3.5K
Kita sesungguhnya hanya butuh diingatkan bahwa kita tidak sendirian.

Beberapa teman saya pernah bertanya bagaimana caranya mendengarkan orang yang sedang curhat. Pertanyaan ini membuat saya bingung, karena sesungguhnya saya tidak tahu cara mendengarkan dengan baik, selain tips-tips yang pernah saya baca di halaman-halaman media sosial. Sesungguhnya ketika orang bertanya bagaimana cara mendengarkan, yang mereka tanyakan adalah bagaimana cara merespon curahan hati yang telah dikemukakan.

Saya beranggapan bahwa sulit untuk tahu apakah kita teman curhat yang baik atau tidak, karena kita mendasarkan hal tersebut dari reaksi teman bicara kita. Maka seringkali kita berpikir bahwa suatu sesi curhat yang baik adalah ketika orang yang bersedih menjadi senang, atau ketika teman kita yang memiliki masalah memperoleh solusi. Begitulah kita terdorong untuk berpikir keras untuk menemukan respons yang tepat.

Di situlah letak kesalahan kita--saya. Kita memiliki persepsi bahwa peran kita sebagai teman bicara adalah sebagai pemberi solusi atau seseorang yang memperbaiki keadaan. Begitu pula sebaliknya, terkadang kita datang ke orang lain dengan harapan mereka dapat membantu mencari jalan keluar dari masalah kita.

Bagi saya, peran utama seorang teman bicara adalah sebagai teman, bukan konsultan. Kita tidak mampu dan tidak berhak mempengaruhi keputusan hidup seseorang. Kita pun tidak bisa untuk membalas keluhan-keluhan teman kita dengan ucapan-ucapan seperti “kamu seharusnya..” atau “jangan begini, tapi…”.

Saya sepenuhnya yakin bahwa orang-orang yang merespon curhat dengan cara-cara tersebut memiliki maksud yang baik dan tentunya ingin membantu teman bicaranya. Namun, kita tidak akan pernah tahu akibat-akibat dan reaksi-reaksi yang dimunculkan oleh saran-saran tersebut.

Memang tentunya kita tidak akan memberikan saran yang tidak membantu, akan tetapi ketika kita sedih atau kesusahan, kita tidak akan terpuaskan hanya dengan mendapat solusi praktis. Kita membutuhkan seorang teman yang membuat kita merasa lebih baik.

Sayangnya, tidak mudah juga membuat orang merasa lebih baik. Terkadang kutipan-kutipan umum seperti “kamu pasti bisa”, “semangat”, dan lainnya sudah cukup didengar oleh lawan bicara kita, dan tidak lagi cukup bermakna untuk merubah perasaan orang lain.

Untungnya kita tidak perlu mencari-cari kata untuk diucapkan pada lawan bicara kita. Bila kita refleksikan lebih lanjut, sebenarnya teman yang sedang membutuhkan, lebih membutuhkan kehadiran kita dibandingkan kata-kata yang kita ucapkan. Mereka—kita pun begitu—seringkali merasa sendiri dalam menghadapi masalah, merasa takut akan konsekuensi dan reaksi yang akan mereka hadapi.

Dalam keadaan seperti itu, mereka hanya butuh teman.

Menurut saya, yang dibutuhkan seseorang dalam situasi semacam itu adalah afirmasi bahwa sekalipun masalahnya telah terjadi, ia tidak sendirian. Bagaimana tidak? Ketika kita tidak mampu mengubah keadaan buruk, hal terbaik yang bisa kita dapatkan setelahnya adalah jika kita bisa melewatinya dengan hati tenang—akan lebih baik lagi bila kedepannya kita bisa menertawakan kejadian yang telah lalu tanpa merasa trauma atau terbebani.

Kehadiran kita sebagai teman bicara tidak perlu disertai dengan kata-kata mutiara atau saran-saran mujarab, melainkan perhatian penuh dan kehadiran itu sendiri. Terkadang kita tidak butuh mendengar apa-apa, kita hanya butuh mengatakan segala hal dalam kepala kita. Anggukan kepala terkadang cukup untuk meringankan beban seseorang.

Inilah sebabnya sebagian dari kita sering membutuhkan pelukan atau segala bentuk kehadiran fisik lainnya, karena kita sesungguhnya hanya butuh diingatkan bahwa kita tidak sendirian.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Teman yang Mendengarkan, dan Bukan Memberi Solusi. Bisakah?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar