2.6K
Terkadang, ketakutan perlu kita rayakan dengan hingar-bingar. Ajaklah ia menari bersama, hingga ketakutan itu sirna, dan bahkan berubah menjadi hal yang menyenangkan.

Setiap orang memiliki ketakutannya sendiri-sendiri. Takut sendiri, takut ketinggian, takut gelap, takut badut, takut balon, takut sepi, bahkan takut kecoa.

Saya memerhatikan orang-orang di sekitar saya dan menyadari bahwa ketakutan-ketakutan itu timbul berdasarkan pengalaman masa kecil yang tidak mengenakkan, bahkan traumatis. Ketakutan-ketakutan ini terbawa hingga mereka dewasa dan membentuk fobia.

Saya bukan termasuk orang yang memiliki ketakutan akut terhadap hal tertentu (ini tidak bermasuk untuk takabur). Saya tidak takut akan hantu, petir, ketinggian, gelap, badut, atau binatang-binatang menggelikan; bahkan saya cenderung menyukai hal-hal tersebut.

Saat hujan turun bersama petir dan gemuruh, beberapa orang akan memekik ketakutan, namun saya malah mencari jendela untuk memandagi kilatan petir yang tercipta di langit. Kadang, hal ini membuat saya tersenyum. Atau, saat berada di taman rekreasi, saya cenderung menyukai permainan-permainan dengan ketinggian yang memacu adrenalin. Dengan riang, saya akan menaiki wahana permainan itu berkali-kali. Saat gelap, saya bisa dengan mudah menyesuikan diri.

Namun, bagi saya, ketakutan justru berasal dari diri saya sendiri.
Saya takut akan diri saya sendiri.

Ya, sudah lebih dari 3 tahun saya merasakan ketakutan ini. Ketika menunggu kereta datang, kadang saya takut ketika diri saya menginginkan dirinya sendiri menjatuhkan tubuh ke atas rel; agar terhempas oleh kencangnya laju kereta. Ketika tengah menyetir sendirian, saya takut ketika terkadang diri mendesak saya untuk menabrak mobil di depan, atau sekadar menghempaskannya ke trotoar. Ketika mandi di malam hari, saya takut ketika merasa tergerak untuk menenggelamkan diri di bak mandi. Ketika sedang memotong-motong buah segar, saya takut ketika merasa ingin menyayat pergelangan tangan dan melihat tetesan darah mengalir.

Semuanya saya rasakan dalam keadaan sadar. Ketakutan-ketakutan ini menyelubungi saya. Saya merasa terkunci di ruang kecil dan tak bisa keluar. Saya hanya akan menatap nanar, mencoba memburu oksigen dengan ganasnya, dengan degup jantung yang berpacu kencang, tubuh yang gemetar, dan rasa getir di lidah.

Namun Tuhan selalu saja mengirimkan malaikat-Nya. Dihadirkan-Nya orang-orang yang tiba-tiba saja membawa kewarasan saya kembali. Saya diingatkan tiupan peluit petugas stasiun yang nyaring, dering telepon masuk saat di dalam mobil, teriakan Ibu karena saya sudah terlalu lama di kamar mandi, atau bahkan seorang kawan-kawan yang tiba-tiba saja menggenggam tangan saya dan menarik pisau yang sedang saya pegang.

Saya tak berani menceritakan ketakutan-ketakutan saya ini pada orang lain. Saya sendiri bahkan selalu berusaha mengingkarinya.

Suatu hari, saya tengah menonton ulang film Harry Potter, ketika menemukan ide untuk mencari jalan keluar untuk ketakutan saya. Masih ingatkah kalian akan salah satu adegan dalam film tersebut, saat Profesor Lupin melatih Harry dan teman-teman berlatih menggunakan mantra Patronum untuk melawan Dementor?

Dementor adalah makhluk yang mengisap kebahagiaan. Dan Patronum adalah mantra yang bisa mencegah Dementor agar tidak mengisap habis kebahagiaan kita.

Pada latihan yang dilakukan di dalam kelas Profesor Lupin, ia menggunakan makhluk bernama bogart, yang akan berubah bentuknya sesuai dengan ketakutan setiap anak yang sedang menghadapinya. Maka, ketika bogart muncul dan mengambil wujud ketakutan setiap anak, anak itu diminta membayangkan hal yang lucu atau menyenangkan sebelum menggunakan mantra Patronum. Bogart kemudian akan berubah wujudnya sesuai dengan bayangan lucu dan menyenangkan dari setiap anak, sebelum kemudian lenyap.

Inilah adegan yang membuat ide terbetik dalam diri saya. Walau saya bukan penyihir dan tak bisa menggunakan mantra, tetapi saya ingin mengubah ketakutan saya terhadap diri sendiri menjadi hal yang menyenangkan.

Jadi, saya kemudian memilih merayakan ketakutan saya dengan hingar-bingar, dengan hal-hal yang saya sukai.

Saya berlatih saat ketakutan itu datang dengan keinginan yang kuat.

Saat menyadari tatapan saya perlahan menjadi kosong, saya akan mengangkat telunjuk untuk menggambar bintang dan peri hutan yang seakan menari-nari dalam jarak pandang saya. Saat nafas saya mulai terasa terburu, saya akan membiarkannya memenuhi dada sebelum menghembuskannya dengan mulut hingga saya dapat membentuk senyum di bibir saya. Saat tubuh saya mulai bergetar, saya akan langsung memainkan musik imajiner di dalam kepala dan menghentakkan kaki mengikuti irama itu.

Saya melakukan hal-hal tersebut setiap kali merasa takut kepada diri saya sendiri. Saya takjub ketika mengetahui bahwa hal ini berhasil! Saya tak lagi ketakutan akan kehilangan kewarasaan saat ketakutan-ketakutan saya itu datang!

Walau sampai hari ini ketakutan-ketakutan saya itu masih datang silih berganti, frekuensinya sudah tidak sebanyak dulu. Perayaan ketakutan saya itu rupanya telah berfungsi dengan cukup baik. Saya pun berusaha menggantikan hal-hal menakutkan dalam bayangan saya dan ketakutan akan diri saya sendiri untuk merasakan hal-hal menyenangkan, hingga perasaan terkunci dalam ruangan kecil perlahan sirna.

Saya tak tahu sampai kapan perayaan ini bisa berguna, atau apakah ketakutan-ketakutan saya akan hilang selamanya atau tidak. Tapi setidaknya, saya tidak perlu lagi merasa takut kehilangan 'kewarasaan' saya.

Bagaimana kamu merayakan ketakutan-ketakutanmu?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Takut Akan Diri Saya Sendiri. Dan Ini Cara Saya Merayakan Ketakutan Itu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Titik Rahayu | @tikkrahayu

seorang kidal yang gemar bermimpi

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar