2.7K
Ibu, jika anakmu menjadi ibu rumah tangga, apakah engkau siap?

Ibu, jika suatu hari anak perempuanmu berkata, "Bu, aku tidak bisa lagi bekerja." Apakah engkau siap?

Ibu, jika suatu hari anak perempuanmu berkata, "Mulai besok, aku akan di rumah sepanjang waktu menemani cucumu yang lucu!" Apakah engkau siap?

Ibu, anak perempuanmu itu, akan menyimpan ijasah, sekaligus titelnya yang berderet dua di sudut rumahnya yang tersembunyi. Tidak akan engkau dengar lagi orang menyebutkan namanya dengan benar, apalagi lengkap dengan deretan gelar akademik. Namanya hanya sepotong, lantas ia dikenal sebagai nama lain yang tersemat dibelakangnya.

Ibu, jika asamu yang tinggi itu menghilang pada si gadis kecil yang engkau banggakan atas prestasi atau apapun itu yang bisa diakui banyak orang, yang kini hanya meninggalkan jejaknya yang samar, apakah engkau siap?

Ibu, anakmu ini, yang menjadi ibu rumah tangga, tidak akan mendapatkan gaji tinggi, gajinya sendiri. Tabunganya mungkin tidaklah banyak. Ia bahkan bisa jadi alpa membelikanmu hadiah saat Lebaran tiba. Ia mungkin akan memperhitungkan banyak hal saat engkau meminta bantuan. Sungguh, Bu, bukan maksud anakmu ini tidak menurut lagi.

Ibu, anakmu ini tidak sewangi dan seelok perempuan lain yang bekerja dan menjinjing tas serta bersepatu tinggi tiap pagi. Meski ia sudah berusaha rapi dan bersiap secantik mungkin, tapi tidak ada yang melirik kecuali sang suami, dan tentu saja si kecil yang setia menggelayuti. Bajunya nyaris sama: gaun sederhana. Aromanya pun nyaris tidak berubah, aroma bedak bayi bercampur peluh dan aroma masakan.

Ibu, anakmu ini bisa jadi tidak tahu adanya berita inflasi, politik praktis, perburuhan, atau sekedar tren karyawan baru di kantor. Otaknya sedang sibuk mencari bagaimana merapikan rumah di tengah simulasi badai yang dihasilkan satu, dua, atau tiga balita yang kelebihan energi. Barangkali tidak ada cukup waku baginya untuk sekadar membaca berita atau mencari tahu urusan dunia. Hati dan energinya semua tercurah untuk dapur, anak-anak, dan suami.

Ibu, anakmu ini bisa jadi bukan perempuan yang bisa dibanggakan dan diceritakan di depan keluarga, kerabat, atau kawan lama. Anakmu tidak berkedudukan tinggi di kantor yang mewah, ia tidak bergaji, dan tak bisa dikategorikan sebagai anak yang “sukses” jika ukurannya adalah materi. Bahkan bisa saja, Ibu kelu menyebutkan profesi anakmu ini. Lalu kata-kata dan pertanyaan entah bernada nyinyir, ingin tahu, atau bahkan iba, datang silih berganti: "Mengapa bisa begitu? Apakah tidak sayang pendidikannya?"

Ibu, tapi tahukah engkau, bahwa mungkin setiap pilihan ada ujiannya. Kadang anakmu juga tidak konsisten, kadang imannya turun sampai pada tingkat paling bawah.

Ada kalanya, anakmu juga ingin menyerah. Ingin melepaskan status menjadi ibu bekerja di rumah, dan menjadi ibu berkarya di luar; dikenal banyak orang karena karirnya yang cemerlang. Berpenampilan rapi dan wangi, dipuji karena hebatnya ia membagi waktu: sukses di dalam rumah dan sukses di luar rumah.

Ada kalanya, anakmu ingin menyerah. Menyerah pada mimpi-mimpi yang pernah ia rajut dan punya. Pada mimpi itu, ia merasa telah berkorban banyak, dan untuk mimpi itu mungkin para orang tua banyak menitipkan asa. Ia mengorbankan masa mudanya.

Bila rupiah tak lagi banyak yang masuk pundi-pundi pribadi, bila deretan prestasi dan sertifikat keteladanan yang diakui tak mungkin ia peroleh, bahkan bila menyebut profesinya saja tak sedikitpun tercetus rasa bangga, maka bisakah Ibu biarkan saja anakmu memilih jalannya?

Biarkan saja, tak apa-apa. Semoga kelak anakmu menemukan jalan hidup yang dicintainya sepenuh hati, apapun jalan yang dipilihnya itu. Pilihannya bisa berubah, bisa pula tidak. Bisa jadi ia lelah di rumah, tetapi setelah beberapa lama kembali merindukannya.

Maka, bisakah Ibu biarkan saja? Biarkan saja, tak apa-apa.

Ibu, maafkan anakmu, ya.

Maakan anakmu yang jadi ibu rumah tangga.

Meski kata maaf sebenarnya bukanlah kata yang tepat, karena anakmu tidak melakukan kesalahan. Ia hanya mengambil sebuah pilihan yang mungkin tidak sejalan dengan yang diharapkan Ibu dan orang-orang.

Ibu, menjadi ibu rumah tangga berarti anakmu bisa menemani cucumu sepanjang waktu. Merawatnya, membersamai setiap langkahnya, melihatnya tumbuh secara langsung, dan hal ini membuatnya bahagia.

Ibu, menjadi ibu rumah tangga berarti ia bisa memiliki lebih banyak waktu untuk dirinya dan suaminya. Dan anakmu ini pun masih bisa menjadi apapun yang ia mau, suatu hari nanti, ketika saatnya tiba.

Jika anakmu memilih menjadi ibu rumah tangga dan menikmati pilihannya, bisakah Ibu menerimanya? Siapkah Ibu melepaskan mimpi Ibu tentang anak perempuan Ibu--dan membiarkan anakmu memilih mimpinya sendiri, meskipun mimpi itu adalah menjadi ibu rumah tangga?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Surat untuk Ibu: Dari Anakmu, Seorang Ibu Rumah Tangga.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Woman, kids, and parenting enthusiasm

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar