2.6K
Apakah benar bahwa laki-laki tidak boleh menunjukkan kelemahannya?

Suatu hari, seorang teman laki-laki bertanya padaku, "Puji, menurutmu apakah seorang cowok itu nggak boleh baper?"

Kala itu, aku pun langsung menoleh dan mengangkat alis. "Kenapa bertanya seperti itu?"

Temanku ini terdiam sebentar. Lalu, dia pun menjawab, "Aku pernah ditegur karena terlalu terbawa perasaan. Katanya, seharusnya laki-laki itu tidak demikian. Harusnya laki-laki itu lebih kuat dari perempuan."

Jujur, aku meringis mendengar jawabannya.

Aku selalu berpikir bahwa kita ini adalah manusia. Di hadapan Tuhan pun, kedudukan kita sama. Tak peduli kita adalah laki-laki ataupun perempuan. Lalu, mengapa nampaknya masih sulit, ya, melepaskan stigma dan stereotipe berbasis gender seperti itu?

Sejak masuk kuliah, aku merasa lebih ingin tahu dibandingkan sebelumnya. Semua hal yang ada di sekitarku kutelaah kembali, dan aku mencoba memahami. Pendefinisian tentang apa itu normal dan tidak normal (atau kurang normal) terkadang mengusik pemikiranku. Siapa yang sebenarnya menentukan apa yang normal dan apa yang tidak? Dan bagaimana mereka menentukannya? Berdasarkan apa?

Pada akhirnya, aku mulai memahami bahwa tidak semua hal yang dianggap 'tidak normal' bagi masyarakat itu adalah mutlak benar. Aku percaya bahwa ada alasan mengapa ada hal-hal yang kemudian dikatakan 'tidak normal' atau 'kurang normal' hanya karena hal-hal itu tak seperti 'yang kebanyakan'. Alam saja menciptakan banyak hal yang mungkin kita anggap 'ajaib' atau di luar kebiasaan: katakanlah binatang dengan anggota tubuh yang jumlahnya berbeda, atau semanggi yang berdaun empat, dan bukannya tiga seperti lumrahnya.

Jadi, salah satu hal yang cukup mengusikku akhir-akhir ini adalah kesadaranku perihal perbedaan perlakuan berbasis gender terhadap seseorang. Laki-laki seolah dituntut untuk menjadi sosok yang selalu kuat. Sosok yang mampu mengendalikan emosi dan menjadi pihak yang selalu bisa menguasai keadaan. Pihak yang selalu dituntut untuk mengesampingkan perasaan mereka dalam setiap pengambilan keputusan. Sosok yang katanya pantang menangis.

Namun, apakah benar demikian?

Aku rasa tidak.

Aku akui, kebanyakan teman dekatku adalah laki-laki. Bukannya apa-apa, kebetulan aku memang sering bekerja sama dengan mereka. Pada akhirnya, mereka ini menjadi orang-orang yang kupercayai. Tak heran apabila kami sering berbagi cerita. Cerita-cerita yang diperdengarkan pun, akhirnya membuatku memahami satu hal: teman-temanku ini, meskipun mereka adalah seorang laki-laki, tetaplah manusia biasa.

Menurutku, laki-laki juga bisa terbawa peraaan. Mereka bisa menangis dan bersedih. Mereka bisa frustrasi dan depresi. Mengapa aku bisa berkata demikian? Karena nyatanya aku benar-benar mendengar cerita dari mulut mereka sendiri. Mulai dari cerita yang menyenangkan, "Puj, aku kemarin baru menang kompetisi di negara x, loh." Sampai cerita yang membuatku meringis karena aku tak tahu harus merespon seperti apa, "Puj. Gue rasanya pengin mati aja. Gue merasa nggak berguna."

Laki-laki atau perempuan, sebagai manusia, pasti ada beban besar yang sama-sama kita tanggung.

Sayangnya, status teman-temanku sebagai laki-laki, kadang membuat mereka memilih diam, menahan perasaan, dan enggan berbagi. Bahkan, sering aku berpikir bahwa mungkin teman-teman lelakiku ini punya masalah yang lebih berat dibandingkan aku. Akan tetapi, mereka tetap mencoba untuk menutupiny karena masih ada anggapan bahwa tidak seharusnya laki-laki menunjukkan kelemahannya. Tidak seharusnya seorang laki-laki mengeluh, atau mencurahkan isi hatinya.

Aku percaya, tidak mudah bagi seseorang untuk membagikan ceritanya kepada orang lain. Apalagi, ketika ia laki-laki yang sejak kecil, ia dibesarkan dengan perkataan semacam: "Kamu harus kuat. Lelaki tak boleh lemah. Lelaki tak boleh meneteskan air mata."

Dibutuhkan waktu yang tidak singkat untuk teman-temanku lelakiku hingga mereka berani bercerita dan berbagi. Aku percaya, dengan bercerita, beban yang mereka tanggung akan sedikit terangkat. Setidaknya, mereka bisa mengekspresikan diri dan perasaan mereka kepada seseorang. Berbagi beban barang senejak. Aku memang tidak menjanjikan bahwa masalah akan teratasi dengan bercerita, tapi setidaknya, ada perasaan lega yang bisa didapatkan setelahnya.

Pada akhirnya, aku ingin mengatakan bahwa pasti ada sisi lain dari diri seorang laki-laki, begitupun ada sisi lain dari seorang perempuan. Kalau seorang perempuan dipandang tidak selamanya lemah, maka laki-laki pun demikian. Tidak selamanya mereka kuat menghadapi segala hal yang mereka temui sendirian.

Pada akhirnya, laki-laki pun bisa sakit hati. Mereka bisa bersedih dan patah semangat. Mereka juga berhak menangis. Dan menangis bukanlah tanda kelemahan. Kesedihan, terkadang, justru memberikan kita banyak kekuatan untuk menghadapi hidup--baik kita laki-laki, maupun perempuan


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Laki-Laki Juga Berhak Menangis.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Puji P. Rahayu | @PujiPRahayu

The Sun and the Red Glow of the Dawn. Passionate on reading and writing. Grateful for everything that happened in my life.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar