2.7K
Hubungan antara Ibu dan anak akan berlangsung selamanya. Tidak ada kata "perceraian" di antara mereka.

Saya bercerai saat usia anak saya belum genap 3 tahun. Anak saya laki-laki, dan sesuai ketentuan adat di daerah tempat tinggal saya yang menganut paham patrilineal, anak saya menjadi hak asuh ayahnya.

Saya tidak akan membahas tentang perceraian karena fokus saya pada artikel ini adalah bagaimana untuk tetap melanjutkan hidup dengan lebih tenang dan damai tanpa meninggalkan kewajiban sebagai seorang Ibu.

Di sinilah letak permasalahannya. Mungkinkah? Bisakah? Mampukah?

Memang tidak mudah untuk tetap menjalankan peran sebagai orang tua saat hubungan kita dengan pasangan bermasalah. Saya akui, hubungan saya dengan mantan suami sangat naik-turun. Tidak ada bedanya saat masih menikah atau setelah bercerai. Tahun-tahun awal perceraian merupakan yang paling berat.

Saya terpaksa mengalah untuk tidak bertemu anak saya dalam jangka waktu yang cukup lama demi untuk menghindari pertengkaran.

Tekanan yang dihadapi orang tua yang bercerai tentu sangat jauh berbeda dengan orang tua yang masih dalam status menikah. Yang pertama saya lakukan adalah memisahkan status. Ya, memisahkan status antara saya dengan suami (selanjutnya akan saya sebut mantan suami) dan antara saya dengan anak saya.

Hubungan saya dengan mantan suami memang telah berakhir, dan saya tetap membuka diri untuk hubungan yang lain semisal sebagai teman, saudara, atau partner asuh anak. Mungkin sangat jarang terjadi dalam masyarakat kita, namun saya hanya mencoba untuk tetap memelihara hubungan baik dengan Ayah dari anak saya. Kadang, bagi sebagian orang, ini adalah fase yang paling berat.

Rasa kecewa, rasa sakit hati, rasa benci tentu akan menghalangi kita untuk tetap memelihara hubungan. Terlebih bila kita berada dalam posisi pemegang hak asuh anak. Bukan tidak mungkin kita akan melarang mantan suami atau istri untuk bertemu dengan anak dengan alasan rasa kecewa yang kita rasakan. Tentu, bagi anak, hal tersebut tidak adil.

Di sinilah sebenarnya akibat buruk dari perceraian akan sangat terasa, menurut saya.

Perceraian harusnya hanya memisahkan suami dengan istri, menjadikan mereka 'mantan' bagi masing-masing. Perceraian seharusnya tidak pernah dan tidak boleh memisahkan antara orang tua dengan anak.

Atas dasar pemikiran itulah saya berkomitmen bahwa perceraian saya hanya antara saya dengan mantan suami saya. Sementara anak saya, selamanya akan menjadi anak saya. Saya terus melakukan pendekatan pada mantan suami dan mantan mertua. Awalnya memang susah. Pertengkaran demi pertengkaran harus saya lalui. Pertemuan dengan anak pun kadang berhasil kadang tidak. Namun selama ada niat baik, niscaya pasti ada jalan.

Saat anak saya memulai pra-sekolah (PAUD), di sana hubungan saya berangsur membaik dengan ayahnya. Saya pun meminta ijin untuk bertemu anak saya sebulan dua kali. Saya juga akan mengikuti pola asuh yang diterapkan oleh ayahnya demi menghindari anak kami dari kebingungan. Saya membaca banyak buku parenting sebagai referensi.

Hingga kini, di tahun ke-5 dan anak saya sudah memasuki Sekolah Dasar, pertemuan kami menjadi semakin sering. Setiap akhir pekan saya menjemput anak saya dan dia menginap di rumah. Saya pun bisa tetap menjalankan peran saya sebagai seorang Ibu: mendidik dan membesarkan anak saya, mengajari dia berhitung dan membaca, mengajak dia berekreasi, membelikan dia mainan, dan memberikan dia pengertian bahwa jangan berkecil hati karena orangtuanya tidak tinggal bersama.

Saya menemaninya untuk selalu bersyukur karena apapun keadaan kami, Ayah dan Ibunya sangat mencintainya dan tidak akan pernah berhenti mencintainya.

Saya juga terus memantau perkembangannya di sekolah. Saya menghubungi gurunya dan juga tetangga-tetangga sekitar. Saya hanya ingin memastikan bahwa anak saya tidak minder dalam bergaul dan juga tidak menjadi anak yang tidak percaya diri atau suka mengurung diri. Syukurlah, anak saya tumbuh seperti layaknya anak-anak lain di lingkungannya. Ia tidak memiliki masalah emosional yang begitu berarti; juga tidak memiliki masalah dalam pergaulan.

Anak adalah titipan berharga, dan ketika perceraian tidak dapat dihindari, kita sesungguhnya tetap dapat berusaha menjadi orang tua bagi anak kita. Memang sangat berat ketika kita harus membuang ego, benci dan kecewa pada mantan pasangan, namun demi anak, bukankah kita harus siap menghadapi tantangan apapun itu bentuknya?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mungkinkah Tetap Mengasuh Anak Bersama-sama, Pasca Perceraian?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Traveller, A Believer

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar