2.6K
Dalam reuni kecil bulan lalu, teman saya pernah berkata, “Keren! Orang yang memilih sendiri dalam jangka waktu bertahun-tahun, mereka seperti seorang vegetarian yang hanya memakan tahu-tempe-tahu-tempe setiap hari. Termasuk kamu, Ken.”

Vegetarian?

Masih terngiang betul sebutan itu sampai detik saya menuliskannya, semacam ada kekakuan dalam penerimaannya.

Sejatinya, seumur hidup saya tidak pernah melakoni hidup sebagai seorang vegetarian yang hanya makan dari bahan nabati tanpa hewani. Sebaliknya, saya bahkan pecinta daging dan kulit ayam yang digoreng garing. Tapi point vegetarian adalah analogi teman saya tentang kesendirian, dan jelas yang ia maksud adalah kesendirian saya.

Vegetarian... Vegetarian... Vegetarian...

Alih-alih tahu-tempe yang muncul di pikiran saya, yang terpanggil adalah cerita terakhir saya dengan seseorang laki-laki dalam sebuah hubungan.

“Ternyata sudah lama, ya,” gumam saya.

Sudah memasuki setengah dekade, tapi rasanya seperti baru kemarin.

Itulah yang membuat saya selalu “makan tahu-tempe” dari hari ke hari. Saya masih trauma mengunyah daging (dan memilih menghindarinya). Dan yap! Dibandingkan daging berbumbu, tahu-tempe jelas lebih hambar rasanya. Suatu pola yang tidak saya sukai tapi sepertinya membantu saya tetap "sehat" sampai sekarang.

Dalam pikiran saya, mengubah tahu-tempe kembali menjadi daging terlalu beresiko. Atau lebih tepatnya saya belum siap menderita (lagi) karena perubahan pola makan saya; setelah sebelumnya cara saya dalam mengonsumsi daging salah, keliru, dan berakhir gagal. Mungkin ini analoginya dengan hubungan yang pernah saya jalani sebelumnya.

Pun sebaliknya, tidak ada salahnya menjadi pecinta daging. Semua orang bisa mencicipinya. Dan yang seperti berlaku di masyarakat kita, daging adalah wujud kemewahan. Saya juga menghargai bagaimana masyarakat kita mengonsumsi daging sepenuhnya: dari kepala, ekor, kaki, sampai jeroan: tak ada yang terbuang. Ada penghargaan yang tinggi di sana terhadap apa yang kita santap: habiskan. Jangan sampai ada yang terbuang dan tersia-sia.

Tap, bagi saya, butuh keberanian untuk menjadi pecinta daging. Sebagaimana butuh keberanian juga untuk bersendiri.

Menjadi vegetarian adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan demi kesehatan saya, lahir maupun batin, hingga saya tahu benar bagaimana caranya menjadi pemangsa daging yang tidak asal dalam melumat.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Vegetarian Mengajarkan Saya Tentang Kesungguhan dan Kesendirian.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Niken Kusumaningtyas | @nikenkusumaningtyas

share my words to the world, then (maybe) someday could inspire and touching more hearts.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar