1.5K
Kesendirian membebaskan kita dari aturan-aturan atau batasan-batasan yang dibuat oleh orang lain.

Bersendiri tak berarti kesepian.

Saya rasa, masih terdapat miskonsepsi bagi sebagian orang, yang menganggap kegiatan menyendiri sebagai sesuatu yang negatif. Apabila seseorang menemukan saya duduk sendiri dalam diam, ia akan bertanya ada apa dengan saya, seolah-olah ketika kita menyendiri berarti ada sesuatu yang salah dalam hidup kita.

Mungkin, mereka cemas.

Tapi untuk saya,kesendirian sama sekali tidak menyakitkan. Justru banyak hal-hal baik terjadi ketika saya bersendiri. Memang, ada juga pasang-pasang mata yang menatap saya aneh, tapi saya juga bertemu orang-orang yang memikat hati dengan raut muka dan gerak-geriknya yang unik, atau dengan judul lagu yang ditampakkan layar ponselnya. Hal-hal dan orang-orang yang tidak akan saya simak saat sibuk bersama kawan-kawan.

Kesendirian adalah kesempatan melepaskan lelahnya berinteraksi dengan orang lain. Otak saya akan terbawa berputar-putar untuk menemukan topik dan balasan tepat dalam setiap percakapan, sementara kesendirian memberi kesempatan bagi otak saya beristirahat; sekaligus memberikan waktu baginya untuk menelusuri sudut-sudut pemikiran dengan bebas.

Tanpa keberadaan orang lain, pikiran saya menjadi makhluk bebas.

Saya percaya bahwa kita berhenti melakukan represi terhadap sifat-sifat dan pemikiran asli kita ketika kita tidak terpaksa berinteraksi dengan orang lain, sehingga tidak terikat dengan “peraturan-peraturan” yang mendikte cara bertingkah laku. Memang, kesendirian tidak mutlak menjadikan kita sepenuhnya bebas, namun banyak kenikmatan yang saya dapatkan dari membebaskan diri dan pikiran saat bersendiri.

Lalu yang terbaik, adalah teman bicara kita saat kita sendiri: diri kita sendiri.

Terkadang ini memang mengerikan, karena ketika saya sendiri, saya melihat bagian-bagian diri dan pikiran yang tidak saya sadari keberadaannya. Mungkin ini sebabnya mengapa sebagian orang merasa sulit untuk berdiam diri: karena pikiran tergelap kita bisa sewaktu-waktu muncul.

Kita mendadak teringat pada kejadian-kejadian memalukan di masa lampau, pikiran-pikiran gelap kita menyerang. Kesedihan-kesedihan lama yang belum berbuah air mata mendadak menjadi-jadi dan entah bagaimana kita meneteskan air mata di tengah hari yang tenang, bahkan sebelum kita berinteraksi dengan siapapun kecuali petugas kereta atau pelayan restoran.

Namun, pikiran baik juga mampu menghadirkan diri yang kita cari-cari, seperti semangat untuk mencoba hal baru atau semangat lama yang bangkit kembali di tengah mengingat-ingat kenangan lama. Mungkin tampak wajah bahagia di masa kecil saat melakukan hal kesukaan. Mungkin kita akan teringat seorang teman lama yang membuat kita ingin bertemu kembali. Mungkin kita teringat kebaikan seseorang yang akhirnya membuat kita mampu memaafkan.

Baik maupun buruk, saya merasa perlu meluangkan waktu untuk bicra pada diri sendiri. Dan bersendiri. Dalam diri, ada pesan-pesan yang ingin kita sampaikan; tetapi mungkin kita terlalu malu untuk menyampaikannya di depan orang lain. Muncul ketenangan hati saat saya bersendiri dan memahami diri sendiri, baik dari sisi positif maupun negatifnya.

Maka setiap beberapa waktu, saya mengizinkan diri untuk menyendiri dan menyadari, melihat, menyimak, serta mendengar hal-hal yang tidak akan saya sadari, lihat, simak, atau dengar saat tidak sedang bersendiri.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mengapa Kita Butuh Waktu untuk Bersendiri.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Mobil Sport