1.2K
A dan saya ​jadi terkesan ​saling menghindar​. Jika ​saya datang​, ​ia tak datang​. Jika ​saya tak datang​, i​a datang.

A​, ​sebut saja dia begitu​.

A adalah​ cinta pertama saya.

Jangan bayangkan ​ia​ seperti pangeran tampan ​dalam novel, film, atau komik-komik Jepang. Dia biasa saja​. Wajahnya tegas​ ​dengan kacamata yang selalu bertengger di sana. Ekspresi​nya selalu tidak bersahabat. Dari awal bertemu​ saja sebenarnya ia​ sudah tidak menyenangkan​. Setiap hari​--bahkan ​sepanjang hari​, kami berdebat. ​Pernah kami ​berdebat semalaman.​​​

​Entah kapan awalnya, suatu hari saya menyadari bahwa saya ​terlanjur ​menyimpan rasa pada A. ​Ya, saya menyukainya. Namun​ ​benar kata orang​: ​kita menyadari keberadaan seseorang ​justru ketika dia tidak lagi ​berada di sekitar kita. Pada saat ​saya menyadari rasa suka saya terhadapnya, kami tidak lagi berteman​. Tidak lagi menjadi sepasang ​'musuh' yang selalu berdebat.

​Sejak kapan tepatnya?

Entah. Saya tidak ingat. ​Yang saya ingat hanya​lah bahwa​ sepanjang tahun dia tidak lagi​ bercakap dengan saya, tidak pula mengirim pesan​-pesan​ tak jelas seperti yang​ biasa​ dia kirim sepanjang malam​. Ia bahkan mengganti nomor​ teleponnya​.

Bodoh​,​ memang​. Saat itu, tak berani untuk bertanya​ mengapa​.​ Takut mendengar jawabannya. ​Akhirnya​,​ saya ​cukup puas dengan mengingat hal​-hal​ kecil tentang A​. ​A yang selalu datang​ ​​pukul 06.25, yang selalu​ t​i​nggal di​ kelas saat jam istirahat, yang dulu meminjamkan novel ​ke​pada saya, dan hal​-hal ​kecil lainnya.

Sering saya ber​p​ikir, apakah dia juga menyukai saya?

Setelah lulus, keadaan masih sama. Seringkali saya masih datang​ ke beberapa acara​ dengan harapan siapa tahu dia juga datang​. Siapa tahu,​ secara 'tidak sengaja' kami ​bisa ​bertemu. Namun dia tidak pernah datang​ pada acara-acara tersebut. Saya hanya mendengar kabar bahwa dia melanjutkan studi di luar kota​. ​

Selam​a​ 3 tahun, kami tidak lagi berhubungan​.​ ​Namun selama itu pula​,​ saya masih mengingat hal-hal kecil tentang dia​. Hanya mendengar namanya saja saya terdiam. Terkadang saya masih mendengar kabar tentang A dari teman-teman. Teman kami​ ​banyak beririsan dan sering mengadakan acara kumpul-kumpul; nam​u​n​ sepertinya​ tidak​ demikian halnya​ dengan ​saya dan A. A dan saya ​jadi terkesan ​saling menghindar​. Jika ​saya datang​, ​ia tak datang​. Jika ​saya tak datang​, i​a datang.

Saya ingat, ​malam itu malam Jumat​. Ada ujian keesokan hari. Tiba-tiba, ​ada pesan masuk dari nomor ​asing​.​

​"Apa kabar? Masih ingat aku​?"

​Ya,​ yang benar saja.​ ​B​agaimana bisa lupa.

Sepanjang malam ​A dan saya saling berbalas pesan.

Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Selama satu minggu​,​ A selalu mengirim pesan, karena saat itu dia sedang libur. ​Malam terak​hir, dia bercerita b​ahwa selama ini ia sudah tahu bahwa saya menyukainya​. Dan ​bukan baru ta​h​u​, ​namun sejak awal ​​dia ​sudah ​tahu. Sadar.

Saat itu saya mengerti ​makna di balik sikap A. ​Saya harus tetap melanjutkan hidup​. Tidak ​perlu lagi berharap dia juga menyukai saya. Tahun berikutnya​,​ saya kuliah di luar kota​, di Surabaya​. Waktu saya habiskan untuk beradaptasi di tempat baru​ dan menyibukkan diri. Tebakan kalian agak benar​: ​salah satu alasan saya ​menjadi semakin​ sibuk adalah agar semakin sedikit waktu yang saya habiskan untuk mengingat cinta pertama saya.

Beberapa bulan yang lalu​, ​saya pulang ke rumah setelah berlama-lama sibuk di ​S​urabaya. Sudah lama juga saya tidak masuk kamar yang saat sebelum kuliah​ dulu​ menjadi temapat bersemedi paling a​syik. Tangan saya sibuk meng​g​eledah isi meja​. Terdapat ​sebuah ​kotak​ di sana​, warna​-​warni dibungkus sangat rapi​. Saya pikir itu kado ulang tahun​ saya​ tahun lalu. ​Saya buka kotak itu. ​Berisi novel karya ​seorang ​penulis yang setiap terbitan bukunya selalu saya beli​. Ada note​s​ kecil warna merah di belakang sampul buku it​u. Tulisannya:​

' Thx. Terimakasih.'

Saya kenal betul tulisan tersebut​.​ ​Tulisan saya sendiri. Ternyata buku ini pernah ​saya maksudkan untuk​ diberikan kepada​ A, ​karena ​kami memang menyukai penulis yang sama. Seketika saya tersenyum. Bukan karena saya masih terkenang​ A​, hanya saja saya jadi ingat ​betapa ​saya dulu pernah menyukai dia.

Sekarang, saya dengan mudah dapat mengirim pesan tidak penting padanya​, selayaknya sepasang sahabat lama. K​ami sibuk menjalani hidup masing-masing dan saya tidak lagi ​sibuk ​mengingat hal​-hal ​kecil tentang dia. Saya bahagia, namun​ bukan lagi dengan ​A yang dahulu menjadi ​impian saya.​ Dan itupun tak mengapa.

Saya memang tak mendapatkan A seperti yang saya inginkan, tapi saya mendapatkannya kembali sebagai seorang sahabat. Hidup terkadang adil dalam cara-cara yang tak kita mengerti.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebuah Pesan yang Tak Pernah Terkirim: "Thx. Terima Kasih."". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Arum Saadah | @saadaharum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar