1.5K
Rutinitas kerja seringkali memaksa kita untuk mendorong diri lebih jauh daripada kapasitas dan batas kemampuan. Kita berekespektasi melebihi apa yang bisa kita kerjakan dan jika tak tercapai, kita seringkali menyalahkan diri yang dirasa selalu kurang dan tak mampu memenuhi ekspektasi.

Saya termasuk orang yang menyukai tantangan. Saya suka mendorong diri sendiri hingga batas kemampuan terbaik demi sebuah karya. Pada akhirnya, saya menyentuh batas kemampuan itu: titik jenuh dalam diri. Kreativitas saya terhenti seketika. Di satu titik, saya mengalami kekosongan, entah jenuh entah kelelahan.

Beberapa minggu lalu,bersama sahabat, saya nekat mencari udara segar di Gunung Ciremai. Kami mulai mendaki pukul 1 siang hari. Awalnya, kami mendaki dengan kecepatan konstan, namun dalam perjalanan, kami sadar jika kami sudah dilewati oleh banyak pendaki. Di satu titik, muncul dorongan dalam diri agar lebih cepat berjalan.

“Bro, kayaknya kita jalan lambat banget,deh,” saya bergumam.

Sahabat saya tiba-tiba berhenti, dan dengan nada yang agak tinggi, dia berucap: “Kalau mau cepat naik pesawat, Bro.”

Akhirnya, kami memutuskan berhenti sejenak.

Sejujurnya, saya mengakui kesalahan saya karena menyepelekan kecepatan kami berjalan.

"Mendaki itu bukan soal cepat atau lambat," ujar sahabat saya kemudian. "Tapi soal fokus dan konstan dengan kemampuan diri. Setiap orang punya kemampuan masing-masing meski tujuan puncaknya sama.”

Mendengar perkataannya, seketika saya teringat kehidupan kerja yang selama ini saya jalankan. Saya seringkali meremehkan diri sendiri ketika ada orang lain berhasil melakukan sesuatu lebih cepat dari saya. Sulit rasanya menerima hal tersebut. Saya, yang 'tak mau kalah', mendorong diri untuk tidur lebih sedikit, bersosialisasi lebih sedikit ,dan mengurangi waktu liburan--agar saya bisa menyelesaikan lebih banyak hal dengan lebih cepat.

Saya menganggap diri saya terlalu malas, oleh karenanya orang lain bisa lebih cepat “sukses” daripada saya sendiri.

Setelah beberapa menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Namun, saya masih percaya pada pendirian saya. Saya berjalan lebih cepat dari sahabat saya. Hingga di suatu titik, saya menunggu dia karena saya sudah sampai 1 jam lebih awal darinya. Tetapi di titik itu pula, saya merasakan kelelahan yang luar biasa.

Setelah sampai di pos pendirian tenda, saya merasa begitu lelah hingga hanya bisa membantu mendirikan tenda ala kadarnya saja. Pukul 3 dini hari, kami memutuskan menuju puncak Ciremai untuk melihat matahari terbit.

Kelelahan masih terasa, tetapi saya masih saja percaya kalau saya hanya malas. Saya harus mendorong diri saya lebih keras lagi. Di tengah perjalanan, saya roboh. Tak sanggup melangkah lebih jauh. Saya sudah kehabisan tenaga. Sahabat saya akhirnya memutuskan untuk tetap ke puncak, dan saya berhenti hanya sampai setengah perjalanan.

Dalam perjalanan turun, saya seringkali berhenti untuk beristirahat cukup lama. Akibatnya, pendakian turun kami jadi lebih lama dari biasanya.

Kita sering merasa bahwa diri kita bisa didorong lebih jauh dan lebih keras sekadar untuk memenuhi ekspektasi diri atau untuk menjadi 'lebih sukses' daripada yang lain. Perjalanan kali ini seperti teguran untuk saya. Saya sering lupa untuk memaafkan diri dan mendengarkan kemampuan diri sendiri.

Saya sering lupa, bahwa tujuan akhir saya adalah menuju 'puncak'. Dan mencapai puncak bukan melulu persoalan seberapa cepat kita sampai--apalagi persoalan siapa yang duluan sampai dibandingkan orang lain. Yang terpenting adalah mengetahui kemampuan diri dan melihat bagaimana kita bisa menikmati perjalanan menuju puncak dan sampai di sana dengan perasaan bahagia.

Pendakian Ciremai mengingatkan saya bahkan di tempat kerja, bahwa saya juga bisa menyelesaikan pekerjaan dengan rasa puas, tetapi cukup waktu beristirahat dan memperhatikan diri sendiri. Meski di awal-awal saya merasa bahwa hal ini akan menghambat saya, namun dalam jangka panjang saya perhatikan bahwa saya bisa menyelesaikan lebih banyak hal tanpa harus kelelahan.

Saya belajar menerima kemampuan diri, dan memberikan yang terbaik yang saya bisa: terutama bagi kebahagiaan diri sendiri dalam perjalanan menuju 'puncak'.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Mendorong Diri Hingga Batas Kemampuan dan Tetap Tak Bisa Memenuhi Ekspektasi Diri.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Agung Prasetyo | @agungprasetyo

Storytraveler

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

langkah memulai investasi saham