2.8K
Jendela itu semacam bingkai untuk melihat hal-hal di luar diri. Kita bisa saja melihat dari jendela yang sama, tapi menemukan sesuatu yang berbeda.

Sedari kecil, saya punya ketertarikan tak terjelaskan dengan jendela. Setiap bepergian, saya akan memilih duduk di sebelah jendela. Ketika harus duduk menunggu, saya akan mencari pojok yang berjendela. Ketika di kafe pun, kaki saya akan tanpa sadar menuntun saya pada tempat yang berjendela.

Tempias matahari pagi yang masuk melalui jendela buat saya nampak seksi. Matahari sore yang masuk malu-malu pun seksi, bayangan pohon-pohon yang terpapar matahari siang dan menyentuh saya dari balik jendela juga seksi. Banyak hal yang terlihat berbeda melalui jendela. Saya belajar dari bingkai entah yang terbuat dari kayu atau besi, kita memilah cara memandang dunia.

Sore kemarin, di salah satu kafe di Bandung saya menyadari satu hal. Selain menawarkan cara pandang yang berbeda, jendela memberikan kita perasaan nyaman. Membuat kita merasa terpisah dari apa yang kita pandang. Hal ini yang akhirnya membuat kita menjadi lebih leluasa untuk menyapukan pandangan kita. Pembatas sekaligus pelindung.

Sebagai manusia, ternyata Tuhan telah membuat kita sedemikian hebat. Sang manusia biasa ini juga telah dibekali dengan jendela, baik kita sadari ataupun tidak. Kedua mata kita adalah jendela tempat kita melihat dunia. Meski sama-sama memiliki mata, tapi kita bisa saja melihat hal yang berbeda.

Bagaimana cara kita meletakkan arah jendela ini akan ditentukan oleh hati kita sendiri. Apakah kita akan meletakkannya di atas sana dan membuat semua pemandangan terlihat kecil di bawah? Meletakkannya di bawah sehingga yang terlihat hanya kaki-kaki? Atau belajar mengendalikannya dengan lebih teliti?

Jendela-jendela ini juga bisa dibuka lebar-lebar atau ditutup rapat-rapat. Semua pilihan ada pada kita. Jendela yang adalah bingkai untuk melihat hal-hal di luar diri ini baiknya digunakan dengan cara-cara yang tepat. Oh jangan lupa, kamu selalu bisa keluar dari jendela lamamu dan membangun jendela baru yang lebih terang dan tidak pengap.

Pepatah-pepatah kuno mengatakan bahwa manusia itu hanya melihat apa yang ingin dilihatnya. Maka semoga kita membuka jendela kita pada hal-hal yang tepat. Karena jendelamu adalah pintu masuk menuju dirimu.

Buka mata dan kepala, biarkan jendela-jendela itu bercerita!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Seperti Apa Pemandangan di Luar Sana Dilihat dari Jendela Hatimu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar