNYA! BARU DITINGGAL SEBENTAR AJA SUDAH NANGIS, GIMANA KALAU DITINGGAL SELAMANYA SAMA MAMA PAPA!"

Saya begitu terkejut. Saya shock. Saya anak kecil berusia 5 tahun yang dimarahi selagi menangis ketakutan. Dan saya mendengar perkataan bahwa saya akan ditinggal selamannya oleh Mama dan Papa--alih-alih dibuai dan ditenangkan. Sambil sesenggukan, saya mulai mencoba meredakan tangisan karena takut Kakek semakin marah. Kedua tangan saya terus memeluk erat Nenek, meminta perlindungan dari amarah Kakek.

Kejadian ini ternyata masih terekam dengan baik dalam ingatan saya. Kata orang, usia 5 tahun adalah rentang usia yang krusial di mana anak - anak bisa dengan mudah belajar ataupun mengingat suatu kejadian yang akan terus tertanam seumur hidupnya tanpa disadari.

Ucapan dari almarhum Kakek sepertinya ikut membentuk karakter saya saat ini. Walaupun dimarahi Kakek, saya harus berterima kasih kepada beliau. Saya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, dan berusaha untuk tidak bergantung dengan kehadiran orang tua. Selalu tertanam dalam benak saya bahwa bisa jadi, tanpa saya sadari suatu saat nanti, saya bisa ditinggal orang tua begitu saja tanpa permisi seperti kejadian tersebut--atau mungkin, seperti kata Kakek: selama-lamanya.

Pada saat saya berusia 11 tahun, kakek pun pernah berbincang dengan saya untuk mengingatkan bahwa saya harus bisa berdiri sendiri. Untungnya, kali ini beliau tidak dalam kondisi marah-marah seperti sebelumnya.

Saya pun memutuskan untuk merantau dari usia pertengahan 14 tahun, dan sampai sekarang, saya masih hidup jauh dari orang tua. Half of my life, I've been living on my own. Bukan perkara besar buat saya, karena Kakek sudah menyiapkan saya untuk hal ini ketika Beliau membuat saya berhenti menangis bertahun-tahun lalu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tangisan Saya, Amarah Kakek, dan Mengayuh Hidup Sendiri.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Farah Novita | @farahdini

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar