6.6K
Beberapa waktu lalu, seorang teman membagi artikel yang kurang lebih judulnya mengatakan: memang kenapa kalau saya ingin hidup yang biasa-biasa saja? Sejenak saya mengernyit, karena yang pertama terpikir adalah: sayang sekali potensinya.

Saya dapat merasakan alasan di belakang pernyataan itu. Bisa jadi kita mulai tidak nyaman dengan standar dan tekanan sosial – dari orang terdekat, keluarga, sahabat, rekan kantor, atau masyarakat. Kita mulai menyadari bukan itu hal yang kita inginkan untuk diri kita. Bolehlah kita melakukan hal-hal yang kita sukai tanpa ada tekanan dari siapa pun di luar kita.

Selain tidak nyaman terhadap standar sosial, terdapat alasan lain yang sering kita ucapkan ketika kita merasa terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang biasa kita lakukan. Kita mengatakan, "Siapalah saya ini. Saya belum pantas untuk menjadi seperti itu." Atau, "Banyak yang lebih baik daripada saya."

Seberapa sering kita menjadikan pendapat ini sebagai alasan untuk menghindari sebuah kesempatan?

Beberapa mengartikan pernyataan ini sebagai cermin kerendahan hati seseorang. Beberapa lain bilang ini menandakan rasa rendah diri – kecenderungan menilai diri lebih buruk dari potensi sesungguhnya.

Namun, pernahkah terlintas dalam benak bahwa pandangan "siapalah saya" merupakan suatu perwujudan ego kita?

Memang, ketika menyebut kata ego, kita cenderung mengasosiasikannya dengan hal-hal yang terasa agresif, seperti kesombongan, sikap mau menang sendiri, atau keinginan untuk tampil atau dinomorsatukan.

Jarang ego dikaitkan dengan hal bersifat 'kecil'. Seperti ketidakpercayaan diri, keinginan untuk tidak menonjolkan diri, atau sikap untuk mendahulukan orang lain untuk tampil ketimbang kita.

Padahal, ego bisa mengenakan pakaian seperti ini.

Mengatakan “siapalah saya untuk menjadi X atau melakukan Y” masih menyertakan kata "saya" di sini. "Saya" masih menjadi subjek dalam pembicaraan. Seperti yang pernah Kepala Sekolah saya katakan, "Do you think it is about you? -- Menurutmu, semua ini tentang dirimu?"

Ketika ternyata diri masih lebih penting dari pesan atau manfaat

Misalkan kita memiliki talenta tertentu, seperti pandai berkreasi (seni gerak, seni rupa, bernyanyi, hastakarya, memasak, dll), andal dalam mengorganisir kegiatan, atau cakap menghubungkan satu pihak dengan yang lain. Namun karena kita memiliki pandangan bahwa ada yang lebih cakap, atau kita khawatir mengecewakan, kita bilang "siapalah saya" dan kita menyusut kembali ke pojok nyaman kita.

Akibatnya, kita menghalangi orang lain untuk menikmati karya kita. Padahal siapa tahu ada yang bisa terhibur ketika menikmati karya kita tersebut. Atau bisa juga akibatnya acara menjadi kurang teroganisir dengan baik: ada orang-orang yang tidak terhubung karena kita tidak menjembataninya.

Ada pesan-pesan Semesta melalui kita yang tak tersampaikan pada orang-orang tertentu.

Kita menghalangi orang lain untuk mendapatkan manfaat yang sebenarnya bisa mereka dapatkan melalui kita. Kita pun menghalangi diri untuk mengejewantahkan potensi kita sesungguhnya, sebagai rahmat bagi semesta alam. Kita telah menghalangi Cahaya kita untuk memancar leluasa.

Dari sudut pandang lain, bisa jadi secara tak sadar, kita telah mengedepankan diri kita, untuk alasan apapun, dan membiarkan orang lain tidak menerima manfaat yang dibutuhkan. Bukankah hal ini merupakan tindakan egois?

Bukankah hal ini adalah juga masalah ego?

Menilik alasan di balik keengganan

Bila kita sudah mulai mengakui hal ini, maka ini merupakan undangan Semesta untuk lebih membebaskan Cahaya kita untuk bersinar lebih terang. Untuk sekali lagi mengupas satu lapisan bawang kita sehingga kita menjadi semakin jernih dan mendekat ke pusat diri. Secara jujur dan hening, kita bisa tanyakan kepada diri kita apa yang menghalangi jalan itu.

Pandangan atau cerita apa dari diri yang menghalangi itu semua?

Tentu banyak cara penggalian diri guna mencari semua alasan di balik ini dan merilekskan diri sehingga kita bisa dengan ringan memanifestasi potensi kita. Ada dua hal yang ngin saya bagi dalam artikel ini. Yang pertama ingin saya ceritakan adalah teknik menulis gegas.

Menulis gegas adalah latihan untuk membebaskan diri kita berekspresi melalui tulisan tanpa terhalangi pikiran. Langkah-langkahnya kira-kira demikian:

  1. Siapkan kertas dan alat tulis. Lebih baik menulis dengan tangan -- kertas dan alat tulis -- sehingga yang terekspresikan akan lebih alam mengalir.
  2. Tentukan waktu kita akan menulis. Misal bisa mulai dengan tiga menit.
  3. Bisa hadirkan pertanyaan atau pernyataan sebagai pemancing kita menulis.
  4. Menulislah selama waktu yang ditentukan. Tanpa henti. Tanpa berpikir. Tanpa menyunting tulisan. Biarkan tangan kita terus bergerak untuk menulis.

Setelah selesai, baca ulang apa yang kita tulis. Tanpa mengkritisi atau berusaha mengingkari, terima ini sebagai salah satu ekspresi jujur kita pada saat itu. Kalau terasa mustahil, tidak perlu ditepis sebagai karangan belaka. Terbukalah bahwa yang tertuang merupakan sebuah kemungkinan.

Cara kedua yang ditawarkan adalah cara yang lebih langsung. Sesederhana: lakukan saja. Selama kesempatan yang ditawarkan kepada kita tidak berlawanan dengan nurani, tidak melanggar norma hukum atau sosial, tidak menerabas hak orang lain, dan akan membawa manfaat, lakukan saja.

Untuk saat ini, tidak perlu terlalu memedulikan semua keraguan dan pertanyaan seperti: "Tapi bagaimana kalau ..." Atau bisa juga setiap keraguan atau pertanyaan yang muncul kita catat dalam hati sebagai bahan kontemplasi kemudian. Tapi tetap, lakukan saja.

Akan menarik melihat semua catatan keraguan dan pertanyaan dalam diri yang muncul selama proses ini. Siapa tahu catatan itu menunjuk pada pandangan-pandangan pribadi (termasuk nilai-nilai yang kita pegang) yang selama ini mewarnai semua keputusan kita tapi belum kita sadari. Dari situ, kita bisa belajar tentang diri lebih dalam, dan mulai melepas.

Sesuai kesiapan dan kesediaan

Tentu saja, semua ini merupakan pilihan kita. Bila terasa memberatkan atau memang belum siap, tidak ada yang dapat memaksa kita menjalani proses ini. Selain itu, bisa jadi memang bukan atau belum menjadi porsi kita untuk melakukannya. Belum waktunya dan itu tak mengapa.

Pada akhirnya, kita memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang ingin atau tidak ingin kita lakukan; dan bagaimana kita melakukannya. Perjalanan ke dalam diri akan mengasah hati kita untuk bisa lebih paham apa sebenarnya yang menjadi preferensi kita.

Segala hal yang muncul bisa menjadi rambu-rambu dan sapaan alam yang mengarahkan kita selama perjalanan. Semua ini memerlukan kejujuran, keberanian, dan – yang sering terlupakan – kelembutan dan cinta-kasih.

Semoga kita dapat semakin jujur dan lembut dalam menapaki hidup.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pernyataan “Siapalah Saya...” Tak Selalu Mengakar pada Kerendahan Hati.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

sri rejeki swandayani | @srswandayani

terima kasih tulisannya mbak.. keren dan bermanfaat sekali :)