2.2K
Tak apa mengatakan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja saat merasa begitu. Bukan untuk menuruti ego, namun terkadang kita memang perlu jujur pada diri sendiri.

Saya lelah berpura-pura baik-baik saja saat semua yang ada di sekitar saya berjalan seperti tidak seharusnya.

Saat mereka yang saya sayangi harus meninggalkan saya, saat kaki saya diinjak orang lain di kereta, saat saya harus menunggu antrian lalu disela semena-mena, dan saat paket yang saya tunggu tak kunjung datang karena kurir salah alamat.

Ya, saat mereka berkata: "Maaf, ya, Mbak. Nggak apa-apa, kan?" rasanya saya ingin bilang: sakit, tahu. Punya mata nggak, sih? Bisa lebih teliti dan disiplin, nggak? Tapi yang keluar dari mulut saya adalah: "Iya, nggak apa-apa." Dan saya masih bisa menyunggingkan senyum walau rasanya kecut sekali.

Menahan sedikit rasa sakit, amarah, dan kecewa terhadap orang yang tidak kita kenal sepertinya jauh lebih mudah daripada menahannya terhadap orang yang kita kenal atau bahkan kita sayangi.

Beberapa bulan lalu, seorang teman yang telah menghilang dari kehidupan saya selama 4 bulan datang kembali. Dulu ia menghilang tanpa penjelasan ataupun kata maaf, dan saat kembali, ia memulainya dengan pertanyaan: "Kamu baik-baik saja, kan?"

Entah apa yang saya rasakan saat itu. Amarah, kecewa dan sakit hati, mungkin. Tapi yang keluar dari mulut saya adalah: "Iya, saya baik-baik saja."

Entah, apa sesulit itu bagi saya untuk mengucapakan bahwa saya tidak baik-baik saja saat dia pergi tanpa alasan. Saya sakit hati , saya marah, dan rasanya saya ingin menumpahkan semua kecewa saya di hadapannya. Tapi saya tidak bisa. Saya tidak terbiasa membuat orang lain tidak nyaman. Saya tidak biasa untuk mengungkapkan sebuah kekecewaan. Mungkin karena itu teman saya ini melakukan hal yang sama lagi, dan lagi, seakan setiap kali ia pergi tanpa alasan, ia yakin bahwa saya akan baik-baik saja.

Hingga beberapa minggu lalu, ketika ia kembali melakukan hal yang sama, untuk pertama kalinya saya berkata bahwa saya tidak baik-baik saja. Saya tidak suka diperlakukan seperti itu, saya tidak suka jika ia menghilang tanpa kata, saya tidak suka dengan pertanyaan, "Kamu baik-baik saja, kan?" yang selalu keluar dari mulutnya.

Rasanya jauh lebih baik saat saya bisa mengatakan saya tidak baik-baik saja. Sebuah perasaan yang biasa diredam dalam diri seperti bisa mengalir dengan seharusnya. Saya tahu, saya masih bisa menyampaikannya dengan bahasa yang lebih baik lagi, dan tanpa amarah. Namun, saat itu, rasanya cukup untuk akhirnya bisa menyampaikan apa yang selama ini saya rasakan.

Tak apa mengatakan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja saat merasa begitu. Bukan untuk menuruti ego, namun terkadang kita memang perlu jujur pada diri sendiri. Kenyataannya, kita tidak selalu baik-baik saja, dan itu tak mengapa.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tak Apa Berkata Bahwa Kita Tidak Sedang Baik-baik Saja.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Titik Rahayu | @tikkrahayu

seorang kidal yang gemar bermimpi

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar