6.6K
Aku tidak tahu bagaimana ia menemukanku. Yang kutahu, suatu hari, 'teman baru' ini sudah mengisi hari-hariku. Dan aku belajar untuk hidup bersamanya. Tidak mudah berteman dengannya. Tapi aku berupaya.

''Mas, aku capek banget. Kamu bisa temani aku pulang ke Bekasi malam ini, nggak?'' begitu pintaku pada Aryudhi.

Aryudhi--atau biasa kupanggil Yudhi--adalah saudara sekaligus pendampingku. Kami sudah saling mengenal selama hampir 1,5 tahun; ketika kami sama-sama bekerja di Jakarta. Tanpa pikir panjang, Yudhi akhirnya menemaniku ke Bekasi.

Dengan jasa transportasi online, kami mulai menuju rumah di Bekasi. Dalam perjalanan, tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang, nafas sesak, dan badan terasa lemah-lunglai. Beruntung, pengemudi jasa transportasi online yang kami tumpangi gesit bergegas mencari rumah sakit terdekat.

Malam itu, aku dilarikan ke RS Islam Cempaka Putih. Aku masih ingat betul bagaimana para tenaga medis menangani kasusku dengan gegas. Cek jantung, tekanan darah, dan kadar oksigen, semua aku lalui saat itu. Perasaan panik dan takut menyelimuti hatiku. Di akhir hari, semua berujung lega. Kondisi kesehatanku dinyatakan bagus.

"Lalu aku sakit apa?'' batinku dalam hati.

Dokter memperbolehkanku pulang pada pagi hari itu juga, pukul 1 dinihari. Namun aku meminta untuk istirahat/opname saja karena kondisi badan masih lemas. Rasanya tak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Bekasi. Keesokan harinya, aku bertemu dengan dokter spesialis penyakit dalam. Menurut diagnosa beliau, aku menderita anxiety disorder, atau gangguan kecemasan.

Tepat di bulan Agustus 2016 itulah aku pertama kali berkenalan dengan 'teman baru'-ku ini.

Ternyata setelah aku pelajari, anxiety disorder merupakan kondisi psikologis seseorang di mana penderita mengalami sensasi seperti debar jantung yang meningkat, sesak nafas, dan lemas ketika menghadapi kondisi yang membuat ia panik. Di awal 'perkenalanku', aku belum bisa mengendalikan kondisi ini; bahkan sampai saat ini pun aku masih berjuang untuk menghadapinya.

Meski sulit menerima 'teman baru' yang datang tanpa diundang ini, ia perlahan sudah menjadi kawan keseharianku. Aku mulai terbiasa mempersilakan sensasi itu datang, dan aku hadapi sampai sensasi itu pergi dengan sendirinya.

Tak banyak orang yang paham akan kondisiku ini. Tapi aku beruntung dikelilingi orang-orang yang sangat suportif. Mereka mau mendengarkan setiap ceritaku, dan tidak melabeli apapun akan kondisiku. Ini bagian hidup yang mewarnai hari-hariku sejak saat itu. Tentu, tidak mudah dijalani. Aku juga berjibaku dengan tangisan dan kemarahan, namun bahagia juga masih kerap hadir menyeruak.

Aku tahu rasa takut dan khawatir yang dirasakan mereka yang juga berada dalam kondisi ini. Tapi, ketahuilah, bahwa kita tidak sendirian. Selama masa 'perkenalanku' dengan 'teman baru' ini, ada beberapa hal yang kupelajari:

1. Kondisi ini juga bagian dari pelajaran tentang mencintai dan mengenali diri kita lagi

Kesibukan di Jakarta, cita-cita dan harapan yang terlalu jauh, dan bayangan masa lalu telah menyita waktu kita untuk fokus dan memperhatikan diri kita sendiri. Semua didahulukan, tanpa mempertimbangkan apakah diri kita bahagia atau tidak. Mungkin jika aku tidak mengalami kejadian ini, aku tidak akan mengenal baik siapa diriku, kapasitas diriku, dan bagaimana seharusnya aku merawat diriku. Jadi, proses ini aku gunakan untuk benar-benar mengenal pribadiku yang sesungguhnya.

2. Aku jadi tahu bagaimana menyalurkan passion dan hobi

Semenjak didiagnosa dengan anxiety disorder, aku belajar bahwa menulis dan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan hobi dan seni ternyata baik untuk terapi. Jadi, hobi yang telah lama malas kusentuh, yaitu menulis, sekarang bisa kugeluti lagi. Tiap hari, aku tidak pernah lepas dari buku jurnal dan pulpen. Jadi ketika perasaan tidak enak atau sensasi gangguan kecemasan itu muncul, aku mencoba untuk meluapkan semuanya ke atas kertas. Selain itu aku, mulai berbisnis pop up frame dengan partnerku Vanessa. Aku bersyukur bisnis ini juga masih berjalan hingga saat ini, dengan beberapa pencapaian yang sudah kami terima. Jadi, bahkan ketika si 'teman baru' ini hadir dalam hidup kita, tetaplah mendorong diri melakukan aktivitas yang menyenangkan dan positif, ya!

3. Lebih banyak mendapat teman baru dengan bergabung di beberapa komunitas

Kita berhak memilih teman atau komunitas mana saja yang baik dan memberikan dampak positif untuk kita. Jadi saranku, akan percuma membuang waktu jika kita memaksakan diri masuk ke lingkungan yang hanya memberikan efek negatif. Semenjak direngkuh oleh komunitas Girls In Tech Indonesia, aku mendapat banyak sekali teman-teman baik yang menginspirasi dengan cerita-cerita sukses mereka. Aku juga jadi merasa terdorong untuk bisa membantu dan memberikan dukungan kepada sesama perempuan di Indonesia pada khususnya.

4. Lebih banyak waktu dan perhatian untuk keluarga

Aku menyadari bahwa keluarga, baik jauh maupun dekat, buruk maupun baik, adalah orang-orang yang tak akan pernah pergi. Jadi, lagi-lagi jangan pernah berpikir bahwa kita tak punya siapa-siapa. Pada momen inilah aku lebih sadar bahwa keluarga adalah orang-orang yang bisa menerimaku apa adanya, bahkan dengan kondisiku sekarang. Jadi, aku pun mulai banyak meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan mereka, walaupun hanya melalui pesan instan di telepon genggam.

5. Semua yang terjadi adalah kuasa-Nya, jadi kuserahkan semua kepada-Nya

Kadang aku lupa hal ini, dan tenggelam serta terobsesi mencari-cari cara untuk mencegah, meminimalisir, atau menyingkirkan gangguan kecemasan ini. Semua mulai membaik ketika aku berserah dan percaya bahwa apa yang terjadi padaku akan memberikan pelajaran baik bagi hidupku. Lewat kondisiku, aku diajak untuk kembali mendekat kepada Sang Ilahi, dan memperbaiki apa yang belum baik dari diriku. Aku banyak berdoa dan berbuat lebih banyak kebaikan, dan batinku pun terasa lebih tenang.

6. Memaafkan

Ini kunci utama dari semuanya untukku. Ikhlas memaafkan orang-orang yang pernah membuat kita jatuh/ sedih. Memaafkan apa yang pernah mereka perbuat. Ini tidak mudah, tapi kita pasti bisa. Memang butuh proses panjang, tapi kita nikmati saja. Setelah berhasil memaafkan sedikit demi sedikit, perlahan ada senyuman kecil yang berujung dengan tawa lebar. Hati terasa ringan. Memaafkan adalah hadiah yang kuberikan untuk diri sendiri.

Jadi, jika anxiety disorder adalah kawan barumu, coba bicara dengannya dan kenali dia lebih dekat. Apa yang sedang coba ia katakan kapadamu, tentang hidupmu? Apakah ia sesungguhnya membawa pesan baik bagimu?

Berdamai dengan anxiety disorder (alih-alih membencinya) adalah langkah pertama yang membantuku untuk hidup bersamanya. Ketika aku sudah mempelajari apa yang perlu kupelajari, kuharap aku juga bisa mengucapkan terima kasih pada 'temanku' itu, suatu hari nanti.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perkenalkan, Ini Teman Baruku. Namanya Anxiety Disorder.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Diah Rahmawati | @Diahrahmawati88

Hidup. Nikmat dari Sang Maha yang paling berharga. Lalu, untuk apa kita hidup kalau tidak mau berbagi untuk sesama? Menulis bukan hanya baik untuk raga, sekaligus terapi untuk jiwa.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar