683
Aku tak akan lelah menanti sampai tiba waktunya hatiku utuh kembali.

Nak, bagaimana kabar kalian? Sedang apa di sana?

Kalau kalian masih ada di sini, Ibu pasti sedang sibuk mencari-cari sekolah mana yang cocok untuk kalian. Bingung karena kalian, meski kembar, pasti menginginkan suasana sekolah yang berbeda. Seharusnya, tahun depan kalian sudah masuk SD. Kakak pasti lebih ingin sekolah yang dekat dengan alam dan banyak aktivitas luar ruangan. Sedangkan Adik, seperti ibu, lebih ingin duduk di kelas, membaca dan menulis. Tapi, kalian juga pasti tak ingin dipisahkan. Ingin terus bersama-sama seperti dulu ketika kalian masih berenang-renang di perut Ibu.

Juga seperti sekarang, bersama-sama berada di sana.

Ibu sendiri masih di sini. Masih membuka mata pada matahari yang sama. Ibu kira, Ibu hanya perlu bertahan satu-dua hari saja tanpa kalian. Namun, satu-dua hari itu telah merentangkan diri menjadi satu-dua minggu, satu-dua bulan, hingga tanpa terasa terajut menjadi tepat lima tahun lebih lima bulan. Sungguh Ibu telah meremehkan kuasa Tuhan.

Lima tahun lebih lima bulan yang lalu, Ibu baru tahu, bahwa hati bisa hancur sedemikian rupa. Kepingannya bisa berserak berantakan dan Ibu harus mengaisnya, satu demi satu, dan merangkainya kembali agar bisa bertahan di sini.

Sejak itu, hari-hari tak pernah sama lagi. Ah, Ibu ini ngomong apa? Memang tak ada satu hari pun yang persis sama dengan yang lainnya, kan? Mungkin hari-hari tidak berubah. Mungkin Ibu yang berubah. Atau mungkin Ibu justru kembali menemukan diri Ibu yang dulu?

Mungkin yang Ibu kumpulkan selama ini tak seluruhnya kepingan-kepingan lama milik Ibu sendiri. Mungkin di antaranya ada kepingan-kepingan yang sepenuhnya baru, milik berbagai jiwa yang menemani ibu selama lima tahun lebih lima bulan. Entahlah.

Akan tetapi, sebanyak apa pun kepingan yang berhasil Ibu kumpulkan, rasanya hati Ibu tidak akan pernah lengkap lagi. Ada bagian-bagian yang hilang entah di mana dan entah kapan bisa Ibu temukan. Mungkin nanti, saat kita berkumpul kembali. Entahlah.

Sesering apa pun orang bilang bahwa kalian lebih baik berada di sana, Ibu tetap mendambakan kalian ada di sini. Dan sekuat apa pun Ibu berdoa, meminta kalian kembali menemani Ibu di sini, hal itu tak akan terjadi. Sejatinya, kalian memang tak akan pernah jadi milik Ibu. Kalian hanya titipan. Yang dulu tak mampu Ibu jaga dengan baik. Namun, sebesar apa pun penyesalan Ibu atas segala hal yang tidak sempat Ibu lakukan demi mempertahankan kalian, tak akan kuasa memutar ulang waktu. Jarak sebatas tali pusar itu kini telah terbentang antara hidup dan mati.

Meski singkat waktu kita hidup berdampingan di dunia, kalian adalah hal terbaik yang pernah Ibu alami. Meski mungil tubuh kalian saat dulu mendiami perut Ibu, kalian telah mengajarkan Ibu hal-hal yang lebih besar dari yang pernah dilakukan orang-orang dewasa dalam hidup Ibu.

Kalian telah menunjukkan apa yang dulu Ibu kira adalah batas kemampuan Ibu, dan membuktikan bahwa Ibu bisa melampauinya.

Kalian menjadi pengingat bahwa setiap hal dalam hidup ini hanyalah pinjaman, yang sewaktu-waktu harus kita kembalikan.

Kalian mengajarkan Ibu betapa berharganya setiap detik dalam hidup kita, dan tak seharusnya Ibu menyia-nyiakannya.

Kalian mengingatkan Ibu bahwa hanya ada satu cara untuk menghidupi hidup, yaitu dengan berjuang sepenuh daya dan upaya, dan kalian lah kekuatan Ibu.

Kalian membuktikan bahwa kesempatan kedua benar-benar ada, dan kalian memberi kesempatan Ibu menjalaninya.

Kalian meyakinkan Ibu bahwa surga pasti ada, dan kalian ada di sana menunggu Ibu, dan kita akhirnya akan kembali bersama. Nanti.

Sementara itu, Ibu masih di sini; mencari, mengais, memunguti kepingan-kepingan hati sampai tiba waktunya utuh kembali.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Surat untuk Anakku, Kepingan-kepingan Hatiku.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Anastha Eka | @anasthaeka

Manusia yang menulis. Tak ingin jadi apa-apa, tapi ingin merasakan segalanya.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar