4.4K
"To the mind that is still, the whole universe surrenders." (Lao Tzu)

Lahir, sekolah, (mungkin) kuliah, bekerja, menikah, memiliki anak, menjadi tua, dan pada akhirnya mati. Saya paham bahwa siklus hidup manusia pada umumnya seperti itu. Kita sekolah dengan tujuan kelak bisa menjadi manusia berguna dan memiliki pekerjaan bagus. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bersosial. Tidak ada yang salah dengan siklus ini. Tapi, apakah saya salah jika memiliki pandangan berbeda?

Saya seorang perempuan Indonesia yang saat ini berusia 26 tahun. Kita tahu, kan, usia ini pada umumnya adalah usia kebanyakan perempuan Indonesia memasuki jenjang pernikahan. Lantas, apakah berusia 26 tahun dan lajang adalah suatu kesalahan dalam hidup? Jika ya, apa dan siapa yang pantas disalahkan?

Maaf, jika mungkin saya memang memiliki pandangan berbeda dalam hidup.

Tak bisa dipungkiri, saya pun ingin suatu saat bisa menikah dan punya keluarga kecil yang bahagia. Tapi kalau saat ini saya fokus untuk menjadikan diri saya berarti sebagai manusia, salahkah? Ketika saya bermimpi untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri, apakah itu berlebihan?

Saya hanya berpikir, sebelum saya menjadi milik orang lain sepenuhnya biarkanlah saya menjadi milik saya sendiri sepenuhnya. Biarkanlah saya mencintai diri sendiri terlebih dahulu, memberikan kepuasan hati untuk diri sendiri, memenuhi apa yang menjadi potensi diri saya sendiri. Sebelum saya mendidik seorang anak, biarkanlah saya mendidik diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum dunia saya terpusat pada orang-orang yang saya cintai, biarkanlah saya melihat dunia terlebih dahulu dan mencintai sesama, siapa saja, sepenuhnya.

Bagaimana mungkin saya menjadi ibu dan istri yang bahagia jika saya sendiri tidak bahagia? Cerita macam apa kelak yang akan saya sampaikan kepada anak-anak saya, jika saya tidak punya kisah hidup untuk diceritakan? Saya tak mau hanya menceritakan tentang hari-hari saya mengecek Facebook, Path, atau Instagram. Saya ingin mengumpulkan cerita-cerita yang penuh makna untuk mereka, yang akan membuat mereka paham tentang impian, harapan, mimpi, cita-cita, kasih-sayang, kebajikan... tentang cinta. Saya juga sering membatin, bagaimana mungkin saya juga bisa menjadi seorang Ibu yang baik kelak, jika saat ini saya belum bisa menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua?

Dengan pemikiran-pemikiran ini, dengan bahagia dan doa, saya mengiringi kawan-kawan saya yang kini tengah mencari pasangan hidup. Menikahlah, Teman, dan hiduplah dengan bahagia dan penuh cinta. Sementara itu, boleh, kan, saya menjalani hidup ini dengan cara saya sendiri terlebih dahulu?

Maaf, jika saya belum siap untuk menikah.

Ada berbagai cita-cita yang ingin saya gapai, ada tempat-tempat yang ingin saya tuju. Ada orang tua yang ingin saya bahagiakan. Saya tahu kalian mantap memilih mencari pasangan dan menikah--sama mantapnya dengan keinginan saya mengejar cita-cita. Bahagia kalian ketika cincin disematkan di jemari, adalah bahagia saya ketika berdiri di tempat-tempat yang selalu ingin saya gapai.

Mari kita sama-sama berbahagia, meski tak perlu menempuh jalan yang sama. Sampai bertemu, di masa depan. Semoga kita semua hidup berbahagia, apapun jalan yang kita pilih pada akhirnya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Maaf Jika Saya Belum Siap untuk Menikah.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Seraphina Wandita | @seraphinawandita

Life is surreal, but nice.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar