2.3K
Tidak semua momen bisa dan atau harus ditangkap oleh kamera.

Benarkah selalu ada yang istimewa di angka pertama? Seperti, mengunjungi satu tempat untuk pertama kali, makan makanan yang belum pernah dicoba sebelumnya, berada di fase kehidupan tertentu, dan semua hal yang dirasa baru kita rasakan untuk pertama kali.

Atau jangan-jangan kita belum pernah menikmati apa itu pengalaman pertama. Melewatinya begitu saja karena abai dengan hal yang dirasa, atau kita anggap biasa. Sampai satu hari di pertengahan bulan Mei, saya memutuskan rutin mengabadikan momen 'pertama'. Kebanyakan sih makanan (memang dasarnya doyan makan). Berikut salah satu foto makanannya.


Nasi Padang di sebuah rumah makan di Bandung yang tak pernah saya kunjungi lagi


Jangan berharap gambar yang terambil sebagus hasil fotografer, ya. Momen di atas cenderung apa adanya. Tapi menangkap momen pertama kali itu bisa dibilang sedikit mudah jika disandingkan untuk mengingat rasanya.

Ya, rasa.

Butuh untuk kembali melihat bagaimana semua momen terbentuk di dalam tubuh kita sehingga bisa menghasilkan rasa. Seringkali rasa tidak mampu lagi dicerna oleh ingatan itu sendiri, lepas karena ingatan yang menua atau memang memilih untuk dilepaskan.

Butuh contoh?

Makan mie kocok di pinggir jalan untuk pertama kali. Oke, kamera siap dan foto dengan beragam posisi sudah ada di galeri. Lalu kalian pulang ke rumah, setelahnya? Melanjutkan aktivitas berikutnya?

Jika diminta mendeskripsikan, masih ingat tidak bagaimana rasa mie kocok itu? Bagaimana rasanya makan di pinggir jalan untuk pertama kali?

Mungkin akan ada yang mendeskripsikan rasanya terlalu asin, tempatnya kurang bersih, sampah ada di mana-mana, pedagangnya ramah, atau harga tak sesuai dengan rasanya. Akan ada juga yang bisa mendeskripsikan lebih dari itu; atau sebaliknya; sama sekali malas memberi penjelasan atau tiga bulan setelahnya lupa bagaimana pengalaman itu terjadi.

Nyatanya, momen-momen di atas tak lantas membuat rasa itu bisa diingat semudah ketika mengambil gambar.

Betapa saya sebagai pribadi sangat lemah menangkap dan mengingat sebuah rasa untuk pertama kali.

Keputusan mengabadikan momen ini pun membuka mata saya bahwa tidak semua momen bisa dan atau harus ditangkap oleh kamera. Banyak kok cara yang bisa kita pilih untuk mengabadikannya: menulis, menggambar, membuat lagu, dan hal unik lainnya. Ini dilakukan semata agar saya tidak akan lupa bahwa selalu ada cara melihat lagi hal yang gugur perlahan karena rutinitas kita. Tetapi saya termasuk orang yang percaya, bahwa selama proses itu pula akan tetap banyak hal yang tidak mampu diungkapkan.

Semua hal setara berharga, jadi sayang sekali jika sebuah rasa tidak mampu kita ingat lagi, kan? Pun benar adanya, tak ada yang tak suka dinilai berharga termasuk 'hal pertama'. Eh, lucunya kita (saya lebih seringnya) malah sering abai dan menganggapnya biasa saja. Biasanya nih, sampai pengalaman pertama itu menghilang atau tak bisa lagi kita temukan, baru deh, kita sadar betapa pentingnya menikmati momen saat momen itu hadir.

Untuk itu, keputusan mengabadikan momen ini terasa luar biasa.

Saya hanya berharap agar tidak mudah lupa pada momen-momen yang sengaja saya buat, kepada waktu yang orang-orang berikan, kepada kebaikan dan keburukan yang sempat menyapa saya pada tiap persimpangan.

Saya jadi tak sabar menantikan pengalaman-pengalaman pertama apa lagi yang akan menjemput di depan sana.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Merasakan Momen-momen yang Sudah Lewat dan (Terkadang) Terlupakan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Teti Ayu | @dan687

Seorang pekerja di dunia digital, silakan kunjungi saya di aksarai.blogspot.com

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar