1K
Sebelum menjalani operasi Caesar, saya selalu berpikir bahwa perempuan yang menjalani operasi Caesar adalah perempuan yang hanya ingin menghindari rasa sakit.

Menjadi perempuan, apalagi sebagai istri atau ibu, membuat saya harus terlibat dalam perdebatan perihal pilihan terbaik tentang hidup.

Semenjak berpikir untuk menikah, saya dihadapkan pada pertanyaan tentang rumah tangga seperti apa yang siap saya jalankan. Ketika pernikahan sudah berjalan, saya kerap dihadapkan pada pertanyaan klasik: kapan punya anak. Saat anak sudah berada di dalam perut, saya menghadapi dilema lain: kehamilan seperti apa yang paling baik untuk perkembangan anak ini kelak? Dan proses kelahiran macam apa yang akan membuat jati diri saya sebagai perempuan benar-benar teruji?

Tidak berhenti sampai di sana. Bahkan ketika sang anak lahir, saya merasa bahwa segala sesuatu harus baik, mudah, dan sempurna, seperti apa yang dikatakan sebagian besar perempuan lain. Sebuah kondisi ideal yang akan menghantarkan saya menjadi perempuan seutuhnya. Hidup itu seperti sebuah persaingan. Segala upaya saya jalankan demi menggapai hal itu: 'menjadi perempuan seutuhnya'--apapun maksudnya itu.

Tapi, tidak semua kondisi ideal bisa diwujudkan. Ada hal-hal di luar kuasa saya yang membuat saya tidak "layak" menyandang status sempurna--setidaknya sempurna di mata orang lain.

Hal-hal yang dianggap tak layak ini kemudian mengundang pertanyaan perempuan-perempuan lain. Mengapa kamu melakukan itu? Bukankah seharusnya kamu menjalankan proses yang banyak perempuan lain lakukan? Apakah kamu tidak berusaha dengan baik? Seharusnya kamu lebih berusaha lagi dan tidak menyerah. Ah.

Hal yang paling membekas dalam ingatan saya, dan mungkin para perempuan lain tentang pertanyaan bertubi-tubi itu adalah perihal proses kelahiran. Caesar.

Ya, Sectio Caesarea atau Operasi Caesar mengundang banyak pertanyaan dan pernyataan yang kerap kali membuat perempuan (termasuk saya) merasa terintimidasi dan berpikir bahwa 'saya tidak sempurna'.

Bagaimana bisa?

Saya pernah mengalaminya. Dan mungkin bukan hanya saya, tapi ada banyak perempuan lain yang merasa tertekan ketika pertanyaan MENGAPA dan pernyataan SEHARUSNYA tentang pilihan melakukan operasi Caesar terus ia dengar. Caesar memang bukan sebuah cita-cita bagi sebagian besar perempuan yang akan menjadi Ibu. Saya pun setuju, kelahiran normal dan alami adalah pilihan paling baik dan layak diusahakan sabaik mungkin.

Tapi, sekali lagi, hidup itu tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Pada saat proses kelahiran tiba, ada saja hal yang membuat kita harus setuju menjalani operasi Caesar. Hal yang seharusnya juga sudah dipertimbangkan baik-baik oleh pihak medis yang menolong kelahiran kita, maupun pihak keluarga. Demi kebaikan Ibu dan Bayi.

Tidak sedikit dari perempuan yang harus menjalani operasi Caesar juga menghadapi pertaruhan hidup dan mati, bahkan setelah mencoba menjalankan proses kelahiran alami. Namun, Tuhan belum mengijinkan. Setelah operasi Caesar, si perempuan masih harus memulihkan dirinya. Pemulihan yang meliputi pemulihan luka dan psikologis, karena setiap luka pasti menimbulkan trauma.

Bahkan untuk saya, trauma itu membekas hingga sekarang: tiga tahun setelah saya melahirkan anak laki-laki saya.

Bisa dibayangkan, kan, rasanya, saat perempuan lain datang dan bertanya: "Mengapa harus, Caesar, sih?" Dilanjutkan dengan pernyataan, "Seharusnya kamu masih bisa berusaha lebih keras lagi."

Ah.

Saya mengenal seorang perempuan yang mengalami perasaan tersiksa dan bahkan terkena baby blues syndrome pasca kelahiran Caesar-nya. Perempuan itu bahkan tidak mau bertemu orang lain yang hendak menjenguknya, maupun pihak keluarga. Ia menutup diri atas berbagai pertanyaan yang terkadang menyudutkan. Perempuan itu, sebelumnya, mengalami pertaruhan hidup dan mati atas kelahiran sang buah hati. Kondisi tekanan darah tinggi dan penurunan kesadaran membuatnya harus menjalankan operasi, tidak bisa tidak.

Itu adalah pilihan yang paling baik.

Tapi kenyataan itu sepertinya bukan menjadi hal yang diperhitungkan orang-orang saat bertanya dan berkomentar perihal pilihan perempuan itu. Kenyataan bahwa perempuan ini mengalami trauma sesudahnya, seperti bukan menjadi hal penting lagi. Orang-orang tetap sepakat bahwa perempuan itu kurang menjaga kesehatannya, kurang berusaha, kurang bersyukur, dan sebagainya.

Ah. Lagi-lagi saya cuma bisa mengurut dada.

Operasi Caesar membuat saya yakin, bahwa setiap perempuan pasti selalu berusaha menjadi pribadi yang baik: juga istri dan ibu yang baik. Setiap perempuan pasti memiliki alasan untuk menjalankan pilihannya, dan siap akan segala konsekuensinya.

Di balik itu semua, perempuan, termasuk saya, hanya bisa berusaha. Semampu dan sebaik yang kami bisa. Termasuk saat perempuan-perempuan lain memilih untuk membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang berbeda: seperti tidak memberikan ASI selama dua tahun penuh, harus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga, atau justru tidak bekerja karena kondisinya yang tidak memungkinkan bekerja.

Masih banyak pilihan-pilihan lain yang diambil perempuan-perempuan lain demi keluarga dan sang buah hati. Semua tentu sudah dipikirkan masak-masak, berdasarkan kondisi dan situasi masing-masing yang tak sepenuhnya bisa orang luar pahami.

Siapa kita untuk menghakimi?

Luka operasi yang akan membekas seumur hidup dalam tubuh saya juga meyakinkan saya bahwa setiap perempuan memiliki luka yang ia simpan untuk dirinya sendiri.

Luka yang terkadang memunculkan trauma meski itu samar. Luka yang akan kembali muncul ketika ada orang lain yang menyinggung luka itu. Sakit. Meski rasa sakit itu sama sekali tak bisa dipahami kecuali oleh orang-orang yang pernah merasakannya.

Sebelum menjalani operasi Caesar, saya selalu berpikir bahwa perempuan yang menjalani operasi Caesar adalah perempuan yang hanya ingin menghindari rasa sakit. Tetapi, setelah menjalaninya, saya mengerti bahwa menghindari rasa sakit juga hal yang harus kita apresiasi. Karena ketakutan adalah perasaan yang bersifat personal. Dan setiap orang punya ketakutan-ketakutannya sendiri, yang perlu kita hargai.

Kita tidak tahu seberapa hebat dampak yang akan terjadi jika dia memaksakan diri. Komentar atau nasehat yang tidak diminta atas pilihan perempuan lain di luar sana, adalah hal yang seharusnya TIDAK PERNAH kita lakukan. Karena mungkin, suatu saat kita akan menjalani hal yang sama. Bahwa suatu hari, mungkin apa yang kita pilih adalah pilihan yang berbeda: pilihan yang kemudian dicaci atau diremehkan oleh orang-orang yang tak mengerti akan ketakutan-ketakutan dan pertimbangan-pertimbangan kita.

Jadi, mari berhenti saling menghakimi, dan mulai berupaya meningkatkan kualitas diri untuk menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak kita.

Selamat menjadi Ibu!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Operasi Caesar Telah Mengubah Pandangan Saya Akan Perempuan Lain.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Woman, kids, and parenting enthusiasm

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar