827
Saya tahu, sebagai manusia, kita pasti pernah merasa kehilangan. Satu hal yang pasti, saya benci rasa itu.

hilang /hi-lang/ v. tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan;

kehilangan /ke·hi·lang·an / n. hal hilangnya sesuatu; kematian;

"Ada kenangan ditinggal orang kah?"

"Dibilang iya, memang ada, sih..."

"Ditinggal siapa? Bukankah seharusnya kamu harus mencoba untuk bangkit kembali dan melupakan masa lalu?"

Saya terdiam. Seseorang yang baru mengenal saya lagi-lagi mengingatkan saya, saya harus bisa bangkit. Saya harus bisa melupakan masa lalu saya dan mencoba untuk menjalani hidup yang baru. Menjalani hidup tanpa terbayang apa yang telah terjadi di masa hidup saya sebelumnya.

Sayangnya, saya merasakan rasa yang selalu tidak saya inginkan. Saya merasakan kehilangan. Saya merasakan hati saya kosong dan tak berisi. Saya benci merasakannya.

Pada dasarnya, saya menyadari bahwa apapun yang ada di dunia pasti akan menghilang. Baik secara sengaja maupun tidak. Saya pun menyadari bahwa semua orang pasti akan pernah merasakan kehilangan. Baik kehilangan secara fisik maupun emosional. Kehilangan pun bisa berbentuk apa saja. Akan tetapi, saya tetap merasa bahwa saya membenci rasa kehilangan. Saya benci merasa tidak berdaya. Saya benci kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk, lama-kelamaan memudar. Bahkan tak bersisa lagi. Saya benci itu.

Saya suka berkenalan dengan orang baru dan saya mudah untuk percaya dengan orang tersebut. Saya bisa menceritakan apa saja dengannya. Saya selalu berasumsi bahwa perkenalan saya dengannya akan bisa berlangsung lama dan berujung pada pertemanan. Atau setidaknya, berhubungan baik. Akan tetapi, saya selalu lupa. Ada kalanya saya tidak dapat meminta seseorang untuk tetap mengikuti saya. Dalam artian, saya tidak dapat meminta dia tetap meladeni saya, Saya harus siap ketika dia tiba-tiba menghilang dari kehidupan saya. Menghilang tanpa kata dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya harus siap.

Meskipun begitu, sayangnya saya selalu lupa. Saya selalu lupa kalau semua orang bisa meninggalkan saya kapan saja. Apapun alasannnya. Pada akhirnya, ketika mereka meninggalkan saya, saya belum siap, Salah. Saya sama sekali tidak siap. Saya tidak sanggup. Lalu, apa yang bisa saya perbuat? Tidak ada. Saya tetap merasakan kehilangan dan saya benci rasa itu. Saya ingin berteriak, "saya butuh kamu!" Akan tetapi, saya menyadari, saya tidak dapat mengatakannya.

Saya hanya bisa pasrah saat dia pergi. Saat dia meninggalkan rasa kehilangan yang menganga diri saya. Saya hanya bisa diam dan mencoba berbagai cara untuk "mengikhlaskan". Omong kosong? Memang. Bagaimana saya bisa ikhlas ketika dia meninggalkan saya dan menimbulkan luka? Bagaimana saya bisa memahami apa yang telah dia lakukan? Entahlah. Yang pasti, saya tidak bisa mencegah diri saya sendiri merasakan kehilangan dan saya masih tetap membenci rasa itu hingga sekarang.

Tapi, jika kehilangan adalah rasa yang saya benci, apa sesungguhnya yang dikatakan kebencian itu tentang saya? Tentang apa-apa yang saya cintai? Apa sebenarnya yang begitu saya cintai, yang begitu terasa penting dan berharga dalam hidup ini, hingga saya membenci kehilangan? Ketika saya mengatakan 'benci' kehilangan, apa yang sebenarnya saya inginkan, apa yang sebenarnya saya cintai?




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Saya Benci Rasa Kehilangan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Puji P. Rahayu | @PujiPRahayu

The Sun and the Red Glow of the Dawn. Passionate on reading and writing. Grateful for everything that happened in my life.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar