3K
Jika ditanya apa satu cerita yang berulang saya tuturkan sepekan ke belakang, maka ULANGAN FISIKA adalah jawabannya. Iya, Ulangan Fisika yang menyebalkan itu.

Menoleh ke masa sekolah, saya ingat sedari SD saya bukanlah orang yang konsisten menonjol secara akademis. Sebelum menulis ini saya terkekeh melihat rapor SD saya.

Peringkat 28 dari 33, menjadi rekor paling parah yang membuat Papa saya saat itu geleng-geleng kepala. Iming-iming sepeda di kelas 4, saya ingat benar, membuat saya begitu ambisiusnya menaikkan nilai dan akhirnya berhasil. Di SMP semua lancar terkendali.

Namun semua hancur saat negeri api menyerang.

Pertahanan saya akan “baik-baik saja” hancur lebur ketika duduk di kelas akselerasi SMA. Padatnya materi ditambah otak IPS yang harus masuk ke IPA membuat saya kewalahan.

Hingga satu titik, di ulangan fisika GLBB (oh iya, saya ingat persis babnya!), saya mendapat nilai 25. DUA PULUH LIMA. Sebagai remaja yang melalui tiga tahun SMP dengan “baik-baik saja” nilai itu seakan menjadi tonjokan dari Mayweather, bukan kepada Pacquiao, namun pada gadis desa kurus dengan rambut mengembang.

Saya dan fisika ibarat permusuhan tidak imbang. Saya benar-benar payah di sana, namun tuntutan tak jua melunak.

“Jangan pertahankan sesuatu yang rapuh.”

Begitu kata guru fisika saya yang sebenarnya sedang menyarankan saya (dan beberapa kawan lain yang juga “kewalahan”) untuk kembali saja ke kelas reguler dan meninggalkan akselerasi.

Agak sedih mengingat guru kita sendiri justru mematahkan harap alih-alih meningkatkan semangat.

Tapi kita bisa memilih memperhitungkan hal semacam itu sebagai pembenaran untuk menyerah atau alasan untuk berjuang lebih kuat. Saya tahu persis bahwa jalur ini memperingan keuangan keluarga saya yang sedang hancur lebur saat itu, maka saat itu pula saya sadar bahwa saya harus tetap menyelesaikan SMA dua tahun.

Tidak boleh dieliminasi. Pun rasa gemas menjadi bahan bakar mengucap janji: "Sebelum lulus, aku harus pernah dapat nilai minimal 80 di UH Fisika!"

Ada energi yang mengalir tepat setelah kita menetapkan tekad dalam diri.

Derajat usaha menjadi berkali lipat. Memang benar bahwa usaha memang adalah cerminan seberapa kuat tekad.

Saya bangun subuh setiap kali menjelang UH Fisika. Di kosan Jalan Veteran Lumajang itu, teman saya selalu menertawakan bagaimana seorang Adiss bangun subuh dan gagal lagi. Remidi lagi. Remidi lagi. Pertarungan antara saya dan fisika menjadi topik becanda bagi beberapa pemudi SMA di rumah itu.

Tidak sedikitpun sindiran atau pelemahan semangat itu saya ambil hati. Ketika tekad menjadi demikian kuat, kita akan sanggup membuat pertahanan diri terhadap hal negatif yang berkeliaran.

Saya akhirnya berhasil mendapat nilai 82 sebagai nilai ulangan tertinggi selama SMA.

Hari ini, pekerjaan dan hobi saya tidak sedikitpun menggunakan rumus Gerak Lurus Berubah Beraturan, namun jika saya ditanya salah satu hal yang paling saya syukuri saat sekolah, saya akan jawab dengan cepat: nilai duapuluhlima ulangan fisika bab GLBB.

Mengapa?

Sebab tanpa ulangan menyebalkan itu, tidak akan lahir karakter penuh kegigihan dalam diri pemudi desa ini. Tidak akan lahir 150 mimpi saat usia 17 tahun yang satu per satu dicapai.

Saya melihat bagaimana mudahnya saya menyerah saat SMP, misalnya ketika mengikuti perlombaan tingkat Kabupaten dan saya pasrah begitu saja. Namun sejak SMA, karakter itu menurun drastis (menurun, karena saya tidak berani berkata: “hilang”).

Saya belajar gigih ketika memiliki mimpi.

Belajar memahami hal-hal yang tak saya sukai atau tak saya kuasai sejauh yang saya bisa. Belajar memaknai bahwa angan walau ditertawakan orang lain, adalah sesuatu yang SELALU LAYAK diperjuangkan. Belajar menyemangati diri sendiri saat nyaris putus asa.

Sepekan ini, saya dan kelas 9 yang saya ajar membahas tentang Multiple Intellegence, dan selalu saja ada siswa tiap kelas yang bertanya, "Miss, kalau masing-masing orang punya bakat yang beda, kenapa kita perlu pelajari semua pelajaran?" atau siswa lain dengan kritisnya bertanya "Miss, kenapa harus belajar rumus macam-macam padahal belum tentu terpakai saat kerja?"

Singkatnya, pertanyaan kenapa kita perlu sekolah adalah tanda tanya di benak banyak orang. Setali tiga uang, di saat berkesempatan ngobrol dengan mbak Najelaa Shihab (seorang pegiat pendidikan), mbak Ela juga menanyakan hal mendasar: “Kenapa perlu sekolah?”

Saya dengan segera menjawab: Karena sekolah mengajarkan kita sebuah etos!

Karena sekolah melatih sebuah ketangguhan.

Akan merugi kita jika menilai kesempatan bersekolah hanya terbatas pada materi yang tidak semuanya kita gunakan di dunia kerja. Materi itu bermanfaat membentuk pola pikir, saya sepakat. Tapi terpenting adalah bagaimana kita menyikapi segala kesulitan yang hadir tanpa diundang. Bukan materinya saja yang penting, namun juga cara materi tersebut diajarkan, dan cara kita berelasi dengan materi yang kita sukai atau tidak sukai, yang kita kuasai baik maupun yang tidak.

Apakah kita akan menyerah dan berpasrah; atau tangguh memperjuangkan?

Semua pilihan kita. Sebuah pilihan terus menerus yang akhirnya menjadi karakter.

Proses bersekolah, setidaknya buat saya, adalah ladang lahirnya sebuah etos: untuk tidak mudah menyerah, untuk menantang diri lebih, untuk percaya bahwa diri kita ini selalu punya kesempatan menjadi lebih baik lagi.

Lagi.

Dan lagi.

Dan soal bentuk 'sekolahnya' sendiri akan berevolusi seperti apa, rasanya yang ini bisa jadi topik percakapan kita di lain waktu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sebenarnya, Mengapa Kita Perlu Sekolah? Dan Apakah Perlu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar