924
Semakin kita beranjak dewasa, semakin sering kita merasa sendirian, dan semakin banyak pula orang-orang yang menghilang dari kehidupan kita.

Saya memang bukan seseorang yang gemar bersosialisasi. Saya cenderung introvert dan sejak dulu lebih suka dekat dengan sekelompok kecil orang. Saya tidak pernah merasa kesepian, sampai akhir-akhir ini.

Semakin dewasa, semakin sedikit orang yang dapat kita percaya.

Bukan masalah jumlah teman yang kita miliki, tapi jumlah teman yang kita percaya dan sungguh-sungguh terasa dekat dengan kita. Masalahnya adalah, berapa orang yang bisa kita ajak bicara ketika kita menjalani masalah besar? Atau berapa orang yang cukup dekat untuk kita percayai dengan rahasia-rahasia tergelap kita?

Sepertinya semakin kita dewasa, semakin sering kita dikhianati, atau semakin banyak kisah pengkhianatan yang kita dengar. Kita sudah belajar dan sudah mengerti 'kejamnya' dunia sosial. Tidak semua orang sungguh-sungguh ingin mendengar keluhan kita. Sebagian dari mereka hanya ingin mendapat cerita seru yang kemudian menjadi gosip.

Semakin saya dewasa, semakin saya merasa memiliki tumpukan rahasia yang saya simpan sendiri. Dan semakin saya menjadi seseorang yang selalu takut rahasia-rahasia itu akan terkuak suatu hari nanti. Semakin sulit saya membuka diri kepada orang baru; juga kepada orang-orang lama yang sudah tidak terlalu dekat.

Sebaliknya, semakin mudah saya membayangkan orang-orang menertawakan cerita saya, lalu berbisik-bisik pada orang lain tentangnya.

Teman-teman lama, kegiatan-kegiatan baru.

Masalahnya tidak berhenti sampai di sini.

Kita pasti punya setidaknya satu atau dua orang yang dapat kita percayai, tapi bukan berarti mereka dapat selalu hadir dalam kehidupan kita. Terutama jika orang-orang yang kita percayai adalah orang-orang yang kita kenal sejak lama. Orang-orang seperti inilah yang pada masa-masa kita dewasa, akan terasa semakin jauh dari kita.

Teman-teman yang kita kenal dari SMA akan masuk ke universitas-universitas berbeda dan memiliki teman baru. Teman-teman dari universitas sekarang sibuk bekerja di berbagai tempat. Pada sebagian besar waktu, kita akan mengambil jalan yang berbeda dari teman-teman kita. Mereka mungkin telah sibuk dengan kegiatan mereka, menghabiskan waktu dengan kolega-kolega baru yang sekarang lebih sering bertemu mereka, atau mungkin karena jarangnya kita menghabiskan waktu bersama, telah sulit bagi kawan-kawan lama untuk mengerti betapa besarnya masalah yang sedang kita hadapi.

Terkadang, hal-hal semacam ini membuat saya menjadi begitu sedih, sampai-sampai saya mengira ini semua balasan karena saya sering menjadi teman yang tidak baik.

Saya merasa tidak bisa marah, karena saya pun pasti pernah berada di posisi mereka: tenggelam dalam pekerjaan atau pikiran sendiri, hingga tidak bisa mendengarkan cerita kawan-kawan dengan baik. Bukan karena kita memiliki niat buruk atau tidak peduli, tapi memang begini adanya ketika waktu telah mengubah keadaan: ia juga akan mengubah kita.

Sulit bagi saya mengerti perubahan ini. Seringkali saya masih terpaku pada keinginan untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman lama saya. Entah kenapa. Mungkin kalau saya bisa mendapatkan teman-teman baru sekalipun, saya tidak mau. Saya hanya ingin kedekatan dengan kawan-kawan lama saya kembali.

Saya merasa mereka berubah, tapi saya tidak.

Terkadang saya merasa mereka lebih memilih teman-teman baru dalam kehidupan baru, daripada kembali pada kedekatan dengan kawan-kawan lama. Sepertinya berjalannya waktu memang mengubah kita dengan kecepatan yang berbeda-beda. Karena buat saya, rasanya seolah-olah mereka sudah dengan mudahnya menjalani hidup baru--sementara saya masih berada di kehidupan yang lama, yang sama.

Seorang sahabat menceritakan kepada saya, bahwa orang yang dianggap oleh ibunya sebagai “sahabat” adalah seseorang yang hanya ia telepon tiga kali setahun. Sungguh menakutkan.

Saya bayangkan, kemungkinan besar begitulah hidup saya di masa depan. Sahabat adalah seseorang yang saya telepon sekali-sekali, atau hanya saya temui saat reuni. Kedengarannya ekstrem, tapi bahkan di umur saya yang belum tua ini, saya sudah tidak mudah lagi bertemu dengan orang-orang yang saya anggap sahabat. Jangankan bertemu. Dulu, setiap ada hal kecil yang bagi saya menarik, saya akan segera mengirimkan pesan pada teman-teman saya itu. Sekarang bahkan sudah tidak lagi.

Kenyataannya, kita akan selalu kehilangan seseorang dalam hidup, sedikit demi sedikit--maupun sekaligus.

Tidak selalu berarti kita jadi bermusuhan, namun saya sadar, saya perlu menerima bahwa kami sudah tidak memiliki kapasitas dan intensitas yang sama untuk menjadi sahabat.

Kita tidak bisa menghentikan waktu yang akan membawa setiap orang ke tempat-tempat berbeda, kepada kesibukan-kesibukan dan ketertarikan-ketertarikan baru, juga kawan-kawan baru. Bukan berarti kita jadi tidak memiliki teman, hanya saja pertemanan yang kita miliki akan sangat berbeda dari yang pernah kita miliki dulu.

Dan inilah yang membantu saya mengatasi perasaan kehilangan dengan bertemu kawan-kawan baru. Untuk tidak membandingkan. Tidak membandingkan kedekatan dengan yang lama, tidak membandingkan intensitas pertemuan dengan yang lama, tidak membandingkan kenangan, rahasia-rahasia yang sudah dibagi, atau hal-hal lainnya yang pernah dialami.

Karena setiap orang (yang mungkin suatu hari bisa menawarkan persahabatan baru) adalah dirinya sendiri: bukan kumpulan kenangan-kenangan untuk dibanding-bandingkan. Sosok yang hilang tetap bisa disimpan dalam hati dan ingatan. Tapi saya juga berusaha membuka diri untuk membuat kenangan-kenangan baru, dengan sosok-sosok baru, hingga mungkin suatu hari nanti saya juga akan kehilangan mereka.

Tapi, saya harap, kehilangan itu terasa manis, dan bukan meninggalkan sesal.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebuah Kenyataan Pahit: Kita Akan Selalu Kehilangan Seseorang". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar