5K
Selama menjalankan praktik sebagai Terapis Kesehatan Holistik, saya kerap mendapatkan pertanyaan mengenai kesehatan holistik itu sendiri. Apa saja?

Memahami Konsep Sehat Secara Holistik

Kata ‘holistik’ sebenarnya berakar dari ‘holos’, yang artinya menyeluruh, atau lengkap. Jadi, ketika bicara mengenai kesehatan holistik, sebenarnya yang sedang kita bicarakan adalah bagaimana manusia bisa sehat secara menyeluruh.

Menyeluruh bagaimana?

Seringkali, ketika kita bicara mengenai kesehatan, kita berpikir sebatas kesehatan tubuh atau kesehatan raga. Padahal, seperti kita ketahui belakangan ini, ada juga penyakit yang muncul di tubuh akibat stress, kemarahan yang meledak-ledak, juga tekanan-tekanan lainnya.

4 Komponen Sehat Secara Holistik

Dalam konsep kesehatan holistik, ada 4 faktor pembentuk manusia yang perlu kita perhatikan:

1. Spirit/ruh/jiwa

2. Batin

3. Energi

4. Badan fisik/raga

Jadi, ketika kita bicara perihal kesehatan holistik, yang kita perhatikan adalah kesehatan keempat faktor ini, dan bukan hanya salah satunya. Pakar kesehatan holistik percaya, bahwa kesehatan satu faktor akan memengaruhi kesehatan komponen lainnya, secara menyeluruh.

Faktor pembentuk pertama adalah jiwa. Pada dasarnya, spirit/ruh/jiwa manusia selalu sehat. Spirit/ruh/jiwa adalah inti kehidupan dan merupakan bagian ilahiah dari diri kita, yang sedianya sempurna apa adanya. Namun, karena berbagai sebab, terkadang batin, energi, maupun badan fisik/raga kitalah yang tidak harmonis, sehingga tak berfungsi optimal.

Faktor pembentuk pertama ini (jiwa) akan mengekspresikan dirinya dalam bentuk faktor pembentuk kedua, yaitu batin. Batin berisi berbagai pikiran dan perasaan; ada yang disadari dan tidak disadari. Sampai di sini rasanya kita sudah bisa melihat ya, bahwa batin kita bisa juga berada dalam keadaan yang kurang baik?

Kondisi batin memiliki pengaruh yang sangat erat dengan faktor pembentuk ketiga yaitu energi, atau chi/qi/prana. Batin yang sehat dan berkualitas akan menghasilkan energi yang sehat dan berkualitas pula. Sementara, batin yang kurang sehat akan menghasilkan energi yang kurang baik pula.

Ini sebabnya, kita bisa merasakan tubuh yang lebih berenergi dan tak kenal capek ketika kita tengah ‘jatuh cinta’, atau sedang melakukan hal yang sungguh-sungguh disenangi. Sebaliknya, ketika pikiran sedang kusut dan kita sedang merasa sedih atau marah, kita merasa energi kita terkuras. Kita terus-menerus merasa capek dan lelah.

Jika kita jujur pada diri sendiri, kitalah yang paling tahu seperti apa kondisi batin kita: apakah kita sedang sedih, bahagia, marah, dan lain sebagainya. Ini yang juga perlu kita perhatikan ketika kita bicara mengenai sehat secara holistik.

Memahami Pola Energi Manusia dan Keterkaitannya Satu Sama Lain

Energi adalah faktor pembentuk ketiga. Tubuh kita memiliki 3 macam pola energi:

1. Meridian. Jika tubuh kita adalah sebuah rumah, meridian ini adalah jalur-jalur kabel yang menyalurkan energi listrik ke seluruh rumah. Jadi meridian inilah yang mengantarkan energi keseluruh tubuh kita ke seluruh organ-organ didalam tubuh. Ini adalah jalur-jalur yang digunakan oleh para praktisi akupunktur, accupressure ketika mereka membantu menyehatkan kita.

2. Chakra. Kalau meridian adalah jalur-jalur listriknya, maka Chakra adalah gardu-gardu listrik yang terdapat di 7 lokasi berbeda di dalam tubuh kita.

3. Aura. Jalur kabel dan gardu yang berfungsi baik memungkinkan saluran listrik di tubuh kita juga berfungsi dengan baik. Dengan demikian, maka akan menghasilkan medan energi baik yang keluar dari dalam tubuh. Ini yang kita kenal dengan aura.

Pernah, kan, kita mendengar istilah: “Saya senang, deh, bertemu dia. Aura-nya selalu positif!” atau di sisi lain, mungkin kita pernah bertemu seseorang yang (meskipun tidak kita ketahui persis alasannya) membuat kita merasa tegang, cemas, atau waspada.

Manusia bukan hanya berkomunikasi secara verbal maupun non-verbal, tapi juga secara elektromagnetik, lewat apa yang kita sebut sebagai aura.

Setelah kita memahami ketiga faktor pembetuk diatas, maka faktor pembentuk yang terakhir adalah, badan/raga--yang biasa kita kenal baik dan kita gunakan sehari-hari. Di dalamnya terdapat berbagai macam sistem, seperti sistem pencernaan, pernafasan, reproduksi, dan sebagainya. Sistem inilah yang biasa dipelajari di dalam ilmu kedokteran barat.

Dalam ilmu kedokteran Barat, ini dikenal dengan istilah PNEI. Psycho-Neuro-Endocrino-Immunology. Jadi, apa yang terjadi dalam batin kita (psycho) dapat memengaruhi sistem saraf (neuro), dan apa yang memengaruhi sistem saraf dapat memengaruhi kelenjar endokrin (endocrino) yang pada akhirnya dapat memengaruhi sistem imun (immunology) kita.

Apabila kita sudah mengetahui faktor-faktor pembentuk manusia secara lengkap, ada baiknya mulai sekarang kita memerhatikan secara keseluruhan bagaimana kondisi batin, energi, dan badan secara menyeluruh. Inilah yang disebut sehat secara holistik.

Modal Dasar Self-Healing / Menyembuhkan Diri Sendiri

Ketika kita sudah memahami konsep sehat secara menyeluruh seperti di atas, maka kitapun harus merawat diri secara menyeluruh, yang bisa kita lakukan secara mandiri (self-healing), dengan modal yang ada di dalam diri.

Ada 4 modal dasar dalam self-healing:

1. Napas – perhatikan bagaimana pola nafas kita ketika kita sedang merasa sehat atau tidak sehat, sedang marah atau sedang rileks... berbeda, bukan? Memerhatikan dan menyadari nafas adalah salah satu cara kita menyadari apa yang sedang terjadi di diri sendiri.

2. Sentuh – ada berbagai riset yang mengatakan bahwa manusia membutuhkan sentuhan, sentuhan fisik memicu hormon oksitosin yang diidentikkan dengan rasa kasih-sayang, juga menenangkan tekanan kardiovaskular dengan mengaktifkan saraf vagus kita—yang terhubung dengan respon welas-asih dalam diri. Dalam self-healing, sentuhan ini tak harus datang dari orang lain. Sentuhan dari diri kita sendiri pun bisa memberikan dampak baik ini.

3. Gerak – meskipun ada beberapa gerak khusus untuk berbagai jenis self-healing, namun pada dasarnya manusia memang butuh bergerak untuk membiarkan energi kita mengalir dengan baik. Berolah raga adalah contoh paling sederhana. Ketika kita lelah namun tetap meluangkan waktu untuk berolah raga, kita akan merasakan bahwa setelah olah raga kita bukannya bertambah lelah, namun justru merasa sedikit lebih segar. Berjalan kaki, menari, memasak, semua ini juga ‘gerak’ yang menyehatkan jika dilakukan dengan berkesadaran.

4. Hening (jika mampu) – meditasi adalah salah satu latihan yang bisa kita tekuni, jika memungkinkan. Ada banyak pula riset terkait dengan meditasi yang telah dirilis oleh pusat-pusat riset kesehatan di berbagai belahan dunia. Duduk di taman sambil menikmati bentuk kelopak bunga dan kupu-kupu yang hinggap... ini juga bisa menjadi awal hening bagi diri.

Sudah mulai memahami konsep sehat secara holistik? Semoga uraian ini bisa membantu. Dalam artikel-artikel berikutnya saya juga akan memberikan penjelasan mengenai beberapa metode self-healing atau seni menyembuhkan diri sendiri.

Semoga kita semua selalu sehat dan berbahagia.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menyembuhkan Diri Sendiri Dengan Praktik Kesehatan Holistik. Bisakah?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Diwien Hartono | @diwienhartono

Diwien Hartono adalah praktisi kesehatan holistik dan pemandu sesi Tapas Accupressure Technique (TAT) dan Jin Shin Jyutsu. Ia dapat dijumpai (dengan perjanjian) di True Nature Holistic Healing, Dharmawangsa - Jakarta.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar