2.5K
“Apakah karena aku menyukai pekerjaan ini, semua terasa menyenangkan?” atau “Apakah karena aku mengerjakan apa yang aku sukai, jadi ngerasa nggak ada beban di hati?”

Ada sebuah percakapan yang tiap kali aku ingat, langsung bikin aku senyum-senyum sendiri.

“Kamu kok kelihatan senyum-senyum terus sih di kantor? Nggak stress kah? Padahal kan banyak banget yang harus dikerjain.”
“Oh iya, Pak? Wah gimana ya, Pak... Ya pusing sih, Pak. Tapi mau gimana lagi kan sudah bagian dari kerjaan. Saya juga suka sama bidang ini.”

Itu adalah sebuah komentar dari atasan sekaligus pemilik brand tempatku bekerja beberapa bulan terakhir ini.

Sebenarnya aku kaget dengar komentar beliau. Tapi aku jauh lebih kaget dengan jawabanku sendiri.

Do I really enjoy what I’m doing right now?”

Surprisingly, menilik kembali semua hal yang aku alami di kantor, jawabannya adalah IYA.

Nggak bohong sih, kalau kerja itu nggak selamanya enak. Ada beberapa kali aku merasa kesal dengan beban kerjaan yang banyak dan super bikin pusing. Terlepas dari semua itu, aku tetap menyukai apa yang sedang kujalani sekarang.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah….

“Apakah karena aku menyukai perkerjaan ini, semua terasa menyenangkan?”
atau
“Apakah karena aku mengerjakan apa yang aku sukai, jadi ngerasa nggak ada beban di hati?”

Bisa jadi pertanyaan kedua adalah jawabannya.

Tapi aku juga percaya dengan pertanyaan pertama. Meski sekarang aku melakukan apa yang aku sukai, jika aku nggak menikmati proses bekerja ini, aku yakin nggak akan merasa sebahagia ini.

Aku jadi ingat dengan istilah resonansi.

Kalau di pelajaran IPA, resonansi adalah istilah untuk peristiwa bergetarnya satu benda, karena getaran benda lain.

Resonansi terjadi karena antara benda tersebut memiliki frekuensi yang sama. Seringnya sih, garpu tala disebut sebagai salah satu benda yang menjadi contoh resonansi.

Namun resonansi ternyata nggak hanya tentang benda mati, yang bergetar -- karena memiliki frekuensi yang sama.

Resonansi ternyata bisa dialami oleh kita.

Diri kita dengan orang-orang di sekitar kita. Diri kita dengan lingkungan kita. Iya, segala hal yang datang kepada kita, termasuk orang yang berada dalam lingkaran dalam kita -- adalah mereka yang beresonansi dengan kita. Mereka yang tidak kita sadari memiliki frekuensi yang sama dengan kita.

Barangkali yang saat ini sedang aku alami adalah bagian dari resonansi.

Aku menyukai apa yang aku kerjakan. Aku mengerjakan apa yang aku sukai. Maka hasilnya adalah lingkungan sekitar yang seolah mendukungku. Ada orang-orang baik, seperti teman-teman kantor, yang begitu penuh semangat dan berpikiran positif. Semuanya membuat apa yang sedang aku jalani terasa jauh lebih menyenangkan.

Bukan berarti selama ini semuanya berjalan dengan baik. Bukan berarti selama aku bekerja, nggak pernah ada konflik atau gesekan. Konflik tetap ada, kok.

Tapi aku yakin, gesekan atau konflik yang terjadi adalah perubahan menuju sesuatu yang lebih baik.

Sekarang ini aku sedang menghitung hari sebelum masa kontrak kerja usai.

Aku sudah memiliki rencana untuk sekolah lagi. Mengejar mimpi yang lain. Sesuatu yang jauh berbeda dari bidang yang aku geluti saat ini.

Dalam masa menunggu, ada sebuah keresahan, “Apakah nanti aku akan sebahagia menjalani semuanya seperti sekarang?”

Tapi aku yakin, semuanya akan baik-baik saja.

Yang akan terjadi kemudian adalah yang terbaik dan yang menyenangkan, seperti yang aku pikirkan saat ini.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "'Melakukan yang Aku Sukai' atau 'Menyukai yang Aku Lakukan'?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nisrinays | @nisrinaputri

A mellow real life writer at putrinisrina.com. A romance lover writer at sembarimenungguhujanreda.blogspot.com.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Erny Kurniawati | @ernykurniawati

baca tulisanmu pagi-pagi jadi bahan renunganku nih Nis. Keep writing.