1.2K
Saya percaya seperti halnya racun, dendam pun mampu membuatmu mati secara perlahan, bahkan tanpa kamu sadari.

Kemarin pagi, Sandra Woworuntu memberi tanda hati pada twit saya yang menuliskan “Forvigeness is a gift for yourself ~ Sandra Woworuntu.”

Saya terpekik senang, notabenenya twit itu saya tuliskan di akhir bulan Oktober tahun lalu ketika akhirnya punya kesempatan hadir dan mendengarkan langsung perempuan luar biasa ini di salah satu sesinya di Ubud Writer's Festival.

Kembali terbayang suasana di Cafe Indus Ubud kala sesi itu berlangsung, penuh haru dan energi positif. Bersama Sandra, hadir tiga pembicara lainnya yang punya berbagai latar lain berkaiatan dengan memaafkan. Sesi yang berjudul Forgiveness is A Practice tak tuntas saya ikuti, maklumlah hadir sebagai volunteer membuat waktu saya tak sefleksibel yang saya mau. Kata-kata yang saya tuliskan di twit itu saya dengar persis beberapa saat ketika dengan berat hati harus meninggalkan ruangan.

Peristiwa itu telah berselang beberapa bulan, tapi energinya masih ada di sini bersama saya. Meliputi saya dengan penuh.

Siangnya, ketika sedang berselancar di dunia maya, saya menemukan sebuah artikel yang menceritakan seorang perempuan yang membantu pembebasan pelaku penembakannya. Saya meramang, membaca ulang berita ini sekali lagi dan tertegun tak percaya.

"Apakah manusia memang dirancang memiliki hati yang lapang?"

Sorenya, saya mendapat pemberitahuan tentang topik Kamantara bulan ini: “Letting Go.” Runtutan peristiwa ini seperti konspirasi semesta untuk membuat saya menuliskan cerita ini. Cerita luar biasa memang sebaiknya dibagikan.

Kisah inspiratif tentang Sandra Woworuntu yang terlibat perdagangan manusia dan dijadikan pelacur di luar negeri tentunya sudah melegenda buat kita. Bagi Sandra hal pertama yang harus dilakukan adalah memaafkan dirinya untuk membiarkan hal tersebut terjadi; dan lantas punya cukup kekuatan untuk memaafkan perbuatan yang dilakukan kepadanya.

Berbeda dengan Debie Baigrie yang memaafkan orang yang menembak dan membuat rahangnya harus direkronstruksi dan lidahnya tercabik peluru. Sebagian orang merasa Debie gila dan delusional ketika membantu proses pembebasan Ian Manuel yang menembaknya di Florida puluhan tahun silam. Tapi Debie percaya hidup ini singkat; dan kita harus memaafkan justru untuk menyembuhkan diri kita. Debie merayakan kebebasan Ian setelah lelaki itu dipenjara selama 26 tahun dengan makan pizza dan berfoto bersama.

Dari senyumnya, bisa dikatakan mereka berbahagia untuk satu sama lain, tulus dan mencegangkan.

Beginilah kata-kata Debie dikutip dari Today.com

“We all make mistakes, we all try our best, and life is so short,” she said. “And if anybody knows how your life can be gone in one minute, it’s me. I understand that. We have to forgive, because it helps us heal.”

Kisah Sandra dan Debie membuktikan manusia bisa dan dibekali kemampuan untuk memaafkan. Pertanyaannya hanya, "Akankah kamu mengijinkan dirimu untuk melepaskan dendam itu?"

Saya percaya, seperti halnya racun, dendam juga mampu membunuhmu perlahan-lahan dan dalam diam. Dendam akan menggerogoti hatimu dan membuatmu menjadi manusia yang picik dan penuh sinis. Membuatmu kehilangan kualitas hidupmu dan tanpa kamu sadari, kamu berubah menjadi orang yang tak lagi kamu kenal.

Lepaskan dan relakan dendam-dendam yang telah membatu di sudut hati. Oh, bukan, bukan demi mereka yang telah merobek jiwamu, mematahkan hatimu, atau mempermalukanmu di depan umum, tapi demi kamu. Ya, kamu.

Mengutip kata Sandra, memaafkan itu adalah hadiah terbesar yang bisa kita berikan untuk diri sendiri.





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Memaafkan Adalah Hadiah Terbesar yang Bisa Kita Berikan untuk Diri Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar