1K
Bapak itu memilih untuk tetap tersenyum. Ada ekspresi damai yang terpancar. Menyenangkan!

Kemarin, sembari menepi saat hujan untuk mengisi pasokan kafein, saya singgah di sebuah kedai kopi. Saya memilih bangku tinggi dekat jendela dengan kaca yang amat bersih. Rintik hujan sore bertemu genangan air di kolam terasa nikmat untuk diperhatikan, sambil sesekali menyesap minuman yang saya pesan.

Di tepian lahan parkir kedai itu, duduk seorang Bapak. Dia berteduh di bawah pohon kecil dengan bermodal tempat minum dari plastik.

Tak ada cemberut di mukanya. Dia menanti mobil atau sepeda motor menepi dengan memancarkan air muka yang menenangkan, sungguh.

Saya kemudian berpikir, apa dia tidak jengkel karena hujan, apa dia pernah marah karena "hanya" menjadi tukang parkir, apa dia pernah mempertanyakan hidup dan marah kepada diri sendiri.

Semua pergulatan itu muncul sebab itulah yang tengah saya rasakan setelah melewati rangkaian pagi yang agak tak mengenakkan hati. Saya mengasihani diri sendiri, mempertanyakan mengapa saya tidak mampu melakukan banyak hal. Mengapa ada kesialan yang sepertinya datang beruntun tanpa permisi.

Memperhatikan Bapak parkir itu tak terasa membuat saya tersenyum. Saya menyadari bahwa selalu jadi pilihan kita untuk merespon kondisi yang terjadi. Apakah membenarkan diri untuk menjadi menyebalkan, atau tetap giat mengerjakan yang terbaik.

Bapak itu memilih untuk tetap tersenyum. Ada ekspresi damai yang terpancar. Menyenangkan!

Kopi di gelas saya habis, dan memang waktunya pulang. Saya mengambil selembar uang, berniat memberikan lebih kepada Bapak itu. Rasanya kasihan, dia harus berhujan-hujan menjaga lahan parkir. Saya berjalan ke arah motor saya dengan satu tote bag warna biru yang saya ingin taruh di gantungan depan sadel.

Bapak itu menghampiri. "Mbak, jangan taruh sana. Ini masih gerimis, nanti basah."

Saya agak terkejut dia mau tanggap dengan hal kecil ini. Saya pun mengeluarkan sertifikat dari tote bag itu dan memasukkannya ke dalam ransel agar aman. Tiga buku modul agak tebal saya biarkan tetap di sana. Gerakan saya agak terburu-buru, sebab merasa gerimis perlahan berubah lebat. Tanpa sadar, saya tidak meletakkan tote bag di gantungan motor dengan benar. Bapak itu, tanpa saya minta, membenarkan posisi tote bag saya.

"Hati-hati mbak di jalan, lagi licin," ujarnya sambil menarik motor saya mundur.

Saya berikan selembar uang, dan berkata bahwa kembaliannya dapat ia simpan saja. Bapak itu tersenyum agak kaget, dan berterima kasih sedemikian.

Awalnya, kembalian itu adalah wujud rasa kasihan saya kepadanya. Tapi di lahan parkir itu, saya putuskan mengubahnya. Kembalian itu bukan lagi wujud kasihan, tapi bentuk penghargaan dan rasa terima kasih. Atas contoh yang dia tampilkan untuk terus bersikap baik, bahkan ketika kehidupan tak ramah--dan pastinya, atas layanan yang prima.

Pengalaman ini membuat saya teringat kisah yang dibagi seorang kawan beberapa waktu lalu, tentang seorang koki yang memasak mie goreng. Saya ingin mengutipnya singkat:

“Saya sempat berpikir, apakah higienis jika seorang juru masak memasak sambil bernyanyi? Entahlah. Saya tidak tahu. Jujur, buat saya, yang lebih menarik adalah menyaksikan kegembiraan seseorang saat bekerja. Kegembiraan yang apa adanya. Bekerja dengan hati yang gembira. Berapa banyak di antara kita yang ingat melakukannya?”

Cerita ini menggoreskan noktah penting lain yang senada: ketulusan saat bekerja. Bahwa mie goreng enak yang kawan saya nikmati bukan hanya lahir dari keterampilan memasak seorang koki, namun juga ketulusan dan kebahagian yang bersatu di dalam panas wajan penggorengan.

Dua penggalan kisah ini menjadi penyemangat penting bagi saya untuk memelihara dua hal dalam diri: ketulusan dan kegembiraan. Karena siapa tahu, dua hal itulah yang akan jadi sayap penopang paling kokoh ketika banyak hal terjadi di luar rencana. Lagipula, aura bahagia penuh ketulusan bukan saja akan membuat saya bekerja dengan prima, tapi juga bepeluang menghangatkan hati orang lain untuk bertindak serupa.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Ingin Bekerja Setulus Bapak Penjaga Parkiran.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Claudya Elleossa | @claudyaelleossa

Mencintai literatur dan Indonesia. Guru muda sanguin-koleris yang memiliki 150 mimpi untuk dicapai. Aktif membagi gambar dan mudah dihubungi melalui instagram @adisscte

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar