4.9K
Entah dunia ini bundar atau datar, kita semua butuh belajar mengenai toleransi terhadap pemikiran, keyakinan, dan keputusan orang lain.

Ada sesuatu yang saya namai pemerataan pendapat, atau generalisasi kebahagiaan.

Sebagian orang yang kebetulan berjumlah lebih banyak dan sudah lebih dulu hidup di bumi ini, menentukan standar tak kasat mata yang semakin hari menjadi kian tajam dan seperti tak menyisakan kemungkinan lain. Melahirkan pakem. Seakan pendapat yang benar hanya satu, dan satu-satunya.

Contoh: memiliki pekerjaan yang tetap, menikah sebelum lewat umur 30 tahun, memiliki rumah di umur sekian, punya suami yang tampan dan anak-anak yang menggemaskan... maka niscaya hidupmu akan dirasa lengkap. Hal ini diyakini oleh sebagian besar masyarakat dan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang tak bisa diganggu-gugat.

Ini penjelasan dari kami yang ada di luar lingkaran dan sering didaulat tersesat ini: kami tak pernah mempertanyakan mengenai benar atau salahnya hal ini. Kami juga tak ingin merunut kepercayaan-kepercayaan apa-apa saja yang sudah diwariskan oleh nenek moyang kita dulu. Tidak.

Kami-kami yang dianggap aneh ini, hanya meminta ruang. Kami tak pernah mempertanyakan apakah dengan membeli rumah baru, kualitas hidupmu semakin meningkat. Kami tak ingin juga mendapat jawaban final mengenai apakah satu-satunya cara menjadi wanita seutuhnya adalah dengan melahirkan anak. Kami hanya ingin melewatkan perdebatan yang tak ada akhirnya itu.

Kami hanya butuh ruang. Kami hanya butuh tempat untuk berproses dan memilih. Bukankah kita masing-masing punya kesempatan untuk memilih? Jadi, mohon biarkan kami memilih untuk pendidikan kami, untuk tubuh kami, untuk hidup kami. Jika di satu titik kita memilih untuk menempuh jalan yang berbeda, mari sama-sama menghormati pilihan tersebut.

Entah dunia ini bundar atau datar, kita semua butuh belajar mengenai toleransi terhadap pemikiran, keyakinan, dan keputusan orang lain. Saya ingat, seorang biarawati pernah berpesan kepada saya. Bahwa marah, kesal dan kecewa itu tak pernah salah, yang salah adalah jika kita mengubahnya menjadi tindakan seperti mencaci, memukul, dan mempermalukan.

Menghormati ruang-ruang pribadi masing-masing individu yang berbeda cara hidup dengan kita sepertinya hal penting yang butuh kembali kita pelajari bersama. Karena pada dasarnya manusia itu diciptakan berbeda-beda.

Merayakan Hari Kelahiran Pancasila, mari bersama mencoba menghormati perbedaan yang ada di sekitar kita, termasuk juga perbedan pilihan dan pandangan hidup.

Jika kita berhenti saling menyalahkan dan merayakan perbedaan, rasanya dunia akan berjalan dengan lebih harmonis. Kita dapat berjalan beriringan, meskipun jalan yang kita tempuh berlainan. Bukankah ada banyak jalan untuk menuju ke satu tujuan? Demikian pula, saya percaya, ada banyak jalan untuk menuju kebahagiaan. Tiap orang memilih jalan yang dirasanya pas dan nyaman bagi dirinya. Jalan yang dikenalnya dengan lebih baik.

Sebagai penutup, sebenarnya apa yang kamu inginkan dalam hidup?

Kalau saya, saya hanya ingin hidup tenang dengan pilihan-pilihan saya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Merayakan Perbedaan dalam Memilih Jalan Hidup.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar