2.3K
Layaknya kebanyakan keluarga muslim, setiap keluarga saya berjumpa atau berpisah, kami saling mengucap assalaamu alaikum – wa alaikum salaam. Begitu pula semalam. Seperti biasa, ketika saudara saya pamit pulang setelah berkunjung ke rumah, kami dengan ringan mengucapkan salam seraya melambaikan tangan.

“Seperti biasa.” Sungguh sebuah jebakan halus. Hal-hal yang telah terasa biasa, yang terus-menerus kita lakukan, yang (terlalu) sering kita lakukan, suka membuat kita alpa akan apa yang sesungguhnya kita ucapkan atau lakukan.

Tengoklah kebiasaan kita bangun pada pagi hari, ke kamar mandi, menggosok gigi, dan sebagainya. Semua berjalan otomatis tanpa kita sadari. Atau ketika kita tiba di suatu tempat yang biasa kita kunjungi, sekelebat kita mengucap selamat pagi tanpa benar-benar mengucapkannya dari hati pada orang yang kita lewati.

Bahkan tak jarang bagi kita yang menyetir kendaraan sendiri, kita merasa tiba-tiba sudah sampai. Kita tidak ingat lewat mana saja kita, apa yang kita lewati, atau apa tadi kita berbelok, lurus, berhenti, jalan terus dengan sadar. Seberapa sering kita salah belok ketika mau ke tempat baru; karena pikiran kita berkelana dan tanpa sadar kita berjalan menelusuri jalur yang biasa kita lalui (ke kantor, sekolah, rumah), ketimbang ke tempat yang kita tuju.

Demikian dengan salam yang biasa kita ucapkan setiap kita bertemu atau berpisah. Sedemikian sering kita mengucapkannya, hal itu telah menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang baik, tentunya. Namun, karena terlalu sering, kita bisa jadi alpa untuk benar-benar menghayati apa yang kita ucapkan.

Dalam keadaan tenang seperti ketika menyimak tulisan ini, coba kita ucapkan lamat-lamat kalimat salam itu. Sambil membayangkan wajah seseorang yang kita ucapkan salaam tersebut, saudara kita misalnya. Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barrakatuh. Semoga kedamaian/keselamatan terlimpah kepadamu, serta rahmat Allah, dan berkah-Nya.

Membayangkan wajah saudara tercinta dan mengharapkan agar ia terlimpahi keselamatan dan kedamaian. Agar ia selalu selamat tak kurang apapun, selalu damai – salaam, yang dalam bahasa Arab mengarah kepada rasa damai yang hadir dari Sang Maha Sempurna (Peace of Perfection).

Terlebih bila kita membayangkan segala kemelut hidup yang dihadapi oleh saudara kita – yang mungkin hanya seujung puncak gunung es dari kondisi sesungguhnya. Kemudian kita mendoakan setulus hati agar ia terselimuti oleh rasa damai yang dilimpahkan oleh Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Terlingkupi oleh rahmat dan berkah-Nya.

Bila kita meresapi apa yang sebenarnya kita haturkan untuk saudara kita tercinta. Setiap kita bertemu. Setiap kita hendak berpisah. Mengharapkan dengan segala ketulusan agar ia terlingkupi oleh kedamaian, rahmat, dan berkah. Sungguh luar biasa dalam dan menyentuh.

Kalau saja kita menghayati ucapan kita, minimal seperti yang terpapar di atas, setiap kita mengucap salam. Kalau saja kita bisa berhenti sejenak, menggenggam tangan saudara kita dengan hangat, menatap matanya seraya tersenyum, mengucap setiap kata salam dengan totalitas kehadiran kita. Mungkin kita akan luruh dalam haru setiap mengucapkannya, atau mendengarnya.

Itu baru ucapan salam. Bila cara berlaku yang serupa kita terapkan dalam setiap ucapan dan tindakan kita, bayangkan betapa totalnya kita hadir sebagai insan. Setiap kita menjabat tangan. Setiap kita tersenyum. Setiap kita memeluk orang terkasih. Setiap kita memberikan atau menerima sesuatu dari orang lain. Setiap kata yang terlontar dari mulut. Setiap kita menyuapkan makanan atau menenggak minuman. Setiap kita melangkah menjejakkan kaki di permukaan bumi. Setiap kita menyadari napas keluar dan masuk dalam hidung. Hingga hal-hal terhalus yang kita lakukan.

Mungkin pada tiap-tiap saat itu, kita secara otomatis akan menjadi jauh lebih berhati-hati dalam berpikir, berucap, atau bertindak. Kita akan jauh lebih menghargai, dan mensyukuri hidup. Hati kita akan lebih terasah lembut dan santun. Jiwa kita eling lan waspada – sadar akan kehadiran-Nya dalam setiap saat hidup kita.

Wassalaamu alaikum.

Semoga keselamatan terlimpah kepadamu.

May peace be upon you.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Sadarkah Kita Seberapa Dalam Doa yang Kita Haturkan Saat Mengucap Salam?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar