1K
In order to understand, I destroyed myself. - Fernando Pessoa

Apa yang terlintas dalam benak kita saat mengingat kegagalan yang telah kita alami dalam hidup ?

Sedih? Marah? Kecewa? Menyesal?

Tentu saja, karena kita adalah makhluk berperasaan.

Semua orang tentu pernah gagal dalam hidup. Entah kegagalan kecil atau kegagalan besar. Ada yang menyikapi kegagalan dengan reaksi ekstrem, namun ada pula yang tenang saja menyikapinya; bahkan semakin termotivasi dengan kegagalan yang dialami.

Tak terkecuali saya.

Kegagalan yang saya alami dalam hidup tak terhitung jumlahnya.

Dulu, saya berpikir bahwa kegagalan sama dengan kesialan. Saya gagal karena saya sedang sial. Yang namanya kesialan harus dibuang jauh-jauh. Namun, lambat laun saya mulai tersadar, kegagalan adalah tempat bagi saya untuk belajar.

Saya percaya, kelahiran saya ke dunia ini adalah untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Namun, terkadang, dalam dualitas, saya tidak akan mampu sepenuhnya menjadi orang baik tanpa cela. Kadang, saya juga gagal menjadi orang baik.

Saat saya gagal, dalam hal apapun, dapat dipastikan hati dan perasaan saya hancur. Kadang tubuh saya pun hancur dibuatnya.

Tapi yang saya tidak sadari adalah, jiwa saya (seharusnya) baik-baik saja. Saat saya gagal, artinya Tuhan ingin saya belajar. Belajar bahwa dalam hidup tak hanya kebahagiaan yang ada. Belajar untuk kuat sehingga apapun yang terjadi, saya tetaplah orang yang sama.

Lalu bagaimana dengan membenci setelah adanya kegagalan? Bila saya membenci, berarti saya tidak mau belajar. Saya terhenti dalam kungkungan energi negatif yang merugikan diri sendiri, juga orang lain. Ketika saya membenci, hidup jadi terasa semakin berat dan melelahkan.

Dengan ketiadaan benci di hati, langkah saya begitu lapang. Hati saya terasa bersih dan ringan.

Saya pun tidak akan membenci diri saya sendiri karena telah gagal berulang kali. Bagaimanapun, tubuh saya adalah pembungkus jiwa. Sarana yang dapat saya gunakan untuk melakukan tindakan baik di alam semesta. Dan kini, semakin saya sadari bahwa tempaan kegagalan yang saya terima selama 28 tahun hidup saya bertujuan untuk kebaikan saya sendiri.

Saya tidak sabar menanti pelajaran baru apa yang akan saya dapatkan di tahun yang baru ini!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Mari Bergandeng Tangan dengan Kegagalan!". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar