999
Beberapa filsuf terkenal dari Tiongkok, seperti Lao Tzu dan Confucius, mengajarkan banyak kebajikan lewat untaian kata-kata mereka.

Terdengar seperti pepatah; dan terkadang peribahasa, kebajikan-kebajikan ini mengingatkan kita akan banyak nilai kebaikan untuk kehidupan kita sehari-hari.

Berikut 7 kebajikan asal Tiongkok untuk menemani kita dan kawan-kawan yang sedang merayakan Tahun Baru Imlek.


1. Mereka yang mengetahui, tak banyak bicara. Mereka yang banyak bicara, tak mengetahui. ― Lao Tzu

1. Mereka Yang Mengetahui, Tak Banyak Bicara. Mereka Yang Banyak Bicara, Tak Mengetahui.  ― Lao Tzu -

Dalam peribahasa Indonesia, sering dikatakan, "Tong kosong nyaring bunyinya."

Ketika seseorang punya pengetahuan yang mendalam tentang sesuatu hal, ditemani oleh kebajikan dalam menggunakan pengetahun tersebut, biasanya orang tersebut cenderung rendah hati. Tindakannya dalam mengimplementasikan apa yang ia ketahui, bergerak tanpa banyak suara, tanpa banyak bicara, tanpa berupaya menarik perhatian orang banyak. 

Sementara itu, kebanyakan dari mereka yang berteriak, bersuara keras dalam upaya menarik perhatian orang-orang terhadap dirinya (dan apa yang ia anggap telah diketahuinya), justru biasanya belum memiliki pengetahuan yang mendalam; baik mengenai suatu keilmuan, perihal, maupun mengenai dirinya sendiri.


2. Kebaikan dalam berkata-kata menciptakan rasa percaya diri. Kebaikan dalam berpikir menciptakan pemahaman yang mendalam. Kebaikan dalam memberi menciptakan cinta. ― Lao Tzu

2. Kebaikan Dalam Berkata-kata Menciptakan Rasa Percaya Diri. Kebaikan Dalam Berpikir Menciptakan Pemahaman Yang Mendalam. Kebaikan Dalam Memberi Menciptakan Cinta. ― Lao Tzu -

Ketika kita mengutarakan kata-kata yang baik, kita sesungguhnya menciptakan rasa percaya diri--bukan hanya untuk diri kita sendiri, namun juga bagi orang lain yang mendengarnya. Betapa indah jika kata-kata yang keluar dari diri kita adalah kata-kata yang baik, yang menyejukkan, yang menyemangati, bukannya menyakiti. 

Ketika kita berpikir dengan baik, juga berpikir mengenai hal-hal yang baik, atau berpikir mengenai bagaimana menciptakan lebih banyak kebaikan, kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai apapun hal yang tengah kita pikirkan itu. Seringkali kita tak berpikir jernih, melompat untuk segera bertindak sebelum segalanya dipikirkan baik-baik, dengan hati yang tenang, dan dengan niat untuk menuju kebaikan. 

Terkadang kita memberi karena menginginkan sesuatu. Ada momen-momen di mana kita mengharapkan timbal-balik. Saya memberi kamu ini, kamu akan memberi saya itu. Terkadang kita memberi karena merasa harus. Terkadang kita memberi karena memberi membuat kita merasa hebat. Terkadang kita memberi karena ingin dinilai sebagai orang yang baik dan pemurah. Ketika kita memberi dengan tulus, memberikan waktu, memberikan tenaga, memberikan kasih-sayang, atau apapun itu, tanpa mengharapkan yang lain sebagai efek sampingnya:  barulah sebenarnya kita sungguh-sungguh mencintai dan menghadirkan cinta dari tindakan memberi.


3. Ada keindahan dalam setiap hal, namun tak setiap orang dapat melihatnya. ― Confucius

3. Ada Keindahan Dalam Setiap Hal, Namun Tak Setiap Orang Dapat Melihatnya. ― Confucius -

Jika segala hal di dunia ini merupakan ciptaan Yang Maha Sempurna, maka tentunya kita percaya bahwa segala hal itu menyimpan kebaikan dan keindahan. Bahkan sesuatu yang sepintas nampak buruk, sebenarnya menyimpan kebaikan; karena bukankah tak ada baik jika tak ada buruk? 

Kebahagiaan sederhana adalah ketika kita bisa melihat kebaikan dan keindahan dalam setiap hal, dalam setiap makhluk, dalam setiap situasi. Terkadang, kita luput melihat keindahan ini dan berkutat hanya dalam melihat keburukan, sehingga kita pun merasakan diri menjadi lelah, emosi, marah, sedih, kecewa, dan lain sebagainya. Tak semua dari kita bisa melihat keindahan itu, yang sesungguhnya ada di mana-mana, di sekitar kita. 

Bersyukur akan berkah yang telah diberikan terhadap kita oleh Yang Maha Pemurah semoga dapat membantu kita melihat keindahan-keindahan dan kebaikan-kebaikan itu. 


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengintip 7 Kebajikan Asal Tiongkok untuk Menemani Perayaan Imlek Kita.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar