7.5K
Ada kalanya, Tuhan ingin kita rehat sejenak. Untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang berbeda.

Jumat sore, biasanya saya akan dihadapkan dengan lembur hingga menjelang dini hari, tapi kali itu saya bisa pulang cepat. Pukul 16.30 semua pekerjaan saya telah usai. Bahkan persiapan untuk Senin berikutnya pun telah selesai saya kerjakan. Saya memutuskan untuk pulang.

Ya, bekerja di vendor dan sebagai orang lapangan membuat jam kerja saya lumayan fleksibel. Yang paling utama bukan berapa banyak jam kerja yang saya ambil, tapi seberapa banyak pekerjaan yang telah saya bereskan. Sial bagi saya, ketika saya bisa pulang lebih awal, justru hujan menghadang saya untuk pulang.

Baru saja saya akan memasan ojek online yang biasanya mengantar saya ke stasiun terdekat, tiba-tiba hujan turun dengan cukup deras. Alhasil saya kembali lagi masuk ke gedung kantor. Karena kantor saya bersebelahan dengan salah satu mall, saya pun memutuskan masuk ke dalam mal dan memilih menunggu hujan di salah satu kedai kopi.

Segelas caffe latte dan sepiring cinammon roll menemani saya merutuki hujan yang tak kunjung reda.

Tiba-tiba, pandangan saya tertuju pada segerombolan anak kecil yang ada di jalan setapak menuju mall itu. Mereka memegang payung yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka, seraya menggenggam satu payung lebar lagi. Mereka adalah anak-anak ojek payung yang selalu hadir setiap hujan menguyur jakarta.

Di tengah guyuran hujan, mereka menawarkan jasa ojek payung untuk menyeberang ke gedung lainnya, mencari taksi atau bahkan menuju ke parkiran. Mereka tertawa senang dan saling becanda walau baju mereka basah, kaki-kaki mereka telanjang, dan sesekali tubuh mereka bergidik kedinginan. Dengan sabar, mereka menunggu ada yang mau menyewa jasa payung mereka.

Ketika ada orang yang menyewa payung, mereka tersenyum lebar. Itu semua demi beberapa lembar puluhan ribu rupiah. Saat itu seketika saya tertegun. Saya yang berada dalam ruangan ber-AC dengan baju yang masih kering. Dengan alas kaki yang layak. Duduk dengan nyaman sambil menikmati makanan yang harganya bahkan mungkin sama dengan penghasilan anak-anak itu selama satu hari ini.

Dan saya malah sibuk mengutuki hujan dengan wajah cemberut. Bahkan tadi saat barista menanyakan pesanan saya dengan ramahnya, saya menjawab dengan datar. Kepala saya malah dipenuhi kutukan kepada langit yang menurunkan hujan.

Tuhan seperti sedang menggelitik saya yang sedang cemberut ini. Bahwa hujan tidak perlu saya rutuki. Lihatlah, Ia menurunkan hujan bukan untuk mencegah saya pulang cepat, tapi untuk memberikan rezeki kepada anak-anak ojek payung itu.

Tuhan sungguh Adil. Mungkin Tuhan ingin saya rehat sejenak dengan duduk-duduk di sudut kedai kopi. Menyeruput kopi sambil menikmati hujan seraya melihat-Nya membukakan pintu rezeki bagi yang lainnya. Hari itu, saya memandang hujan bukan lagi dengan menggerutu, tetapi dengan raya syukur.

Semoga anak-anak itu diberikan rezeki yang lancar; serta tetap sehat meski habis berhujan-hujanan.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Mendapat Pelajaran dari Tuhan Ketika Sibuk Mengutuki Hujan.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Titik Rahayu | @tikkrahayu

seorang kidal yang gemar bermimpi

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar