3.8K
Kita tahu bahwa kita telah sungguh-sungguh mencintai ketika kita siap melepaskannya.

Ia tak berkeberatan seandainya pasangan yang dicintainya hendak meninggalkannya.

Buatnya, cinta itu seperti udara yang bisa dihirup dan dihembuskan lagi oleh siapa saja, secara cuma-cuma. Udara yang dikemas dalam sebuah tabung oksigen malah menunjukkan bahwa orang yang tengah menghirupnya tentu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Ia tahu, cinta bisa datang dan pergi seperti udara. Ketika datang, nikmatilah semuanya dan reguk sebanyaknya selagi ada, dan ketika pergi, syukurilah semua kenangan yang pernah singgah dan selalu bisa kau putar ulang jika kau menginginkannya.

Ia tahu, cinta tak bisa dipaksa. Dan tak bisa memaksa. Karena cinta adalah rasa. Dan kau tak akan pernah bisa mengendalikan rasa; meski kau bisa mengendalikan raga. Meski kau bisa menulis skenario mengenai apa yang bisa kau perbuat untuk meluapkan atau meredam rasa, isi hati tak akan pernah bisa dipungkiri oleh dirimu sendiri.

Bahkan kau juga tahu itu.

Ia juga tahu, bahwa cinta sejatinya tak dapat diikat. Cinta itu cair, dan karenanya, tak akan pernah bisa sungguh-sungguh kau genggam.

Ya, sekarang juga, pergilah ke bak mandi dan ambillah segenggam air. Genggam kuat-kuat, dan apa yang terjadi ketika semuanya mengalir pergi meninggalkan telapak tanganmu dan menetes dari sela-sela jemarimu? Hanya sensasi rasa basah yang tersisa, yang akan mengering sendiri ketika tertiup angin atau ketika kau gesekkan ke atas permukaan kain.

Ia tahu, cinta tak bisa diberi tali. Cinta, yang tak pernah mengenal kata "harus" dalam kamus, datang dan pergi sesuka hati. Ketika cinta datang menghampiri dua insan pada waktu yang bersamaan, mereka berjalan bersisian. Ketika cinta pergi diam-diam meninggalkan salah satu—atau keduanya, mereka berpisah di persimpangan.

Hidup ini adalah serangkaian pertemuan dan perpisahan yang tak ada habisnya. Bahkan kematian pun tak bisa menghentikannya: jasad masih terus 'hidup' menggemburkan tanah yang kemudian merekahkan bunga-bunga berwarna-warni indah.

Ia tidak akan mengatakan ‘tidak’ seandainya pasangannya memilih pergi. Kehilangan telah mengajarinya bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sungguh-sungguh ia miliki. Jadi, ia siap mencintai--dengan kesadaran bahwa suatu hari nanti, ia mesti melepaskan semua. Ketika waktunya tiba.

Kesementaraan membuatnya rajin mengumpulkan kenangan dan menikmati setiap momen yang melintas tanpa menunda, selama kurun waktu yang masih tersisa. Entah untuk berapa lama. Tapi, apa lagi yang bisa ia lakukan selain bersyukur atas rasa yang telah diperkenalkan kepadanya?

Jadi, siapkah kita melepaskan cinta jika waktunya tiba?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Siapkah Kita Melepaskan Cinta Jika Waktunya Tiba?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar