7.5K
Ketika iri kita ubah menjadi pemacu diri, itu artinya kita berjalan ke atas. Bukan terjun bebas seperti saat iri menjadikan kita rendah diri.

Saya iri pada teman saya yang mendapat nilai lebih tinggi. Saya iri pada teman saya yang dipanggil wawancara kerja di perusahaan yang kami lamar, sementara saya tidak. Saya iri pada rekan saya yang lebih disayangi atasan daripada saya. Saya iri pada kawan saya yang memiliki pasangan nyaris sempurna. Saya iri pada tetangga sebelah rumah yang bisa membeli ini itu tanpa pikir panjang.

Ya, semudah itu iri beranak-pinak.

Iri adalah penyakit hati yang mudah dijumpai, dan sayangnya, iri bisa begitu hebat menggerogoti diri. Terkadang, iri mampu bersembunyi di balik kata-kata pembenaran semacam:

"Wajarlah dia dapat nilai yang lebih tinggi. Dia kan sibuk akademik saja, ndak ngurusi organisasi atau kepanitiaan."

"Dia dipanggil wawancara kerja karena punya kenalan orang dalam, tuh."

"Kebanyakan tebar pesona, cari perhatian, dan sok kenal sama atasan, makanya dia lebih disayang."

"Saya mah apa. Dia lebih cantik dan jago dandan. Laki-laki mana yang nggak suka?"

"Mereka nggak kerja pun sudah kaya. Harta orang tua bisa buat makan sehari-hari sedangkan gaji dipakai beli barang-barang mahal."

Atau jutaan pembenaran-pembenaran lain yang serupa. Sekadar untuk membuat diri merasa lebih baik sesaat. Lihat, itu bukan salah saya. Ini salah keadaan, kondisi, atau situasi.

Kalau sudah begitu, bisa jadi ini pertanda iri berhasil menggerogoti diri dan menafikan segala pemikiran positif. Iri menang ketika kita tidak turut berbahagia saat mendengar kabar bahagia dari kawan, rekan, atau bahkan tetangga. Iri menang ketika kabar bahagia dari orang-orang terdekat justru membuat kita rendah diri.

"People who can't stand to see the success of others will never experience their own," kata seseorang.

Bila dicermati, iri memang muncul karena ketidakpuasan atas diri. Tetapi, bila dihayati kembali, bukankah setiap orang sudah punya waktu dan jalannya masing-masing? Ketika kawan sudah berada di puncak sementara kita masih di bawah dengan segala ketidakpastian, maka pertanyaannya adalah: sudahkah kita melakukan yang terbaik?

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah kita harus menempuh jalan yang sama dengan kawan kita itu, dan berakhir di tempat yang sama dengannya? Apakah yang baik untuknya sudah pasti baik juga untuk kita?

Saya pernah terjerumus dalam perasaan iri pada kawan yang berhasil mendapatkan impiannya. Berkali-kali saya mengutuki diri sendiri atas ketidakmampuan saya. Tetapi, nyatanya yang saya dapat cuma perasaan marah dan bersalah. Kawan saya tetap bahagia menjalani hidupnya, saya tetap tak beranjak ke mana-mana.

Iri memang bukan untuk dipelihara.

Iri harusnya menjadi pemacu kita untuk memperbaiki diri.

"Dia berhasil memang karena kerja kerasnya setiap hari. Saya masih di sini sebab saya terlalu banyak mengeluh dan malas memaksimalkan potensi. Saya iri sama dia. Saya mau jadi seperti dia. Itu berarti saya harus bekerja lebih keras lagi."

"Dia hebat bisa mencapai posisi tersebut! Saya, sebenarnya saya tak menginginkan posisi dia sekarang, karena saya punya impian saya sendiri. Ah, senang rasanya bisa punya pencapaian seperti dia. Saya harus lebih rajin untuk meraih impian saya sendiri."

Mudah membacanya, sulit praktiknya.

Tetapi, saya sedang mencoba. Dan yang saya tahu, ketika iri kita ubah menjadi pemacu diri, itu artinya kita berjalan ke atas. Bukan terjun bebas seperti saat iri menjadikan kita rendah diri.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengubah Iri Menjadi Pemicu Perbaikan Diri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Dwi Lestari | @dwilestari7897

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar