3.9K
Anak-anak kita terus bertumbuh. Kasihan mereka kalau orang tuanya terus galau dan tidak berbuat apa-apa.

Akhir-akhir ini demikian banyak hal terjadi di sekitar kita. Mulai dari tataran internasional, nasional, daerah, bahkan mungkin di lingkungan terdekat dan personal. Kegaduhan terasa semakin memuncak menjelang dan selama Ramadan. Seringkali, timbul reaksi keras dari dalam diri. Suasana panas membuat hati dan kepala kita memanas pula. Menarik, karena ini selaras dengan arti literal dari kata “ramadan” dalam bahasa Arab, yaitu panas atau kekeringan yang membakar.

Ada suatu waktu ketika emosi begitu menguasai saya. Saya teringat seorang psikolog anak-anak berkebutuhan khusus yang pernah berujar [kurang lebih], "Sedih boleh. Marah boleh. Tapi jangan lama-lama. Anak-anak kita terus bertumbuh. Kasihan mereka kalau orang tuanya terus galau dan tidak berbuat apa-apa."

Perkataan itu masih sahih, atau bahkan semakin sahih, untuk saat ini. Merasakan emosi tentu boleh. Sedih boleh. Marah boleh. Tapi jangan lama-lama.

Wajar bila ketidakadilan, kekerasan, dan hal-hal di luar kewajaran sebagai manusia mengusik kita dan membuat kita emosi. Sosok yang kita anggap baik – mereka yang memperjuangkan kebenaran – atau mereka yang sebenarnya tak bermaksud buruk diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Sementara sosok lain yang kita anggap kurang baik malah dielu-elukan. Jelas hal ini akan mengusik rasa keadilan, cinta kasih dan kebenaran yang ada dalam diri.

Sebenarnya, sepanjang zaman, selalu ada pejuang kebenaran yang diperlakukan tidak semestinya. Mulai dari skala personal (anak membela teman yang dikasari teman lain, pekerja yang membela rekan/diri yang mengalami pelecehan, dan sebagainya) hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Di sekitar kita pun sejak dulu sudah banyak kasus perlakuan yang tidak mencerminkan keluhuran martabat manusia. Hanya saja, tidak banyak dari kita yang terusik olehnya. Kita cenderung berpendapat bahwa hal itu bukan masalah kita. Kita pikir biarlah orang lain saja yang membela mereka dan memperbaiki keadaan. Sementara kita cari aman saja dan meneruskan kehidupan seperti biasa. Kita kelabui diri dengan mengatakan bahwa itu semua masih dalam batas-batas norma sosial.

Namun kini, lebih banyak yang terusik, dan banyak yang lebih terusik. Lebih banyak dari kita yang (berani) membuka mata dan angkat bicara bahwa kondisi sudah jauh dari idealisme yang kita anut. Dan semoga, karena kejadian-kejadian ini, lebih banyak pula dari kita yang tergerak.

Semakin banyak yang tersadar bahwa ternyata keadaan ini sudah jadi masalah kita juga. Yang mulai paham bahwa tidak bisa sekadar mengharapkan orang lain berperan, sementara kita adem-adem saja. Bahwa aman sangatlah relatif; dan aman untuk saat ini tidak menjamin aman jangka panjang. Bahwa ini sudah di luar batas nilai-nilai kemanusiaan. Bahwa ada ketidaksempurnaan dalam pemahaman kita akan keluasan Tuhan.

Mungkin benar ungkapan-ungkapan yang sering digaungkan selama ini. Kebenaran memang sudah datang. Lihatlah seberapa banyak manusia yang terbangkitkan olehnya. Tuhan memang Maha Besar – Dia jauh lebih besar dari satu keputusan pengadilan, atau satu insiden kekerasan, maupun satu posting di media sosial. Hidup terus bergulir. Kisah masih terus berlanjut dengan segala plot cerita yang hanya Dia yang tahu.

Satu hal yang perlu dicamkan. Janganlah emosi kuat yang tengah melanda kita mejadikan kita kasar dan mengerdilkan orang lain. Kalau sampai seperti itu, sikap apa yang ingin kita sampaikan melalui kekasaran dan pengerdilan tersebut? Kemudian apa bedanya kita dengan hal-hal yang kita komentari? Janganlah, meminjam ucapan seorang teman, kejadian-kejadian yang kita anggap di luar batas kemanusiaan ini menggerus rasa kemanusiaan kita.

Lagipula, ekspresi kasar dan mengerdilkan tidak pernah membuat orang lantas jadi tersadar dan berbalik mendukung apa yang kita sokong. Alih-alih, mereka malah lebih marah dan menjadi-jadi. Tidak kondusif. Semakin jauh dari intensi kita.

Jangan pula mengatakan keadilan atau republik ini sudah mati -- itu kurang sopan dengan Ibu Pertiwi. Perjuangan tidak seringkas itu. Selama masih ada Anda, saya, dan semua orang yang terbangun oleh kejadian akhir-akhir ini, percayalah, Republik ini akan terus hidup.

Jadi, sedih boleh. Marah boleh. Tapi jangan lama-lama. Jadikan emosi yang kuat itu sebagai bahan bakar bagi kita untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Mari bangkit untuk membangun Nusantara seperti yang kita idamkan; semaksimal kapasitas yang kita miliki; sesuai porsi yang kita jalani. Mari lakukan sepenuh jiwa raga, selama sisa hayat kita.

Post script: Malam ini, saya seperti mendengar Tuhan membisikkan, "Do you still trust (Me)?" Pertanyaan ini membuat saya tercenung. Apakah saya masih percaya – pada-Nya, pada kasih-sayang-Nya, pada adil-Nya, pada kebesaran-Nya, dan pada tuntunan-Nya? Kalau ya, kekhawatiran, kemarahan, dan keterusikan saya mungkin sudah selesai menjalankan fungsinya. Kini, saya bisa mengizinkan Tuhan untuk menahkodai jalan saya; yakin bahwa Dia akan selalu memberikan yang terbaik.

Tuhan Maha Tahu, dan Dia menuntun dalam jalan ini. Semoga kita termasuk dalam golongan yang dibukakan hatinya, didekatkan kepada-Nya, dan senantiasa dalam tuntunan-Nya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sedih Boleh. Marah Boleh. Tapi Jangan Lama-lama.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar