6.6K
Memiliki kamu membuat Ibu menjadi pribadi yang berbeda. Ibu harus tahu banyak hal yang sebelumnya Ibu tidak pernah tau sepanjang hidup Ibu.

Anakku sayang,

Tahukah kamu seperti apa sensasi kebahagiaan yang Ibu dapatkan ketika Ibu mengetahui kehadiranmu di rahim Ibu? Hampir semua orang yang Ibu kenal Ibu beri tahu. Sekadar ingin berbagi bahagia.

Bulan demi bulan berlalu, dan seperti orang hamil pada umumnya, Ibu pun mulai mengalami mual-mual. Mual yang seringkali membuat Ibu kehilangan selera makan dan bercanda. Bulan kelima, Ibu tahu bahwa kamu adalah anak laki-laki.

Kamu tahu perasaan saat Ibu mengetahuinya?

Kembali Ibu bahagia!

Bagi Ibu, memiliki anak laki-laki adalah doa yang dikabulkan. Bukan, bukan lantas Ibu tak akan berbahagia jika ternyata Ibu mendapatkan anak perempuan. Tapi, barangkali ini obsesi kecil Ibu, yang ingin memiliki anak lelaki yang dalam bayangan Ibu, akan melindungi Ibu dan adik-adiknya kelak.

Maaf, Nak. Bukannya Ibu bermaksud membebani kamu.

Memiliki kamu membuat Ibu menjadi pribadi yang berbeda. Ibu harus tahu banyak hal yang sebelumnya Ibu tidak pernah tau sepanjang hidup Ibu. Ibu harus tahu tentang bermain bola, membuat pesawat, bercerita tentang bangunan, dan hal-hal yang tidak pernah Ibu bayangkan sebelumnya. Ibu senang. Senang karena Ibu akhirnya mendapatkan pengalaman baru; meski Ibu tersendat-sendat. Maafkan Ibu, Nak. Ibu juga baru pertama kali belajar semua ini saat menemanimu.

Suatu saat nanti, kamu akan memakai seragam merah putih. Saat itu, mungkin kamu enggan Ibu peluk atau gandeng kemanapun lagi. Kamu akan memiliki banyak teman dan aktivitas untuk menghabiskan energimu yang selalu berlebih. Kemudian, kamu akan memakai seragam putih biru, sebuah fase penting bagi anak laki-laki yang mulai mandiri.

Bahkan, barangkali, saat inilah kamu pertama kali mengenal “cinta”. Mengenal perasaan istimewa kepada perempuan selain Ibu. Saat itu, Ibu akan duduk berdua denganmu di beranda. Sambil mendengarkanmu bercerita panjang-lebar mengenai sang teman berlesung pipi. Pipimu bersemu merah.

Lalu nasehat Ibu akan sama dengan Ibu lain di dunia, belum sungguh-sungguh menerima dirimu yang beranjak remaja. Belumlah lagi waktu jatuh cinta itu tiba untuk kamu, Nak. Kamu masih terlalu kecil untuk mendefinisikan perasaan itu sebagai cinta. Esok lusa, kamu akan lupa jika memang harus lupa. Kamu mungkin tertawa dan mengiyakan, lalu memeluk Ibu, dan mengatakan: Ibulah cinta pertamaku. Ibu masih perempuan paling cantik di dunia. Maka, giliran Ibu yang tersipu malu.

Beberapa purnama berlalu, maka saatnya kamu mengenakan seragam putih abu-abu. Sebuah seragam yang akan mengukir banyak kenangan. Karena saat itu, kamu sudah bisa berpikir lebih matang. Kamu akan mengukir prestasi, bisa jadi bukan akademis, tapi prestasi atas kebaikan-kebaikan yang selalu menyertaimu. Lesung pipi di kedua pipimu dan matamu yang bersinar terang akan membawamu memiliki banyak kawan.

Masa-masa ini adalah masa transisimu dari remaja menuju dewasa. Barangkali, kamu akan temukan teman-teman dalam pergaulan yang mengajakmu melakukan hal-hal yang tidak pernah ada dalam kamus kebaikan keluarga kita. Maka, ingatlah wajah Ibu dan Bapak. Ingatlah bahwa masih banyak hal lain yang lebih baik yang bisa kamu lakukan dan hasilkan. Ingatlah masih banyak karya yang bisa kamu ciptakan dan membuat dunia mengenalmu karena karya nyata yang penuh manfaat bagi sesama.

Barangkali, di masa ini kamu juga akan menemukan 'dia' kembali. Seorang perempuan dengan kata-kata yang cerdas dan tegas. Kamu mungkin akan sering bersamanya, dalam berbagai kegiatan sekolah. Atau bisa saja kamu hanya mampu melihatnya dari jauh. Maka tidak apa-apa, anakku. Kenalilah teman laki-laki atau perempuan sebanyak-banyaknya. Pilihlah yang banyak membawa kebaikan sebagai teman baikmu. Karena teman-teman terdekatmulah yang akan turut menentukan jalanmu.

Masa kuliah pun tiba. Kamu akan berpamitan pada Ibu dan Bapak untuk meninggalkan rumah. Ibu akan memelukmu erat dan berpura-pura tegar. Padahal saat itu Ibu pasti tidak rela melepas anak laki-lakinya ke dunia nyata. Sendirian, tanpa Ibu yang menyiapkan baju, tanpa Ibu yang menemanimu makan di meja makan, dan tanpa Ibu yang ada di sampingmu ketika kamu demam.

“Aku akan baik-baik saja, Bu...”

Kata-katamu menenangkan Ibu. Lalu dunia perkuliahan yang bebas dan terasa penuh tantangan akan mencuri waktumu bersama Ibu. SMS atau telepon Ibu barangkali hanya kamu balas sesempatnya. Puluhan kegiatan menanti. Puluhan proyek dan tugas menunggu untuk diselesaikan.

Kamu akan jarang pulang. Bahkan ada saatnya Ibu akan datang ke tempatmu diam-diam, lalu tidak menemukanmu di sana karena kesibukan kamu. Ibu akan menitipkan kata rindu ke teman satu kosanmu. Lalu saat kamu pulang dan memeluk Ibu, itu adalah hari paling membahagiakan yang Ibu punya. Kamu akan bermanja dan bercerita banyak dengan Ibu. Meski cerita itu sudah bukan lagi menjadi bagian kehidupan Ibu. Ibu tidak tau banyak tentang duniamu yang baru.

Lalu, saatnya pun tiba. Kamu akan datang membawanya. Perempuan anggun dengan mata yang cerdas. Tutur katanya baik dan senyumnya selalu mengembang. Kamu pun merona jika kami goda. Kamu jatuh cinta.

Kali ini, Ibu akan tahu jika kamu benar-benar jatuh cinta: karena kamu sudah berani membawanya ke hadapan Ibu. Barangkali Ibu akan cemburu atau merasa terintimidasi. Barangkali Ibu akan menangis dalam diam karena merasa takut kehilangan; sekaligus haru karena akhirnya kamu mendapatkan perempuan yang sesuai. Perempuan yang baik. Perempuan yang akan menemani perjalananmu, sekaligus perempuan yang akan 'mengambilmu' dari Ibu.

Maka, saat pernikahan pun tiba. Kamu terlihat gagah. Kamu memegang erat tangan Ibu, memohon ijin dan restu Ibu. Lalu Ibu mencium keningmu dan mendoakan segala kebaikan untuk kehidupanmu bersama pasanganmu. Kemeriahan pesta berlalu, dan kamu memulai kehidupan dan kesibukan yang baru, membangun keluargamu.

Ibu? Barangkali Ibu akan kesepian dan diam-diam merindukanmu. Karena tidak mungkin bagi Ibu untuk selalu menghubungimu. Tidak akan sebebas dulu lagi rasanya bagi Ibu untuk bisa memeluk anak laki-laki kesayangan Ibu setiap waktu. Tidak akan lagi banyak kesempatan untuk Ibu dan kamu duduk berdua di beranda saling bertukar cerita.

Rasa rindu itu pun akhirnya Ibu simpan saja. Sampai akhirnya kalian sekeluarga beserta cucu Ibu akan datang saat Hari Raya tiba. Rasanya, ah, segala akan Ibu masak dan sajikan untuk kalian. Tidak ada habisnya.

Nak, pegang tangan Ibu dan Bapak erat. Kita akan bersama-sama menghadapi hidup sampai saat-saat itu datang.

Semoga Yang Maha Kuasa melimpahkanmu kehidupan yang baik. Jadilah manusia yang bermanfaat bagi sesama, karena manfaatmu itulah yang menjadikan kamu istimewa.

Cium sayang,

Ibu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Surat untuk Anak Lelakiku: Manfaatmulah yang Menjadikanmu Istimewa". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Seorang perempuan dalam perjalananya menjadi Bahagia dan berguna

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Iklas Arobi | @iklasarobi

Ibu <3