3.6K
Ini cerita tentang ibuku yang menunggu dan mendapatkan sesuatu setelah itu.

Apa kamu percaya kalau segala sesuatu akan datang, tepat pada waktunya? Aku tidak. Aku percaya, kalau aku menginginkan sesuatu dan berusaha keras, yang kuinginkan akan datang tak lama sesudah itu. Tapi toh dunia tidak bekerja dengan cara yang sesuai dengan keinginanku. Kadang kamu perlu menunggu lama, dengan frustasi, tanpa tahu kapan akan melihat "The End" itu, tanda sudah mencapai satu babak dalam cita-citamu.

Begitu juga Ibuku.

Saat kami pindah rumah saat aku kelas dua SMP, rumah lama kami--yang jaraknya hanya empat rumah jauhnya dari rumah saat ini--sudah dua kali berganti penyewa. Semuanya tidak ada yang memuaskan hati Ibuku. Penyewa pertama tidak membayar tagihan rumah tepat waktu, penyewa kedua sangat jorok. Rumah kami hampir tidak bisa dikenali lagi dari luar karena banyaknya poster bisnis yang menutupi jendela, dinding, termasuk setiap celah yang bisa digunakan untuk menempel poster-poster itu.

Ibu kecewa.

Ia kira, rumah kami tidak dihargai mahal oleh para penyewa karena belum semua sudut rumah dikeramik. Maka Ibu pun menabung dan mempercantik rumah lama kami. Ia kira, kali ini rumah itu akan lebih cepat laku. Tapi ibu salah. Berbulan-bulan Ibu berdoa, tak satu kali pun rumah itu laku. Banyak orang yang jatuh cinta, tapi semuanya mundur teratur ketika tahu harga sewa rumah itu.

Karuan Ibu kecewa. Ia mulai mengeluh--sesekali mungkin marah--dan berpikir, bagaimana masa depan rumah itu. Kami pun yang mendengar omelannya pun tidak ada yang punya bayangan, kapan rumah itu akan laku.

Sampai suatu hari Ibu cerita, ia mendapat telepon dari dua keluarga sekaligus, yang menyukai rumah itu. Pertama, keluarga Batak muda dengan anaknya yang masih bersekolah di SD dekat rumah. Lalu, keluarga kecil keturunan Tionghoa, terdiri dari Gonggong (Kakek)-Popo (Nenek) berumur lebih dari 80 tahun.

Di tengah kebingungan kami, Ibu memberikan rumah itu pada keluarga kedua. Ia bilang, ia tidak tega mengingat usia mereka hampir sama dengan usia Kakekku--ayah Ibu-- kini.

Satu yang kami tidak tahu, penantian Ibu, kegelisahan dan rasa frustasi yang ia bawa dalam doa-doanya, serta pilihan yang ia ambil, membawa lebih dari sekadar rejeki kepada kami. Baik tetangga di depan rumah lama hingga tetangga di ujung gang, semua memuji karena Ibu mendapatkan penyewa yang baik.

Gonggong dan Popo sangat rajin. Berbeda dengan penyewa sebelumnya, mereka selalu bangun pagi, membersihkan rumah, bahkan menanam anggrek dan tanaman lain. Tetangga bilang, ibu pintar karena memilih penyewa berupa keluarga pecinta tanaman. "Kalau orang biasa merawat tanaman di rumahnya, pasti orang itu akan merawat rumah dengan baik," kata mereka.

Pagi-siang-sore-malam, Gonggong dan Popo membiarkan rumah terbuka. Mereka sering bercakap-cakap di teras. Dari mereka, kami--termasuk para tetangga--belajar tentang kesederhanaan, keterbukaan dan kehangatan keluarga. Bagaimana Gonggong tidak keberatan untuk berinisiatif mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah, untuk memudahkan istrinya.

Lucunya, ini membuat tetangga depan rumah lama kami berdebat, sebab Gonggong lebih rajin daripada mereka yang lebih muda. Bagaimana Gonggong memperlakukan istrinya, itu jadi harapan kami juga.

Dari penantian Ibu, aku belajar tentang menunggu dan mendapatkan sesuatu. Bahwa jika yang diinginkan itu memang takdirmu, ia akan selalu datang tepat waktu. Kapan? Aku tidak tahu. Bukan cepat atau lambat sesuai ukuran waktu manusia, tapi pada saat yang pas, saat kamu siap menerima itu.

When it just right, you just know. Karena harapanmu akan datang, beserta kebahagiaan-kebahagiaan kecil dan pelajaran yang menyertai itu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Seberapa Lama Kamu Bersedia Menunggu untuk Mendapatkan Apa yang Kamu Inginkan?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Inez Hapsari | @inezhapsari

Yoga addict. Melancholic, yet helplessly romantic.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar