1.1K
Diacuhkan, ditolak, dibuang. Mungkin memang itu yang harus perempuan rasakan dalam panjangnya sejarah kita, untuk menjadi lebih kuat.

Kemarin, saya mengobrol dengan seorang teman perihal hubungan laki-laki dan perempuan.

Kebetulan, teman saya ini laki-laki. Jadi dia melihat situasi dengan sudut pandang laki-laki. Di usia saya saat ini, saya rasa bukan hal yang tabu bila hal ini jadi topik pembicaraan di siang hari. Saya pun sering sharing soal ini dengan teman laki-laki saya itu.

Dari obrolan kali itu, saya jadi sadar bahwa laki-laki selalu punya tujuan ketika berhubungan dekat dengan seorang perempuan. Ada yang punya tujuan baik, ada juga yang kurang baik. Mungkin teman-teman pernah mengalami atau melihat situasi seperti ini. Pada umumnya, kedekatan positif bisa berupa tujuan mengenal lebih baik, menjalin hubungan serius, atau bahkan menikah, sedangkan tujuan negatif bisa serupa memanfaatkan materi maupun fisik, atau sekadar 'main-main'.

Sekarang, mari melihat kata 'kedekatan' yang biasanya menjadi kunci dari hubungan tanpa status (HTS). Beberapa perempuan mungkin akan bermasalah dengan hal ini, sehingga mereka akan selalu bertanya:

"Dia tuh niat nggak, sih, ngedeketin gue?"

"Kok dia nggak nembak gue, ya?"

"Jangan-jangan dia cuma mainin gue."

Bisa jadi. Bisa juga tidak. Bisa jadi laki-laki tersebut memang punya niat baik dan serius, tapi belum siap berkomitmen lebih jauh karena masih ada hal lain yang menjadi prioritasnya. Di sisi lain, ia memang sengaja tidak menegaskan hubungan agar tak merasa dibebani tanggung jawab jika suatu hari kamu patah hati, misalnya. Mari berpikir positif dan negatif agar kita tetap bisa melihat dari dua sisi.

Dan semua pertanyaan tadi bisa dijawab sendiri, lho, dengan mempertimbangkan dua hal:

1. Apakah kamu hendak menghabiskan lebih banyak waktu berada dalam situasi seperti ini?

atau

2. Apakah kamu ingin menghabiskan waktumu dengan cara lain yang lebih baik dan membahagiakan?

Ketika seseorang menaruh perasaan pada orang lain, maka dia telah menginvestasikan waktu dan perhatiannya. Tapi, kita juga harus berhati-hati dalam memilih bentuk investasi. Kalau investasi itu baik bagi diri, tak masalah. Namun, jika investasi itu malah membuat kita sakit hati, apakah masih akan kita pertahankan?

Saya yakin, bahwa sebagai seorang perempuan, saya bukan hanya bisa menunggu, memilih, atau dipilih, kok. Saya juga bisa belajar sabar. Sabar menunggu, sabar bertindak, sabar menghadapi pelik di depan mata. Menjadi perempuan--dan menjadi manusia, berarti menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menghadapi situasi dan halangan yang ada di hadapan. Kedewasaan dibutuhkan dalam mengatur emosi, memastikan kita tak terhanyut di dalamnya, dan bisa mengakses emosi dengan cara yang baik, lewat ekspresi yang baik pula.

Diacuhkan, ditolak, dibuang. Mungkin memang itu yang harus perempuan rasakan dalam panjangnya sejarah kita, untuk menjadi lebih kuat.

"...bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." — An-nisa 19:4

Kesedihan bukan suatu kutukan. Saya percaya itu.

Saya menjadikan kesedihan sebagai batu loncatan untuk bahagia. Patah hati, menurut saya, adalah cara Tuhan mengajarkan perempuan untuk menjadi lebih kuat, dan lebih dewasa. Lebih kuat hati dan emosinya untuk mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum mencintai orang lain. Untuk lebih kuat mengakar pada kesejatian dirinya, dan menyadari bahwa ia lengkap dengan dirinya, dan kebahagiaan sudah terkandung dalam dirinya ketika ia lahir ke dunia.

Tetapi, seringkali, kita sebagai perempuan lupa akan hal ini. Dan patah hati menjadi pengingat untuk kembali jatuh hati pada diri kita yang sejati.

Sometimes, we need to be deeply sad to know how it feels to be happy, and happy girls are the prettiest.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Perempuan Paling Cantik adalah Perempuan yang Berbahagia dengan Dirinya Sendiri.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Sasha Ndr | @hansahanandira

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar