3.3K
Ketika melihat perilakunya yang membuat saya tak nyaman, terlintas bahwa saya tidak ingin menjadi seperti itu. Saya memilih kebaikan.

Semalam, saya ikut meramaikan lalu lintas di suatu jalan menyempit akibat konstruksi. Sebuah mobil di sebelah kanan terasa agresif menyeruduk mempersilakan dirinya maju.

Kaget, keluarlah umpatan dari saya. Panas juga rasanya. Mobil itu lantas menyalip di depan mobil tepat di muka saya. Rasanya ingin berteriak menyuruh mobil di depan untuk tidak memberi jalan.

Begitu umpatan tadi keluar, tetiba saya tersadar akan proses di diri saya. Panas ketika ingin menyuruh mobil untuk tidak mengalah pun saya cermati, tapi semua masih mengalir seakan tak tertahankan.

Setelah itu, saya mulai tenang. Untuk menghindari interaksi yang bisa memicu saya lebih lanjut, saya terinspirasi untuk berbelok memasuki salah satu jalan alternatif. Ternyata si mobil juga belok. Sejenak saya berpikir, ikut belok sesuai dengan inspirasi atau memilih jalan lain. Saya memutuskan untuk tetap belok.

Sekarang mobil ada tepat di depan saya. Ia melaju dengan kecepatan yang menurut saya terlalu tinggi untuk jalan yang sekecil itu dengan penerangan jalan temaram.

Terlintas dalam hati: "Saya tidak ingin seperti kamu. Saya memilih untuk tidak berperilaku seperti itu." Saya memperlahan laju kendaraan senyaman saya. Kami terpisah. Sang guru sudah melanjutkan perjalanan.

Saya pernah dengar bahwa sesuatu disebut kebiasaan ketika kita masih belum menyadarinya. Ketika kita mulai menyadari apa yang kita lakukan, maka hal itu tidak lagi menjadi kebiasaan. Ia sudah menjadi sebuah pilihan.

Jadi kurang tepat apabila kita mengatakan "Itu memang kebiasaan burukku", seolah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Karena bila kita sudah menyadari sikap atau tindakan kita, maka kita sebenarnya secara sadar memilih melakukan hal tersebut. Dengan demikian, kita bertanggung jawab penuh atas pilihan sikap atau tindakan kita.

Terkait soal pilih-memilih, saya juga pernah mendengar kutipan dari Dalai Lama yang mengatakan: bila memungkinkan, pilihlah kebaikan. Dan itu selalu mungkin. Whenever possible, choose kindness. It is always possible.

Semoga kita diberikan kesadaran dan keberanian untuk selalu memilih kebaikan. Ramadhan kariim.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Suka dengan Perilaku Orang Lain? Memilihlah untuk Tak Berperilaku Sama.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar