3.1K
Don't waste yourself in rejection, nor bark against the bad, but chant the beauty of the good. -Ralph Waldo Emerson

Setidaknya ada tiga penolakan yang saya terima akhir-akhir ini. Ketiganya membekas karena saya menaruh harap pada tiap-tiap kesempatan yang diberikan orang-orang yang akhirnya menolak saya.

Penolakan itu datang dalam berbagai bentuk: dibicarakan dua arah dengan saya lewat telepon, dijelaskan secara tertulis lewat email, dan dinyatakan lewat gestur. Berbeda bentuk tetapi pesan yang disampaikan serupa: maaf, bukan kamu yang saya butuhkan/inginkan.

Saya butuh waktu untuk memamah masing-masing tanpa menghasilkan ampas patah hati yang mungkin tersisa akibat harapan yang saya taruh pada tiap-tiap kesempatan. Sampai di satu titik saya tersadar kalau yang saya butuhkan adalah sedikit empati kepada tiap-tiap orang yang menolak saya itu.

Sama seperti saya, mereka pun sedang berusaha mencari yang mereka butuhkan/inginkan, dalam bentuk orang, kesempatan, atau apapun.

Sama seperti saya, mereka pun butuh/ingin orang, kesempatan, atau apapun itu sesuai dengan kebutuhan/keinginan mereka; yang setara atau beresonansi dengan mereka.

Sama seperti mereka, saya pun akan menolak jika orang, kesempatan, atau apapun itu yang datang tidak sesuai dengan kebutuhan/keinginan saya.

Penolakan-penolakan ini bukan tentang saya tidak layak, tetapi tentang mereka yang masih ingin mencari--dan tentang saya: yang juga masih mencari orang, kesempatan, atau apapun itu yang sesuai dengan apa yang saya butuhkan/inginkan.

Dan sudut pandang ini, membuat saya merasa bahwa penolakan-penolakan itu adalah hal yang wajar dan biasa. Sudut pandang ini membuat saya tahu, bahwa sedianya, saya baik-baik saja.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Menghadapi Penolakan dengan Sudut Pandang Baru.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Theresia Suganda | @twiras

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar