2.5K
Ya, ada luka-luka yang tak pernah sembuh dan kehilangan Ayah adalah salah satunya. Namun, mungkin ini waktunya berdamai dengan kecewa. Mungkin ini waktunya membuka luka dan meletakkannya untuk dirawat waktu.

Surat ini saya tuliskan sekitar empat bulan setelah kepergian Ayah. Ketika itu mendekati Hari Kasih Sayang. Saya sadar sepenuhnya, ini surat yang tak akan pernah sampai. Karena Ayah tak punya alamat. Juga tak mungkin dibaca. Surat ini bermakna lebih justru bagi penulisnya—saya. Surat ini berisi tumpahan rasa. Surat yang selama ini saya bungkus rapi dengan kenangan dan simpan rapat di pojok hati. Saya menulisnya untuk meringankan beban, lalu coba saya lupakan. Hingga beberapa hari lalu saya diingatkan tentang Hari Ayah.

Saya percaya tulisan punya waktunya masing-masing, punya takdirnya sendiri untuk menemukan jalan keluar. Mungkin ini saat yang tepat untuk melepaskannya, membagikannya. Membebaskan segala gumpalan kecewa dan rasa bersalah yang memberat di sini, hati.

Seperti seorang ibu, melepaskan anak tak pernah mudah. Maka, tulisan ini termasuk yang tersulit dari yang sulit utuk dapat saya relakan. Mungkin ini waktunya berdamai dengan kecewa, mungkin ini waktunya membuka luka dan meletakkannya untuk dirawat waktu. Semoga tulisan ini tak membawa lara.

-------

Kepada Papa di atas sana,

Pa, jika ada orang yang paling ingin kukirimi surat cinta, pasti Papa orangnya. Papa, kalimat yang hingga saat ini mampu dengan segera men-trigger lakrimalis-ku untuk mengalirkan kenangan. Pesat dan tak tertahan.

Sudah 130 hari sejak kepergianmu, hati ini masih patah-patah. Masih terpatri jelas setiap kenangan di sudut-sudut rumah, bangku kesukaan, bau rokok, lelucon khas, makanan kesukaan, segala hal-hal perintilan yang dulu jadi bagianmu, membeli makanan, memperbaiki kompor, membetulkan pagar, semua seperti siksaan yang terus menerus mengingatkan kami padamu. Rumah ini masih berduka, jiwa ini masih luka. Ya, Ada luka-luka yang tak pernah sembuh total dan kehilanganmu salah satunya.

Pa, tak ada satupun mimpi yang terkirim padaku. Kata orang-orang “itu bagus, ayahmu tenang di sana...” Mereka lalu menambahi segala mitos itu dengan hari baik dan jam baik kepergianmu. Jumat pertama di bulan Oktober pada pukul 06.20 pagi. Dua puluh menit yang sampai saat ini masih menjadi sesal yang menghantuiku. Seandainya aku tidak pulang subuh itu, seandainya Adik kembali ke rumah 10 menit lebih terlambat, seandainya kami tak membuatkan bubur hangatmu, seandainya aku dan Ibu tidak mandi, seandainya mesin parkir itu tidak rusak. Seandainya aku datang lima menit lebih awal. Apa beberapa menit itu akan berbeda?

Tak bisa kulupa teriakan seorang bapak ketika melihat kedatanganku dan ibu pagi itu. “Bapak sekarat,Dik! Cepat ...” Seperti topan di pagi hari, aku berlari sekuat yang aku mampu dengan segala kecamuk di dada, segera mengenggam tanganmu, membisikkan doa di telingamu. Apa kamu masih merasakan genggaman tangan dan doa yang aku haturkan di detik-detik terakhir itu? Ketika tak ada lagi gerakan nafas di monitor, ketika semua alat pernafasan dipasangkan pada badanmu, hingga tak sempat lagi kupeluk untuk terakhir kali dan hanya tanganmu yang tak rela kulepas.

Apa di ujung-ujung terlepasnya jiwamu, genggamanku masih terasa? Pa, kamu laki-laki tangguh yang sangat keras kepala, bahkan perawatpun memuji ketabahanmu menahan sakit. Tolong jawab pertanyaan ini dalam mimpiku. Katakan bahwa kamu berjuang sehabis nafas dan sempat menungguku di detik-detik terakhir. Sempat merasakan genggamanku.

Pa, bagaimana mungkin kamu pergi tanpa pamit pada anak perempuan kesayanganmu ini? Anak yang segala perkataannya akan kamu dengarkan kecuali masalah rokok. Kata-katamu ketika aku mulai ketat membatasi segala makananmu, selalu terngiang di kepala: “Lia, ini karena Papa sayang Lia, makanya papa terima. Kalau orang lain yang buat begini, pasti sudah Papa tampar...”

Aku ingat menjawabnya dengan senyum termanis, “Pa, justru ini karena Lia juga sayang sama Papa. Maunya Papa cepat sehat. Nanti kreatininnya naik, jangan makan yang aneh-aneh dulu ya.”

Beruntung, di saat-saat terakhir seorang famili mengingatkan dan menyadarkanku. Sekitar seminggu terakhir kamu makan dengan lahap segala makanan yang kamu mau bukan? Bebanku sedikit terangkat. Maaf untuk semua dusta yang kupikir mampu menguatkanmu. Aku tau kamu tahu, aku sedang membohongimu. Mata tak pernah berbohong bukan? Semoga Bapa yang di atas mengampuniku, karena sungguh tak ada lain yang kuinginkan selain sehatmu.

Apa memang begini kepergian yang kamu inginkan, Pa? Diam-diam diantara celah waktu yang ada. Ya, mungkin ini hanya pembenaran untuk membuatku mampu berdiri lagi. Ada luka-luka yang tak pernah bisa sembuh dan kehilanganmu salah satunya.

Sebelum surat cinta ini penuh penyesalan, aku ingin sekali lagi menuliskan hal ini, Pa kami teramat mencintaimu dan jelas kehilangan sosokmu. Kami merindukanmu. Tapi kami sedang belajar untuk berjalan dengan goresan luka ini, belajar berdiri kembali, belajar tetap hidup.

Ngomong-ngomong, Pa, adakah langit di sana tetap biru? Ada jengkol lada kesukaanmu? Apakah semua uang kertas yang kubakar benar-benar sampai padamu? Rumahmu, bajumu, kopi, oh maaf aku tak menyertakan rokok. Hei, jangan membeli rokok dengan semua uang itu ya! Jangan mencemari udara bersih di sana. Ingat saja muka cerewetku yang tak henti mengomelimu setiap ingin merokok.

Pa, doakan saja kami yang masih berjuang di bawah sini. Jadilah pendoa yang baik bagi kami. Kami semua menyayangimu.

Peluk cium,

Dari anak perempuan kesayanganmu yang selalu merindukanmu

----------------------------------

Hampir dua tahun jadi anak yatim, namun saya masih belum akan biasa. Tak akan pernah terbiasa. Hati ini masih patah dan akan tetap patah. Ya, ada luka-luka yang tak pernah sembuh total dan kehilangan ayah salah satunya.

Sekali lagi maaf, semoga cerita ini tak menyemai duka ataupun menguak luka, cerita ini hanya ingin berbagi desakan rasa.

Menulis itu terapi, salah satunya ini.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menulis Surat untuk Papa di Surga.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar