779
Sumpit, alat makan yang banyak digunakan oleh masyarakat Tionghoa, ternyata punya nilai filosofis tersendiri. Apa yang bisa kita pelajari dari sepasang sumpit?

Ternyata, sepasang sumpit merepresentasikan keseimbangan dalam hidup. Dalam falsafah Tionghoa, dikenal istilah Yin dan Yang. Yin dan Yang merupakan 'pasangan' yang tak terpisahkan, dan selalu saling mengisi dalam hidup. Segala hal di alam ini pun dapat dikategorikan ke dalam salah satu kategori: apakah Yin atau Yang.

Biasanya, Yin melambangkan hal-hal yang cenderung geming, stabil, dingin, pasif, atau lembut. Misalnya, dalam falsafah ini, energi perempuan/feminin adalah Yin, bumi juga termasuk Yin (banyak bangsa di dunia punya istilah 'mother earth' atau ibu pertiwi).

Yang, sebaliknya, merepresentasikan hal-hal yang cenderung terus bergerak, berubah, hangat, aktif, dan kuat. Misalnya, energi kelelakian/maskulin adalah Yang, langit juga termasuk Yang.

Pada dasarnya, falsafah ini melihat hidup, alam, manusia, dan gerak interaksi mereka sebagai harmonisasi antara Yin dan Yang yang terus berkelanjutan, tak pernah berhenti.

Secara umum, misalnya, hidup ini selalu dipenuhi pasangan-pasangan seperti Yin dan Yang--yang sepertinya bertentangan; tapi yang satu tak bisa hadir tanpa yang lain. Misalnya tak ada baik jika tak ada buruk. Tak ada yang gugur jika tak ada yang tumbuh. Tak ada yang hidup jika tak ada yang mati, dan sebaliknya. Oleh karenanya, walaupun nampak 'berlawanan', keduanya sesungguhnya adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

Sumpit melambangkan hal ini.

Ketika kita menyantap makanan Imlek dengan 'sepasang sumpit', kita makan dengan 'sepasang sumpit' bukan dengan 'dua batang' sumpit. Idealnya, sepasang sumpit ini sama ukuran, besar, dan panjangnya satu sama lain--melambangkan bahwa antara Yin dan Yang tak ada yang dominan. Bahwa yang satu hanya bisa ada, jika yang lain ada.

Kita juga harus menggunakan sumpit secara sepasang untuk menjepit makanan. Dan ketika menjepit makanan, sepasang sumpit itu ujungnya akan bertemu di tengah-tengah. Untuk bisa mempertemukan ujung sumpit di tengah-tengah dan menjepit makanan dengan sempurna, salah satu sumpit harus bergerak menjepit ke kiri; dan yang satunya bergerak menjepit ke kanan. Dengan begini, barulah makanan akan berhasil 'terjepit' di tengah-tengah.

Sepasang sumpit mengingatkan kita terhadap keseimbangan dalam hidup, terhadap harmonisasi yang tak kunjung usai antara Yin dan Yang. Ia mengingatkan kita bahwa selalu ada dua kekuatan dalam hidup, yang akan selalu saling timbal-balik, saling mengisi, bergiliran--dan yang satu hanya bisa ada jika yang lain ada.

Melihat interaksi sepasang sumpit ini dapat mengingatkan kita: bahwa kita bisa berusaha menjadi penyeimbang, bahwa kita bisa berusaha mengembalikan harmoni. Ketika kita melihat ada hal-hal buruk terjadi di dunia, misalnya, kita tak lagi sibuk mengutuki hal buruk itu--karena bukankah jika kita tak pernah kenal buruk, maka kita tak akan pernah pula kenal baik?

Jadi, ketika semakin banyak hal buruk di dunia, yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan harmoni adalah dengan semakin banyak berbuat baik. Jika kita mendengar bahwa ada semakin banyak orang yang kelaparan, maka kita bisa mencoba menyeimbangkannya dengan memberi makan lebih banyak orang. Ketika semakin banyak hutan yang rusak karena ditebangi, maka kita bisa mencoba untuk menanam lebih banyak pohon.

Semoga, dengan sikap dan pemikiran sedemikian, kita tak lantas hidup dalam kebencian dan ketakutan akan hal-hal yang kita anggap buruk. Sebaliknya, kita bisa mencoba membalas "yang buruk" dengan lebih banyak melakukan "yang baik", agar dapat menjadikan hidup ini terasa lebih tenang dan seimbang.

Selamat merayakan Tahun Baru Imlek!




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menyantap Hidangan Imlek dengan Sumpit? Ini yang Bisa Kita Pelajari dari Sepasang Sumpit.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Charma Kamelia | @charma

A girl trying to find her place in the world.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar