2.5K
Sebelum pesawat lepas landas, kita akan melihat Pramugari memeragakan prosedur keselamatan. Yang paling menarik perhatian saya adalah saat terdengar kata-kata, "Bagi penumpang yang membawa anak-anak, dianjurkan untuk mengenakan masker terlebih dahulu, setelah itu barulah kenakan masker pada anak Anda."

Makna yang tersirat dari kata-kata itu adalah, tolonglah dulu diri sendiri sebelum menolong orang lain, terutama orang-orang yang amat kita sayangi.

Lama saya memikirkan kata-kata tersebut.

Dari sekian pengalaman hidup saya, poin penting yang dapat saya petik adalah: diri kita adalah magnet. Ya, kita adalah magnet bagi orang-orang di sekeliling kita. Kita bisa menjadi magnet kebahagiaan maupun magnet penderitaan. Bila hati kita keruh, hidup terasa begitu sulit. Masalah datang bertubi-tubi, dan kita tidak akan sempat untuk memikirkan bagaimana kita akan berbuat baik kepada orang lain. Sementara untuk berbuat baik pada diri kita sendiri saja kita belum mampu.

Sebaliknya bila kita dapat membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu, maka untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekeliling kita pun akan terasa lebih mudah. Seperti teko air, bila tak ada air di dalamnya, lalu apa yang akan kita tuang pada gelas-gelas kosong di atas meja?

Saya pun memahami ini mengingat salah satu pengalaman hidup saya. Pengalaman hidup yang tak pernah saya sesali dan tak akan saya tukar dengan apapun, karena pelajaran berharga yang diberikannya.

Pengalaman ini adalah pengalaman menikah.

Menikah dengan orang yang mungkin tidak tepat bila saya jadikan suami, namun lebih tepat bila saya jadikan sahabat atau saudara. Saya tidak begitu leluasa menyayangi anak waktu saya masih terikat pernikahan, karena ada begitu banyak hal yang berseliweran di kepala. Ada beban besar yang rasanya berat sekali saya tampung di dada. Ada semacam perasaan tidak bahagia, menyesal, bertanya-tanya dan aneka perasaan negatif lainnya. Akibatnya, saya pun menjadi magnet penderitaan. Siapapun yang dekat dengan saya akan ketularan menderita. Entah itu bertengkar dengan saya, atau menerima hardikan-hardikan serta kata-kata kasar dari saya.

Semua berubah saat saya mulai menyadari tentang pentingnya menyayangi diri sendiri sebelum saya berupaya membahagiakan orang lain.

Keputusan cerai yang sempat membuat saya kalut, lambat-laun mulai membuka sisi baiknya. Harus jujur saya akui, saya lebih bahagia setelah bercerai. Dan ya, saya juga masih memelihara hubungan baik dengan mantan suami saya berikut dengan pasangan barunya. Efeknya, hidup terasa jauh lebih indah.

Anak saya pun juga menerima imbasnya. Dia sudah terbiasa dengan pola asuh Senin sampai Jumat bersama keluarga ayahnya dan Sabtu-Minggu serta liburan sekolah bersama saya dan keluarga saya. Dia yang sudah kami beritahukan akan pemahaman bahwa tidak masalah bila orangtuanya sudah bercerai. Toh dia tetap mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dia tidak ada beda dengan anak-anak lain, dengan orang tua yang tingal bersama.

Masalah dia bahagia atau tidak, itu urusan lain.

Bukankah anak-anak yang berada dalam sebuah keluarga yang utuh pun masih bisa dipertanyakan kebahagiaannya?

Saya belajar bahwa kunci hidup yang bahagia adalah bersyukur dan berterima kasih atas semua pelajaran yang kita dapat di dalamnya. Lepas dari benar atau salah keputusan hidup yang kita ambil di mata orang lain, kita tetaplah pelakon utama yang berada pada garis tipis pemisah antara benar dan salah.

Jika benar, benar menurut siapa? Dan jika salah juga salah menurut siapa?

Semuanya adalah relatif, dapat menghadirkan penafsiran berbeda tergantung kita melihatnya dari sudut mana.

Jadi, tetaplah berjalan dan pancarkan sinar bahagiamu bagi dirimu sendiri, orang-orang di sekelilingmu, dan seluruh alam semesta


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Membahagiakan Diri Sendiri Sebelum Membahagiakan Orang Lain". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Traveller, A Believer

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Alibaba Alibabi | @alibabaalibabi

Nice Info Good Article Kacamata