600
Rumah merupa kenyamanan dari suatu tempat yang familier, namun juga kekakuan akan sesuatu yang telah ditentukan, dan tak dapat diubah.

Ada suatu perasaan yang membuat saya suka bepergian sendiri, terutama ke tempat-tempat asing.

Pertama, secercah rasa kemenangan, kedewasan, serta kemandirian dan kebebasan. Berjalan sendiri menyusuri bandara dengan kedua tangan menggenggam erat gagang koper dan paspor, atau tas ransel dan plastik berisi makanan. Perasaan dewasa karena tangan kita tidak lagi menggandeng tangan orangtua, dan kelaparan kita dibalas dengan makanan yang dibeli oleh uang dari kantong kita sendiri—walaupun mungkin, sebagian uang itu juga pemberian orang tua kita.

Kedua, perasaan berani. Kita bersendiri, berusaha mencari dan menentukan jalan kita sendiri. Kita mungkin salah mengambil jalan atau kelelahan sebelum sampai tujuan, namun kita tidak perlu mempertanggungjawabkan perjalanan dan pilihan kita kepada siapapun. Benar dan salah tidak lagi menjadi persoalan ketika kita sendiri yang melakukan penilaian. Lalu, sama seperti keberanian mencari jalan, kita juga berani mencari jati diri. Kita berani mengeluarkan sifat-sifat yang tidak biasa kita tunjukkan. Kita tidak dibebani konsistensi atau apa-kata-orang. Konsekuensinya, kita dapat menjadi apapun dan bagaimanapun yang kita inginkan.

Kepulangan, sebaliknya, membawa segenggam kepahitan buat saya.

Kepulangan dapat terasa manis, namun hanya jika kita menyukai rumah. Sayangnya, bagi banyak orang, termasuk saya, rumah tidak selalu menjadi tempat yang menyenangkan. Rumah merupa kenyamanan dari suatu tempat yang familier, namun juga kekakuan akan sesuatu yang telah ditentukan, dan tak dapat diubah.

Di rumah, terdapat sebuah struktur yang tidak terlihat. Struktur tersebut menentukan siapa diri kita, bagaimana kita biasa (atau seharusnya) bersikap, apa yang kita sukai, dan tidak sukai. Struktur tersebut semu, dan hanya hadir sebagai persepsi orang lain terhadap kita, akan tetapi bukan sesuatu yang mudah kita lawan.

Secara alami, kita mengikuti dan mengabdikan diri kita pada ekspektasi-ekspektasi yang muncul dari rumah. Kita masih dapat bahagia dalam struktur itu, namun kebahagiaan yang terbesar hanya dapat dicapai ketika kita mampu merasakan kebebasan.

Saya selalu berkata, bahwa ketika kita berpergian sendiri, kita tidak akan salah jalan. Karena, ketika tidak ada yang menentukan tujuan mana yang harus didatangi, tidak ada jalan yang benar maupun salah. Begitulah kira-kira kebebasan yang saya dapatkan ketika berpergian seorang diri.

Obat dari ketakutan saya akan rumah dan pulang, adalah kerinduan—dan ini masalahnya.

Kita tahu kita bisa mengecap kebebasan di luar rumah, tapi kita seringkali merelakan kebebasan itu setelah beberapa saat, untuk sesuatu yang lebih kita cintai.

Maka, ketika kita merindu—entah rindu pada orang-orang yang kita kasihi, atau rindu pada suasana toko kopi remang-remang yang menemani kita mengerjakan tugas sampai pagi menjelang—kita ingin kembali dikerangkeng dalam struktur yang terasa familier.

Oleh karenanya, muncul sebuah ketakutan lain akan pulang. Karena rindu tidak selalu manis, dan kita takut akan rindu yang pahit. Kita takut bahwa kerinduan kita tidak terbalaskan atau terpuaskan.

Sebagai konsekuensi yang sama dari keinginan kita untuk bebas menjadi apapun, kita takut akan tidak diterima. Maka, tidak ada yang lebih menakutkan dari melihat tumpukan rindu yang kita bangun pada setiap detik kepergian kita hilang ditiup angin dengan mudahnya—karena diabaikan begitu saja.

Kita sering dimabukkan dengan bayang-bayang romantisme kepulangan.

Kita membayangkan adegan dijemput di bandara oleh orang tersayang. Kita membayangkan senyuman-senyuman dan sapaan ramah dari mereka yang menyambut kedatangan kita di tempat kerja. Kita membayangkan bahwa kita manusia baru yang lebih baik, yang dikagumi oleh para kawan lama.

Jadi, tidak heran bila kita akan patah hati pada kenyataan bahwa kita justru pulang kepada wajah-wajah yang tidak memancarkan sedikit pun ketertarikan, kerinduan, atau bahkan tidak menyadari kepergian kita. Kita terpaksa kembali begitu saja dan segera mengikuti rutinitas lama seolah kita tidak pernah pergi kemana-mana.

Semuanya, buat saya, berakar pada keinginan kita untuk diterima. Pada akhirnya, saya merasa bahwa saya pergi agar bebas menjadi diri yang biasanya tak diterima, lalu kembali pulang dengan menyimpan harap: bahwa diri saya yang baru ini, bisa kembali diterima.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Rumah dan Ketakutan akan Pulang.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar