5.2K
Mana yang lebih menyakitkan: mengatakan sesuatu dan berharap tak pernah mengatakannya; atau tak mengatakan sesuatu dan berharap kita pernah mengatakannya?

Kunci dalam segala hubungan adalah komunikasi yang baik.

Seringkali hal tersebut digaungkan dan diingatkan kepada kita dalam berbagai kesempatan.

Membangun komunikasi yang baik mungkin untuk beberapa orang bisa dilakukan dengan mudah. Terlebih bila dua orang yang berada dalam hubungan sama-sama menyadari arti pentingnya komunikasi sebagai salah satu landasan awal dalam sebuah hubungan.

Dalam kehidupan pernikahan khususnya, masalah komunikasi selalu menjadi dalih dalam setiap pertengkaran. Masing-masing pihak biasanya terlalu jumawa untuk mengalah dan merendahkan ego sehingga percikan pertengkaran dapat menjadi api yang membakar hubungan tersebut.

Namun, sejauh mana kita dapat berkomunikasi baik dengan pasangan kita?

Apakah kita benar telah melakukan komunikasi dua arah yang tepat? Apakah komunikasi tersebut membuat kita semakin percaya dan yakin pada pasangan kita? Saya teringat seorang kawan yang mengatakan pada saya:

Which hurts the most : saying something and wishing you had not--or saying nothing and wishing you had?

Seringkali kita berharap adanya kejujuran dalam komunikasi. Kita berharap agar tidak ada hal yang disembunyikan; entah baik atau buruk. Dan ketika kebohongan itu terjadi, selalu ada pihak yang akan merasa tersakiti.

Terkadang kita menganggap telah melakukan kebohongan demi kebaikan.

Namun, ketika kebohongan itu terungkap, sebenarnya siapakah pihak yang mendapat keuntungan dari kebohongan ini? Toh yang dibohongi tidak merasa gembira, justru terkadang merasa sedih karena ada perasaan kecewa, tidak percaya, atau rendah diri. Dalam keseharian kita, white lies ini juga merupakan salah satu alasan banyak pasangan bertengkar.

Lalu, bagaimana ketika justru pasangan kita berani mengungkapkan kesalahannya? Berani berkata jujur akan keburukan yang telah dilakukannya? Lebih siapkah kita? Atau dengan dalih yang lain, kita memilih tidak mendengar dan menutup mata, beranggapan bahwa pasangan kita adalah manusia tanpa cela yang tidak mungkin melakukan keburukan?

Proses penerimaan dan pengungkapan kejujuran ini membutuhkan hati yang besar.

Tidak jarang, ketika hal ini diungkapkan maka akan terjadi pertengkaran yang tidak dapat dielakkan. Bayangkan saja, sosok yang kita percaya kemudian melakukan hal yang bisa jadi sangat kita benci.

Perasaan marah, benci, kecewa bisa jadi berkali lipat datangnya dibanding menerima kenyataan white lies dari pasangan kita.

Salahkah itu?

Pada akhirnya, komunikasi yang dilandasi kejujuran memang hal yang perlu jiwa besar. Tidak hanya membutuhkan keberanian untuk berbicara, tapi juga untuk menerima.

Apakah perlu juga hati untuk memaafkan? Semua kembali lagi kepada proses kita berdamai dengan kejujuran tersebut. Karena hanya hati yang tahu, sejauh mana kita bisa menahan beban dan atau melepaskannya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Siapkah Ketika Pasangan Berkata Jujur dalam Hubungan? Atau Kita Memilih Mendengar Kebohongan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

bestari prameswari | @bestariprameswari

Wife and mom for her family Passion in writing and cooking

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar