2.4K
Ketika kita dihadapkan pada dua hal, sejatinya kita tak mampu menjalankan keduanya. Jika memang harus memilih, maka pilihlah, dengan hati dan hati-hati.

Pernahkah kamu begitu sulit menentukan pilihan?

Saat dua hal seakan menjadi prioritas namun hanya mampu menjalani salah satunya saja. Jika pernah, apakah keputusanmu sudah bulat dan kau jalankan sepenuh hati?

Saya dan pekerjaan saya sebagai seorang tenaga kesehatan sangat sulit mengabaikan satu bahkan ratusan pasien hanya demi lima menit bermain bersama anak. Tangis manjanya membuat saya betah berlama-lama mengikuti alunan nada dalam batin yang bergejolak. Nada-nada yang memerintahkan badan saya untuk berputar arah kembali ke rumah.

Sekali dua kali saya pergi dengan paksa, nyatanya hati tak mampu bersikap dewasa. Bercanda dengan rengekan anak bukan hal yang patut diteruskan. Akankah saya berdiri tegak tanpa menoleh sedikitpun pinta sang buah hati? Saya benar-benar telah menjadi seorang ibu. Bukan hanya menyediakan makan dan minum untuk hidupnya. Saya merasa wajib menyediakan bahu untuknya bersandar, menyediakan dada untuk dipeluknya erat hingga terdengar suara detak jantung yang membuatnya nyaman.

Buah hati saya akan tumbuh dengan cepat. Secepat saya merindukan senyumnya ketika saya harus bekerja. Berhadapan dengan obat pahit yang tak disukai anak, melihat jarum suntik yang ditakuti oleh anak. Lalu jadwal yang berderet membuat saya semakin merasa ngilu.

Nak, uang mungkin bukan segalanya, tapi kita juga butuh uang untuk membeli sebuah tahapan dalam hidup.

Mulai dari perut kenyang hingga waras menjalani kehidupan. Ibu sangat percaya bahwa rejeki telah diatur oleh-Nya bahkan saat kau masih berupa segumpal darah dalam rahim ibu. Namun ketika kau menjadi seorang ibu, kau akan tahu betapa mahalnya menjaga cinta sang buah hati.

Ketika kita dihadapkan pada dua hal, sejatinya tak mampu menjalankan keduanya. Jika memang harus memilih, maka pilihlah. Dan pilihlah dengan hati yang tenang. Percayalah pada pilihan yang kita ambil, bahwa pilihan ini kita ambil berdasarkan niat yang baik, dengan mempertimbangkan situasi baik-baik--tanpa rasa sesal atau bersalah.

Ketika waktu bersama anak menjadi prioritas saya, saya akan mundur satu langkah untuk melompat lebih jauh. Saya berhasil meyakinkan diri dan orang tua saya untuk tidak bergantung pada gaji yang membuat saya mesti meninggalkan sang buah hati berjam-jam lamanya. Saya tidak melempar ijasah yang dengan susah-payah saya dapat. Saya tidak bermaksud merendam rasa bangga orang tua ketika saya mendapatkan gelar Apoteker.

Tak ada pilihan salah atau pilihan benar.

Yang ada hanyalah pilihan terbaik yang dapat kita pilih untuk situasi dan kondisi kita pada saat tersebut. Jadi, jalanilah pilihan itu, dengan hati lapang, dan berlapang pula menerima konsekuensinya.

Saya, dengan rutinitas sebagai ibu beranak dua, memang terlihat merepotkan. Apalagi bila mereka menangis bersamaan. Tapi saya punya satu alasan jika orang-orang di luar sana membandingkan rupiah yang saya dapat ketika saya bekerja dulu. Rupiah yang berangsur-angsur habis dengan sederet kebutuhan hidup. Rupiah yang membuat sang buah hati senang saat mainan baru menjadi miliknya, tapi hatinya tidak segembira itu bila harus bermain sendiri tanpa kehadiran ibunya.

Saya bertanya apa maunya saat tangisnya pecah seakan-akan semua yang saya lakukan salah. Sang buah hati menjawab dalam isak tangisnya. “ Aku ingin dimandikan ibu, aku ingin disuapi ibu, aku ingin bermain bersama ibu.” Lantas apakah saya akan memilih untuk tetap berlari dengan membungkukkan badan agar tak terlihat olehmu demi mengejar rupiah?

Sekarang saat yang tepat bagi saya untuk menata ulang semuanya. Membersamai sang buah hati dan sang pelindungku. Saya siap menjalani aktivitas baru dan siap menerima rupiah yang telah ditetapkan-Nya. Saya telah memilih jalan yang saya rasa baik untuk saya sendiri, yang bisa saya pilih pada saat ini. Rejeki bukan hanya rupiah, tawa anak dan suami juga merupa rejeki yang sedianya saya syukuri. Dan ini adalah pilihan saya.

Pilihlah jalanmu sendiri.

Hanya kita yang tahu jalan mana yang baik untuk diri kita pada tahapan tertentu dalam kehidupan kita. Hormati juga pilihan orang lain. Apa yang baik bagimu belum tentu baik bagi mereka, begitupun sebaliknya. Kita tahu betapa sulit mengambil pilihan, karenanya baik untuk tak menghakimi pilihan yang sudah diambil orang lain--mereka pun sudah menimbang-nimbang pilihannya dan sudah berpikir masak-masak.

Jadi, sudah mantap dengan keputusanmu? Pilihlah dengan hati, juga dengan hati-hati. Dan kau akan menerima lebih baik dari yang kau bayangkan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pilihlah Keputusanmu dengan Hati, Juga Dengan Hati-hati.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Marthalena Bajuku | @marthalenabutikbajuk

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar