3.3K
Deborah Legge, PhD, seorang konselor kesehatan mental di Buffalo, menyatakan bahwa terdapat beberapa aspek tertentu dari setiap pekerjaan manusia yang berkontribusi--dan bahkan memperburuk--depresi.

Berdasarkan riset tersebut, ternyata ibu rumah tangga adalah pekerjaan dengan tingkat depresi tertinggi.

Menjadi seorang ibu rumah tangga membuat perempuan memiliki berbagai permasalahan. Mulai dari permasalahan pengasuhan anak, pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, ketergantungan ekonomi terhadap suami, hingga perasaan rendah diri akibat pandangan masyarakat yang menganggap remeh status sebagai seorang ibu rumah tangga.

Seperti yang saya alami. Ketika saya ditanya apa pekerjaan saya, dan saya menjawab ibu rumah tangga, mereka yang bertanya langsung nampak heran. Apalagi ketika pertanyaan itu dilanjutkan dengan apa pendidikan terakhir saya. Di era modern seperti sekarang ini, menjadi ibu rumah tangga dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Apalagi bila seorang ibu rumah tangga tersebut memiliki latar belakang pendidikan tinggi.

“Sarjana kok di rumah!" Ini ungkapan yang sering saya dengar ketika orang bertanya apa pekerjaan dan latar belakang pendidikan saya.

Apakah ibu rumah tangga itu bukan sebuah pekerjaan?

Apa sebenarnya pengertian ibu rumah tangga itu?

Ibu rumah tangga didefinisikan sebagai seorang wanita yang bekerja menjalankan atau mengelola rumah keluarganya, bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya, memasak dan menghidangkan makanan, membeli barang-barang kebutuhan keluarga sehari-hari, membersihkan dan memelihara rumah, menyiapkan dan menjahit pakaian untuk keluarga, dan lain sebagainya. Ibu rumah tangga umumnya tidak bekerja di luar rumah. Merriam Webster Dictionary mendefinisikan ibu rumah sebagai seorang wanita menikah yang bertanggung jawab atas rumah tangganya.

Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan multi-tasking. Mulai dari mengurus suami dan anak, merawat rumah, menjadi koki dan guru bagi anak-anaknya, perawat bagi anggota keluarganya, sopir antar-jemput anak, sampai konsultan keuangan keluarga. Pekerjaan yang sangat banyak dan menyita waktu, pikiran, juga tenaga. Namun, memang tidak ada gaji yang diterima setiap bulan. Mungkin inilah yang menyebabkan ibu rumah tangga tidak disebut sebagai pekerjaan: karena tidak digaji.

Jadi, rasanya wajar ketika 'pekerjaan' ini cukup tinggi tingkat depresinya. Apalagi mengingat pekerjaan ini berlangsung setiap hari, nyaris selama 24 jam sehari!

Satu hal yang perlu diingat oleh kita sebagai ibu rumah tangga: jaga dan rawat diri baik-baik agar kita bisa tetap merasa bahagia.

Letih, lelah, capek, bosan... terkadang hal-hal ini memang menghampiri saat rutinitas mulai terasa menekan. Tak apa, yang penting kita selalu ingat untuk membahagiakan diri sendiri. Hanya dengan menjadi ibu rumah tangga yang bahagialah kita bisa menularkan kebahagiaan juga kepada seluruh anggota keluarga.

Ini beberapa hal yang saya lakukan untuk menjaga diri agar tetap bahagia sebagai ibu rumah tangga:

Pertama, terima apapun kondisi rumah tangga kita.

Bagaimana diri kita, pasangan kita dan anak-anak. Terima segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan membandingkan dengan kondisi keluarga lain. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Tapi, siapa yang tahu apa yang berada di balik hijaunya rumput tetangga?

Kedua, terus belajar meningkatkan kapasitas diri.

Sebagai ibu rumah tangga, kita juga perlu terus berkembang--sebagaimana ibu bekerja meniti tangga karir. Ini diperlukan agar kita juga punya pencapaian diri yang membuat kita merasa bangga sebagai seorang individu. Saya, misalnya, belajar bagaimana caranya menjadi 'lebih profesional' sebagai ibu rumah tangga. Saya belajar memasak makanan sehat, seni membereskan rumah, sampai belajar mengelola keuangan keluarga secara lebih baik. Dengan demikian, saya juga merasa tetap aktif, berilmu, dan berkembang sebagai individu.

Ketiga, tetap geluti hobi, atau miliki hobi baru.

Misalnya, yang suka membaca atau menulis, cobalah menjadi penulis. Kirim tulisan ke media massa. Atau aktif menulis di blog. Dengan demikian, karya kita juga akan lebih memberikan manfaat pada banyak orang. Buat yang suka masak, coba mulai menawarkan masakan kita kepada tetangga atau warung di sekitar rumah. Pada akhirnya ini tidak hanya menambah rasa percaya diri kita, namun juga membuat kita memiliki penghasilan sendiri. Mengerjakan hobi dan hal-hal yang disenangi akan membantu kita merasa bahagia, merasa punya waktu yang memang disisihkan untuk diri sendiri. Ini penting ketika waktu kita banyak tersita oleh keperluan keluarga. Kita juga butuh waktu untuk diri sendiri, dan ini tak mengapa.

Keempat, bergabung dengan komunitas.

Menjadi ibu rumah tangga membuat perempuan lebih sedikit memiliki teman dibandingkan dengan para wanita karir. Pergaulan pun jadi lebih terbatas. Terkadang, kita merasa tak punya cukup kesamaan atau ketertarikan yang serupa dengan ibu-ibu tetangga. Lalu kita jadi merasa 'sendiri' dan tak tahu harus berteman dengan siapa. Bergabung dengan komunitas yang sevisi akan membuat kita merasa tidak sendiri. Kita juga bisa bergabung di komunitas online jika tak sempat keluar rumah. Dari komunitas yang baik dan sevisi, kita bisa saling belajar dan berbagi pengalaman. Pilih komunitas yang sesuai dengan minat kita; juga komunitas yang ramah dan bisa memberikan dukungan positif bagi kita.

Kelima, jangan tergoda menjadi Supermom.

Melakukan semuanya sendiri, ingin melakukan segalanya secara sempurna, atau merasa perlu 'bersaing' dengan ibu-ibu lainnya agar keluar menjadi ibu yang 'terbaik'. Sesungguhnya, menjadi Supermom hanya akan membuat kita stres dan tak pernah puas. Berbagi peranlah dengan suami dan anak-anak. Beri tahu mereka jika kita merasa kewalahan. Jangan takut meminta bantuan. Meminta bantuan akan membuat pekerjaan ibu rumah tangga menjadi lebih ringan sekaligus melatih kemandirian suami dan anak-anak. Jangan takut 'kalah' dari 'ibu sebelah'. Jadilah versi diri kita yang terbaik, tanpa perlu membandingkannya dengan orang lain. Yang penting kita bahagia, dan keluarga juga bahagia!

Keenam, selalu bersyukur dengan pilihan yang diambil.

Jika kita memilih menjadi ibu rumah tangga, pilihlah hal ini dengan senang hati, bukan karena keterpaksaan. Jadikan ini sebuah pilihan sadar yang dilakukan dengan penuh cinta dan tanggung jawab.

Salam,

Dian Kusumawardani, S.Sos

Koordinator Online Institut Ibu Profesional Surabaya

Penulis Buku Jibaku Post Power Syndrome Full Time Mom


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

dee kusumawardani | @deekusumawardani

Saya adalah seorang ibu dua anak yang menjadi pengajar di BKB Nurul Fikri. Aktif di AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Jawa Timur dan Institut Ibu Profesional Surabaya. Memiliki hobi menulis dan telah memiliki karya buku antologi yang berjudul "Jiba

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar