3.1K
Aku menangis dan nyaris histeris melihat bayiku, yang baru berusia 3 hari disuntik kedua tangan dan kaki, ditambah berbagai selang yang dipasang di badannya.

Saat ini, anakku menginjak usia 13 menjelang 14 tahun; dengan berat badan 55 kg, dan tinggi 175 cm. Alhamdulillah, secara fisik baik, aktif, dan jarang sakit. Ia suka olahraga basket dan berenang. Karena dari kecil biasa minum air putih dan susu putih (non perasa dan pemanis), jadi berat dan tinggi badannya bisa dibilang seimbang.

Dulu lahirnya normal atau Cesar? Pasti dapat ASI sampai 2 tahun, ya? Makanya anaknya tinggi dan sehat. Ini beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepadaku dari dulu, bahkan hingga sekarang anak sudah menginjak usia remaja. Lalu apa jawabanku?

Duduk yang manis, aku ceritakan semuanya.

Anakku lahir secara normal dengan berat 4,3 kg dan tinggi 53 cm. Untuk ukuran bayi, ia termasuk besar, sehingga tidak nampak seperti dilahirkan pada umumnya. Proses kelahirannya sendiri tidak lumrah. Dokter sebenarnya sudah mempersiapkan untuk Cesar karena bayinya besar. Leher bayi terlilit usus dan aku terkena asma. Tapi, hari itu aku terjatuh, dan mengalami pendarahan pada malam harinya.

Subuh-subuh ke dokter ternyata sudah bukaan 8. Padahal perkiraan lahirnya masih 3 minggu lagi.

Nggak ada pilihan lain. Kata dokter, "Mari, Bu. Kita coba lahir normal." Sudah bukaan 8 senang, dong! Berarti tinggal sebentar lagi! Tapi ternyata ketika sampai pada bukaan 10, bayinya berhenti. Macet. Maju nggak, mundur nggak. Rasanya? Sakit luar biasa.

Bahkan sampai sekarang masih suka terbayang rasanya.

Setelah hampir satu jam, baru bayi bisa keluar. Dan aku pun pingsan kehabisan tenaga. Tidak sempat melihat muka bayinya. Siang hari, setelah bayi dibersihkan, baru aku bisa melihat dan menggendongnya. Anak perempuanku telah lahir. Dengan selamat. Alhamdulillah.

Malam harinya, aku kesakitan dan tidak bisa tidur. Sambil berjalan tertatih-tatih aku masuk ke ruang suster. Oleh suster, aku entah dikasih obat apa (nggak sempat nanya dan nggak kepikiran juga saking sakitnya). Suster memberi pesan, "Bu, ini hanya untuk malam ini, ya. Darurat. Besok kalau masih sakit harus ke dokter."

Karena lahir normal, maka aku nggak butuh waktu lama menginap di klinik. Hanya 2 hari satu malam. Akhirnya, anak bisa aku bawa pulang. Urusan selesai? Belum!

Sampai di rumah, aku berusaha memberikan ASI eksklusif. Tetapi, mendadak sore hari badan anakku panas tinggi. Saking paniknya, aku berlari ke rumah tetangga, yang kebetulan seorang dokter.

Ternyata anakku dirujuk ke rumah sakit untuk opname.

Anakku masuk ke ruangan khusus karena bilirubin-nya terlalu tinggi dan panasnya nggak turun-turun. Aku menangis dan nyaris histeris melihat bayiku, yang baru berusia 3 hari disuntik kedua tangan dan kaki, ditambah berbagai selang yang dipasang di badannya. Lemas dan nggak tahu lagi mesti gimana.

Mungkin karena sakit, anakku nggak mau menyusu. Alhasil, payudaraku bengkak dan aku mengalami demam tinggi. Akhirnya aku dan anakku sama-sama opname di rumah sakit, hanya berbeda ruangan.

Karena kejadian itu, ASI-ku keluar sedikit sekali. Lama-lama malah nggak keluar sama sekali ketika anak masih berusia 4 bulan. Aku mencoba konsultasi dengan dokter. Bukannya memberikan solusi, dokter malah justru menyalahkanku, katanya mungkin aku kurang berusaha. Dan aku pun semakin terpuruk rasanya. Pulang dari dokter, aku masuk kamar mandi dan menangis berjam-jam di bawah shower, menyalahkan diri sendiri.

Akhirnya anakku jadi anak "susu formula esklusif". Masalah belum berhenti sampai di sini. Hampir setiap bulan anakku masuk rumah sakit untuk opname. Sakitnya macam-macam: panas tinggi, kejang, diare, benjolan di kepala dan berbagai keluhan lain. Pernah selama dua bulan anakku tidak bisa buang air besar sehingga dokter menyarankan untuk mengganti susu formula dengan yang berbahan soya (kedelai).

Jangan tanya harganya. Mahal minta ampun.

Hingga suatu hari, saat anak menjalani opname, seorang dokter menawarkan pemeriksaan komprehensif. Aku menyetujui.

Hasilnya? Ternyata pertumbuhan bayi saat itu belum sempurna, tapi sudah lahir. Jadi timbul berbagai permasalahan, baik di pencernaan bahkan di sistem saraf. Berbagai treatment harus dijalankan. Kali ini dokternya lebih suportif dan bisa diajak diskusi tanpa menyalahkan aku sebagai ibunya.

Dia bilang, "Kita lihat sampai 2 tahun, ya. Jika setelah 2 tahun tidak kejang dan diare/konstipasi berkepanjangan berarti proses pertumbuhannya sudah normal. Jika tidak, maka perlu pemeriksaan lanjutan dikarenakan bla bla bla..."

Aku pun kembali cemas tak terkira.

Harus menunggu 2 tahun untuk tahu bahwa semua normal? Rasa di-PHP sama mantan nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan ini. Selama proses menuju 2 tahun, anakku rutin menjalani opname di rumah sakit. Sampai platform asuransi habis, dan keuangan berantakan. Aku harus bekerja keras mencari nafkah demi menutup semua biaya.

Tentu sajam dalam perjalanan itu aku berkali-kali menerima pertanyaan, sindiran, tuduhan, serta cercaan karena nggak kasih ASI.

Rasanya?

Hayati lelah luar biasa, Jenderal!

Hingga aku sempat trauma dengan penggiat-penggiat ASI dan memilih menghindar. Kalau perlu nggak usah berteman dulu. Karena aku harus fokus memperhatikan perkembangan kesehatan anak dan bekerja cari uang. Aku nggak punya daya lagi untuk meladeni cecaran pertanyaan kenapa anaknya nggak dikasih ASI.

Dan aku nggak merasa perlu menjelaskan panjang-lebar kenapa nggak bisa memberikan ASI. Pertama, akan berapa lama menjelaskan? Kedua, belum tentu mereka mau mendengar. Dobel capeknya. Memang pernah dicoba? Tentu saja pernah. Dan hasilnya, aku tetap salah.

Sejujurnya, tanpa dicecar orang-orang, aku sudah merasa sangat bersalah tidak bisa memberikan ASI untuk anakku.

Aku tahu persis ASI sangat penting dan paling bagus untuk bayi. Memberikan ASI kepada anak hingga berusia 2 tahun adalah mimpiku dari dulu. Rasanya paripurna sebagai ibu. Tentu saja, selain ASI adalah yang terbaik, pastinya lebih irit. Aku nggak perlu mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk membeli susu soya formula.

Jadi sekarang mengerti, kan? Aku bukanlah ibu yang baik, apalagi sempurna. Anakku besar karena susu formula. Tetapi apakah ini lantas menjadikan aku gagal sebagai ibu?

Aku percaya bahwa setiap ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Setiap ibu punya cara untuk membesarkan anaknya berdasarkan pengetahuan, latar belakang, pengalaman, dan nilai-nilai yang dianutnya. Setiap ibu memiliki gaya yang berbeda dalam merawat dan mendidik anaknya. Mereka punya kelebihan sekaligus keterbatasannya masing-masing. Kita tidak bisa memaksakan cara pandang kita untuk orang lain. Begitu pun sebaliknya.

Sesekali mendengarkan orang lain itu perlu. Tapi jangan sampai menyalahkan diri sendiri.

Jangan pernah terpuruk karena omongan orang lain. Terkadang orang lain yang ngomong pun hanya asal njeplak, kok. Menjadi ibu adalah proses belajar terus-menerus semenjak hamil hingga akhir hayat. Setiap masa usia anak memberikan tantangan tersendiri, bahkan sampai anak kita dewasa, menikah dan memberikan cucu. Dulu waktu bayi masalahnya soal cara melahirkan dan pemberian ASI, begitu dewasa kita ribet dalam urusan naksir-naksiran dan mantu.

Yang terpenting dari semuanya, jalani proses sebagai ibu dengan gembira. Karena dari orangtua yang gembira, anak-anak bisa tumbuh dengan sehat dan bahagia. Jadi ibu adalah belajar tiada akhir. Bisa dari para ahli, membaca buku atau dari sesama ibu. Tetapi jangan pernah terintimidasi atau terbenam dalam rasa bersalah jika ada yang berbeda pandangan atau ketika mendengar komentar orang yang menyakitkan.

Setiap ibu adalah manusia biasa yang pasti melakukan kesalahan. Perbaiki setiap kesalahan dan move on. Karena hidup tidak pernah mundur ke belakang. Jangan biarkan (mulut) orang lain menentukan kebahagiaanmu. Terkadang mereka hanya berkomentar (karena itu paling gampang) tanpa tahu persis apa yang kita hadapi. Terkadang maksudnya baik, tapi mungkin cara penyampaiannya masih menyakitkan.

Sekali lagi, nggak semua perlu didengar. Seringkali, ketika anjing menggonggong, tak cuma kafilah--tapi para ibu pun harus berlalu.

Percayalah wahai para Ibu, bagi anakmu kamu adalah ibu terbaik. Peluk erat untuk semua ibu. Kalian semua istimewa dalam cara kalian masing-masing.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pergulatan Seputar Menjadi Ibu yang Sempurna. Ibu Mengalaminya Juga?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ainun Niswa | @ainuniswa

Seorang Ibu, Social Media Strategist, Community Manager & Content Development. Suka mengajar dan menulis buku & kolom Harian Kompas dan media lainnya. Pendiri Akademi Berbagi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar