6.1K
Pernahkah kamu mengalami kehilangan? Siapa sosok yang hilang dari hidupmu? Sahabat? Kekasih? Atau bahkan anggota keluarga yang sangat sangat kamu kasihi?

Seberapa besar rasa kehilanganmu? Rasa kehilangan akan semakin menjadi bila kita memiliki rasa sayang yang begitu besar terhadap seseorang. Semakin sayang kita dengan seseorang itu, maka semakin kehilanganlah kita jika mereka tak ada lagi di sisi kita.

Lalu, saat keadaan membawa pergi seseorang yang kita kasihi itu, apakah yang akan kita lakukan selanjutnya?

Saya mengakui, pasti akan susah untuk kita bangkit kembali. Jangankan bangkit, kemauan untuk merelakan kepergian mereka saja rasanya enggan. Memang, kehilangan itu berarti banyak: banyak sakit.

Sebagian orang mungkin akan butuh waktu lama untuk bisa pulih lagi, untuk bisa kembali tersenyum lagi, untuk bisa meraa benar-benar sembuh – namun sebagian lagi? Tidak sanggup menghadapi. Akhirnya memilih untuk mematikan hatinya yang sakit dan berkamuflase dengan tetap tersenyum di hadapan orang lain.

Beragam reaksi yang timbul dari ditinggalkan; entah itu berteriak, menangis, mandi air dingin, makan es krim, tidur... seharusnya bisa sedikit menutupi lubang yang menganga akibat ditinggalkan. Pertanyaannya adalah, apakah kehilangan harus membuat kita kehilangan diri sendiri?

Kepergian seseorang, sebagaimana pertemuan kita dengannya, berada di luar kuasa kita.

Sekeras apapun kita menangis, tak berarti kita bisa mengembalikannya ke sisi kita lagi.

Saya tidak menganggap remeh sebuah kehilangan. Saya pernah berada di sana. Dan kehilangan mengajarkan saya bahwa ini bukan tentang seberapa hebat atau seberapa masif kita bisa bersedih. Kehilangan adalah tentang seberapa kuat kita bisa melaluinya. Sakitnya mungkin tidak hilang. Kita mungkin berpikir, tidak ada lagi harapan kita untuk bisa tersenyum: seperti dulu saat "dia" masih ada.

Tapi kita akan tersenyum lagi.

Saya tersenyum lagi.

Untuk alasan-alasan kecil. Untuk hal-hal sehari-hari yang masih bisa saya syukuri. Untuk ingatan-ingatan tentang mereka yang telah pergi, tapi telah meninggalkan sebagian diri mereka dalam diri saya: cerita-cerita, ingatan, pelajaran hidup, pengalaman, kenangan.

Menangis saja. Berteriak saja. Lakukan cara apapun yang kita rasa perlu untuk melepaskan apa yang mengganjal di dada; agar kita merasa lebih baik. Lebih lega. Lepaskan kesedihan itu. Biarkan ia keluar dan berproses selama atau sesebentar yang diperlukan. Melepaskan akan membuat kita merasa lebih baik daripada menahan--apalagi menyembunyikan.

Hidup adalah perihal perjumpaan dan perpisahan.

Semakin banyak warna dan cerita dalam hidup kita, akan semakin banyak pula kehilangan yang akan kita alami. Kehilangan adalah hal yang tak terelakkan. Jadi, mari sadari kesementaraan ini, dan lakukan apa yang perlu kita lakukan agar tak ada penyesalan di kemudian hari.

Sesungguhnya kehilangan akan bisa kita lalui dengan lebih baik, ketika tak ada yang kita sesali. Bahwa kita mampu melihat ke belakang dan berkata bahwa kita telah melakukan semua yang bisa kita lakukan, dan kita telah memberikan yang terbaik pada setiap mereka yang pernah bersilang jalan dengan kita.

“It all goes away. Eventually, everything goes away.”― Elizabeth Gilbert


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Melewati Kehilangan dengan Lebih Baik: Lepaskan, dan Jangan Memendam Penyesalan.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Stella azasya | @stellaazasya

Mencintai matahari terbit sebagai alasannya bangun besok hari

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar