4.2K
Konon, katanya, kalau kita berada terlalu lama di zona nyaman, kita akan merasa kurang tertantang, tidak produktif.

Pernah merasa takut atau cemas akan hal yang belum lagi dijalani?

Meskipun saya tipe pribadi ekstrovert, tetap saja rasa takut dan tak nyaman kerap melanda. Terlebih jika saya harus keluar dari keadaan yang sudah saya anggap mapan, sekaligus nyaman.

Bayangkan saja, ketika kita sudah berada di zona nyaman, lalu harus berjalan keluar dari sana. Sudah beberapa kali hal ini terjadi terhadap diri saya. Dari mulai kenaikan kelas dan berpisah dengan kawan karib, melanjutkan kuliah di tempat yang asing, atau pindah tempat kerja.

Konon, katanya, kalau kita berada terlalu lama di zona nyaman, kita akan merasa kurang tertantang, tidak produktif.

Well, sebenarnya hal ini mungkin kembali lagi ke diri sendiri. Ada beberapa orang yang tetap tinggal di tempatnya dan tetap bisa mengembangkan dirinya sendiri. Mengubah dirinya menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Ada pula yang terlalu takut untuk berjalan dan memilih tinggal di tempat yang membuainya dengan segala kenyamanan.

Menurut saya, ketakutan ini sebenarnya adalah hasil dari imajinasi kita sendiri tentang hal-hal baru yang belum lagi kita jalani. Imajinasi yang kadang terlalu liar.

Bayangkan saja, kalau kita berada di tempat baru. Perasaan excited belakangan terganggu dengan banyaknya pikiran negatif yang muncul. Kebanyakan berisi ketakutan akan bagaimana nanti penerimaan orang lain terhadap kita. Setidaknya ini, sih, yang sering saya rasakan.

Menjadi asyik versi kita, belum tentu dapat diterima oleh orang lain. Bisa saja mereka secara tidak sengaja tersakiti hatinya. Padahal menurut kita tak ada yang salah. Yang salah hanya saja mungkin kita tidak melihat dan mengenali lingkungan dulu. Bicara ceplas-ceplos yang berujung sakit hati. Ini, saya juga pernah mengalaminya.

Atau bisa jadi perubahannya tejadi di lingkungan sekitar kita. Ini saya rasakan betul ketika saya pertama kali ke Jakarta. Rasanya sedih sekali berada jauh dari keluarga sekaligus kehilangan teman karib semasa kuliah. Saya kemudian pindah ke lingkungan yang keras, yang memaksa saya untuk berubah. Rsanya waktu itu hati saya sangat kosong. Beberapa kali saya menangis tidak jelas. Saya belum siap dengan perubahan yang dihadapi.

Menerima hal-hal yang baru, atau hal-hal yang di luar kebiasaan dan keseharian kita, memang terkadang membutuhkan waktu yang panjang. Hal-hal baru itu terkadang memaksa kita untuk berubah. Bahkan membuat kita meninggalkan sebagian diri atau mimpi kita.

Berdamai dengan diri sendiri adalah hal yang mudah diucapkan; tetapi buat saya, sulit dipraktikkan. Berdamai dengan diri sendiri membutuhkan kesadaran penuh atas apa yang kita lakukan. Prosesnya yang dalam membuat kita perlu merenungi diri kita, menyelami, dan mengenali diri kita sendiri, lagi.

Kekuatan untuk menerima ini cenderung melahirkan rasa ikhlas. Ikhlas menerima perubahan dan berjalan di antara lembaran-lembaran baru.

Mungkin yang bisa kita lakukan adalah mengubah sudut pandang.

Bagaimana jika ketakutan yang kita bayangkan, serta semua andai-andai mengenai hal buruk yang akan terjadi kita ubah? Kita ubah saja imajinasi dan andai-andai itu menjadi andai-andai mengenai keindahan dan kebaikan dari sisi yang lain.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Memilih Sudut Pandang Tepat untuk Berandai-andai: Jangan Pilih Andai-andai Menakutkan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

bestari prameswari | @bestariprameswari

Wife and mom for her family Passion in writing and cooking

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar