3.1K
Banyak ambisi dan keinginan yang seringkali membuat kita tak kunjung merasa cukup dengan hidup, tak peduli seberapa tinggi jabatan, seberapa banyak tabungan, seberapa melimpah properti dan pundi-pundi yang telah kita kumpulkan. Kita hanya tak pernah merasa cukup, tak pernah puas dengan hidup, hingga akhirnya maut menjemput.

Beberapa hari lalu, Ibu menelpon dari kampung halaman. Isi perbincangan saya dengan ibu biasanya seputar kabar seputar keluarga, kerabat, atau tetangga. "Lia, Ii Mei-Mei meninggal," ucap ibu saya dengan sedikit iba. Saya terkejut dan terdiam sesaat.

Selintas, sosok perempuan tua dengan rambut putih yang selalu menggunakan sepeda tua berkelebat di kepala saya. Wajahnya selalu penuh senyum, memamerkan deretan gigi-gigi depan yang sebagian sudah ompong.

“Hati-hati ya, Nak!” serunya dengan riang ketika kami bertemu di gang dekat rumah sesaat saya akan keluar untuk jalan pagi. Itu kali terakhir pertemuan singkat saya dengan dia.

Saya tak pernah punya kesempatan mengenal sosok Ii Mei ini dengan lekat. Saya hanya tahu, beliau seorang perempuan ramah yang giat bekerja dan tekun. Mengerjakan segala remeh-temeh pekerjaan dengan sepeda kunonya: mengantarkan anak tetangga, membantu membelikan makanan, membersihkan rumah tetangga, apa saja. Dari gayanya, saya tahu beliau orang yang tidak bisa diam, dan amat cekatan. Selebihnya saya tak tahu menahu.

"Kena kanker usus, sudah masuk RS dari seminggu lalu. Kasihan ya. Kerja keras begitu padahal nggak punya anak dan sebenarnya rumahnya ada tiga. Cari apa lagi, coba?" cerocos Ibu masih setengah tak percaya dan setengah menyayangkan.

Fakta dan pertanyaan terakhir yang dilontarkan ibu membuat saya ikut bertanya-tanya:

Sebenarnya apa yang dicari manusia dalam hidup?

Ibu masih terus bercerita, betapa Ii Mei-Mei di akhir-akhir hidupnya tak lagi punya semangat hidup. Tak mau lagi berbicara, tak mau makan, dan selalu menutup matanya. Banyak gunjingan tentang mengapa dia bersikap seperti ini. Tentu salah satunya penyesalan tentang betapa dia tak pernah menikmati setiap bilur keringatnya. Dia bahkan belum pernah melakukan perjalanan ke negara lain, meskipun ia mampu jika menginginkannya.

Teringat saya cerita tentang nelayan kecil dan juragan ikan dengan perahu besarnya. Sang nelayan yang sedang tidur siang dikejutkan oleh hardikan sang juragan ikan. Singkat cerita, juragan ikan menyuruh nelayan untuk bekerja lebih giat. Supaya bisa menangkap lebih banyak ikan untuk lantas membeli kapal yang lebih besar dan banyak.

Namun, si nelayan kecil ini dengan santai hanya menjawab, “Lalu apa yang akan saya lakukan dengan kapal besar dan banyak yang saya punya?” Juragan ini pun menimpali, “Kamu bisa bersantai-santai menikmati hidup seperti saya.” Nelayan kecil yang tadinya sedang tidur siang karena telah menangkap cukup untuk makan hari itu lantas menjawab, “Tuan kira, sekarang ini saya sedang apa? Untuk apa saya menunggu punya banyak uang dan kapal, jika saya bisa menikmati hidup sekarang?”

Hal ini yang rasa-rasanya sering luput dari pemikiran kita. Banyak ambisi dan keinginan yang seringkali membuat kita tak pernah merasa cukup dengan hidup, tak peduli seberapa tinggi jabatan, seberapa banyak tabungan, seberapa melimpah properti dan pundi-pundi yang kita telah kumpulkan. Kita hanya tak pernah merasa cukup, tak pernah puas dengan hidup, hingga akhirnya maut menjemput.

Mungkin saat kita mampu memahami batas tentang apa-apa, dunia akan lebih mudah diterima dan dinikmati. Saya ingin percaya bahwa Ii Mei-Mei sesungguhnya bahagia dengan semua kesibukannya selama ini. Saya ingin percaya bahwa kesibukannya itu justru memberikan makna bagi hidupnya: mungkin ia hanya ingin terlibat dan memberikan arti bagi kehidupan banyak orang.

Kamu, apakah telah merasa cukup dengan hidupmu? Sudahkah kamu menikmati hidup dan menjadikannya berarti bagi dirimu?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Kunjung Merasa Cukup dengan Hidup: Bisakah Kita Menikmati Hidup yang Berarti, Kini dan Nanti?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?